
"Eh brothers, udah dua hari lo babang Leo gw gak masuk." Ucap Alfa. "Eits jangan berpikiran aneh-aneh tuan-tuan, kita semua tahu kalau Leo mengurus perusahaan." Sahut Erik. "Yah bisa jadi, tumben lo ngomong kayak orang bijak." Jodi menyenggol lengan Erik.
"Iya juga yah, Leo sudah dua hari ini Leo tidak masuk. Hmmm, apakah aku harus menemui nya." Gumam Friska menguping pembicaraan Erik, Alfa, dan Jodi. Friska memasang raut wajah khawatir karena kemarin hari ia sempat menolak Leo.
"Hai Friska." Alfa secara tiba-tiba mendatangi Friska.
"Oh, ha-hai Al.Why Al?" Friska kelihatan heran. "Ah gak ada apa-apa,aku cuman punya sedikit pertanyaan." Ucap Alfa sambil tersenyum. "Oh iya silahkan." Ucap Friska. "Eee, jadi gini. Lo ada informasi tentang Leo gak?" Tanya Alfa.
"Informasi, hmm. Aku baru kemarin bertemu dengan Leo, tapi aku tidak tahu apapun karena langsung pergi." Batin Friska.
"Hei.Masih ada orang kan?" Alfa melambaikan tangannya ke depan wajah Friska.
"Ah, i'm sorry Al. Gw gak tau soal dia." Ucap Friska yang tersadar dari dunianya sendiri.
"Oh gitu ya, ya udah deh apa boleh buat." Ucap Alfa berlalu pergi.
"Kemana lelaki itu pergi. Kenapa aku malah khawatir, astaga tidak, tidak. Aku tidak mungkin, uh aneh." Gumam Friska.
Friska melihat kearah ponsel nya. "Biasanya dia memberi kabar, tapi kenapa sekarang tidak." Gumam Friska.
......................
Akhirnya jam pulang tiba. Terlihat Friska berdiri mematung didepan gerbang sekolah.
"Kemana dia, aku bingung kenapa dia slalu datang dalam pikiran ku. Aku menolak nya apakah aku salah, aku hanya menolak bukan menyuruhnya pergi. Manusia yang aneh." Gumam Friska sambil menghela nafasnya.
__ADS_1
"Nyonya Friska." Tegur seseorang. "Ayah kemana?" Tanya Friska kepada Alan bodyguard kepercayaan ayah. "Oh tuan besar sedang ada meeting, jadi saya yang disuruh menjemput nyonya." Jelas Alan. "Oh meeting." Balas Friska singkat.Friska langsung memasuki mobil dengan pikiran yang masih penuh dengan pertanyaan keberadaan Leo yang menghilang secara tiba-tiba.
Diperjalanan hanya ada kesunyian.
"Alan apakah aku boleh mengajukan pertanyaan?" Friska membuka pembicaraan.
"Yah tentu nyonya." Sahut Alan. "Emm, ayah sekarang meeting dengan siapa?" Tanya Friska. "Oh itu, ada beberapa perusahaan yang hadir untuk melakukan kerja sama." Jawab Alan. "Ooh, ah iya apakah kau tau tentang anak yang seusia ku namun dia sudah memiliki perusahaan?" Tanya Friska lagi. "Tidak mungkin Alan tidak tahu." Gumam Friska.
"Seusai nyonya?" Alan terlihat heran. "I-iya, memangnya kenapa?" Friska balik bertanya karena bingung melihat ekspresi Alan. "Manusia?" Alan keterangan. "Eh, maaf Alan maksud nya, terlihat seperti satu kelas dengan ku." Ucap Friska lagi. "Hmmm, seperti nya ada dari perusahaan Y.M, dan ada juga dari perusahaan U.T." Jawab Alan. "Siapa dari perusahaan Y.M?" Tanya Friska lagi. "Oh anda tidak mengenalnya yah,dia adalah Leo Eduardo, anak dari tuan Eduardo." Jelas Alan. "What, aku baru tahu. Kalau itu perusahaan yang di naungi oleh keluarga Eduardo, sangat berkelas pantas saja Leo tidak masuk untuk dua hari ternyata ada hal penting." Gumam Friska.
"Nyonya ayo turun, kita sudah sampai." Ucap Alan sembari membukakan pintu untuk Friska, dan membangunkan lamunan Friska.
"Oh, iya." Sahut Friska.
......................
Ting... "Notifikasi pesan?" Gumam Friska sembari melihat sebuah pesan yang masuk.
"Leo! Aaaaa, Dia, dia. Aku kenapa." Gumam Friska dengan wajahnya yang memerah.
Pesan: "Hai nona."
"Cih aneh." Gumam Friska. Friska langsung memberikan respon.
"Apa." Jawaban singkat. "Eh galaknya, apakah kau sedang marah?" Tanya Leo. "Cepat sekali dia membalas pesanku." Gumam Friska sambil tersenyum. "Apa perduli mu." Balas Friska. "Aku memperdulikan mu, setelah urusan ku selesai aku akan menemui mu." / "Oh begitukah,kau tidak perlu menemui ku." Friska membalas dengan pesan singkat. "Wah kau menyakiti hati ku."/ "Aku tidak perduli." / "Ada sesuatu yang penting untuk aku bicarakan." Leo tetap membalas dengan kehangatan walaupun sikap Friska dingin.
__ADS_1
"Manusia aneh!" Gumam Friska.
...------------------...
"morning, happy weekend.Aku menunggumu di cafe Aluna jam 1 siang." Sebuah pesan masuk di ponsel Friska. Sementara Friska masih tertidur pulas.
Tok. tok.. "Friska! Bangun sudah jam 9 pagi, mau sampai kapan tidur. Hei kelelawar!" Teriak ibu. "Ah, aku masih ingin tidur!" Gerutu Friska. "Hei, Hei. Bangunlah sebelum aku meminum darah mu." Ucap Ibu. "Itu hal yang tidak normal." Sahut Friska. "Cepat lah." Ucap ibu sambil menggedor pintu Friska. "Iya baiklah." Friska pasrah karena tidurnya sudah terganggu.
Friska berjalan sempoyongan kekamar mandi.
"Air kenapa, kenapa kau begitu dingin. Aku memakai air hangat sesudahnya aku tetap kedinginan, aku memakai air yang sangat dingin tidak menjadi hangat. Yang ada hanyalah rasa dingin." Gumam Friska sambil menguap, yah kelihatannya Friska masih mengantuk.
......................
Sekitar 10 menit akhirnya Friska keluar dari kamar mandi.
Friska menggapai ponselnya yang terletak diatas meja tempat lampu tidur nya.
"Leo?" Gumam Friska. "Ketemu! Cafe! Wah aaaaaaaa tidak tidak, aku harus tetap elegan." Gumam nya lagi.
...----------------...
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba.
"Aku sudah bersiap-siap, hmm sisa waktu hanya 15 menit. Yah aku akan berangkat." Gumam Friska.
__ADS_1
"Wah cantiknya anak ibu,dan Friska menanggapinya dengan senyuman." Puji ibu. "Mau kemana?" Tanya ibu. "A-aku, aku mau pergi keluar bersama teman." Friska menjawab gugup. "Oh, siapa? Sepertinya kamu terlihat nervous." Ucap ibu. "Ah bukan siapa-siapa." Sahut Friska sambil tertawa kecil. "Aku akan pergi sekarang. Aku pamit. Ah iya, aku akan pergi sendiri." Ucap Friska. "Hati-hati." Balas ibu.
...****************...