
Hari berikutnya.
Terlihat Friska tengah bersiap-siap untuk pergi kesekolah, wajah Friska terlihat cerah, seperti matahari pagi yang menyapanya.
Ting.... Notifikasi pesan masuk di ponsel Friska.
"Hm jangan lagi!" Gumam Friska sembari melihat pesan yang masuk.
"Morning nona." / "Leo! Hah..... Aku, jantung, jantung kembali lagi, astaga perasaan ini." Gumam Friska.
"Yah sudahlah tidak usah dibalas, lagipula aku akan bertemu dengan nya." Gumam Friska.
......................
Sesampainya disekolah hanya ada beberapa murid dikelas termasuk Leo yang sedang melihat keluar jendela. Friska hanya diam didepan pintu ruangan kelas.
"Leo, Leo! Kenapa dia sampai lebih dulu." Gumam Friska.
Friska melangkah dengan pelan menuju mejanya. "Jangan sampai dia melihat ku." Gumam Friska.
"Kau lama sekali." Leo menoleh kearah Friska.
"Hehe, aku, aku. Ah ini belum terlambat kan, lagipula masih pagi." Ucap Friska gugup tanpa alasan. "Lainkali ayo pergi bersama." Leo mendekat kemeja Friska.
"Oh i-iya lainkali jika bisa." Friska tersenyum.
"Manusia ini, aku mengambil konsekuensi yang besar untuk menerima nya. Dan sekarang aku tidak tahu masalah apa yang harus ku hadapi dari ayah, ibu bahkan keluarga yang lain." Gumam Friska.
"Ternyata aku benar-benar tampan,lihatlah wanita ku melihat dengan takjub." Bisik Leo. "Heh, menjauhlah aku merinding jika kau mendekati ku." Friska langsung mendorong tubuh Leo.
"Hei bro! Wah masih pagi udah ngeliat orang kasmaran." Ucap Alfa. "Fresh muka lo." Sahut Leo. "Ini berkat tidur tepat waktu." Ucap Alfa lagi. "Hooh sekarang lo berubah." Agha merangkul Alfa. "Iya, eh lo tau gak temen lo ini kangen sama lo." Ucap Alfa. "Gw juga, tapi baru gw tinggal sebentar." Balas Leo.
"Ehem, gak enak ni hawanya." Alfa melirik kearah Friska.
"Eh e, gak apa-apa. Lanjutin aja." Ucap Friska.
Leo dan Alfa tengah berbincang dan banyak siswa yang suda berdatangan. Kini ruangan yang kosong telah terisi penuh.
"Pajak jadian nya mana brother?" Tanya Erik kepada Leo. "Jangan diminta, Leo pasti gak mau ngasih." Ucap Jodi. "Hei, komentarnya dijaga." Sahut Leo. "Gw gak nyangka deh sama brother kita yang satu ini." Ucap Jodi. "Tidak bisa disangka-sangka ternyata memendam perasaan, setelah lolos dari perjodohan." Alfa menyikut lengan Leo. "Udah, udah. Gimana kalo nanti pulang sekolah kita ke klub bareng." Ucap Jodi. "Ide bagus." Erik membuka suara. "Oke, oke." Leo menganggukkan kepalanya.
......................
Jam istirahat, Leo dan Friska tengah mengobrol lebih tepatnya Leo mengganggu Friska.
"Stop, gw bunuh lo kalo masih ngeganggu gw." Ucap Friska. "Ngeganggu lo itu harus, hmm gimana yah sebagai kegiatan seharian gitu." Ucap Leo sambil tertawa kecil. "Ish aneh." Cetus Friska.
"Kantin yuk, makan bareng." Ajak Leo. "Cih males." Balas Friska. "Ya udah." Leo berlalu pergi.
"Lah, ditinggal lagi." Gumam Friska.
__ADS_1
Ting.... Notifikasi pesan dari ponsel Friska.
"Cepetan sini, jalan sendiri." / "Ogah." Friska membalas singkat pesan Leo.
...----------------...
Jam berlalu akhirnya jam pulang tiba.
"Fris mau bareng gak?" Tanya seorang wanita, yah teman Friska yang satu kelas dengan nya.Dia adalah Kelin. "Iya duluan aja!" Sahut Friska sambil tersenyum kepada kelin.
Tok.. tok.. "Eh?" Friska yang sedang merapikan buku-buku nya terkejut mendengar suara ketukan pintu.
"Hai, belom pulang?" Tanya seseorang yang tidak lain adalah Leo. "Kukira siapa." Friska menghela nafasnya. "Memang siapa yang kau harapkan?" Leo mendekatkan wajahnya ke depan wajah Friska. "Eh hehe, tidak ada." Friska sedikit menjauh karena merasa risih. "Oh." Leo menanggapi singkat.
"Kau sepertinya menyukai novel." Leo melihat buku-buku yang ada di tas Friska. "Ah iya, aku sedikit menyukainya." Ucap Friska. "Ummm, apakah kau lebih menyukai novel-novel ini?" Leo meletakkan satu jari di dagunya dan melihat tajam. "Oh, aku bilang aku hanya sedikit menyukainya." Friska menjawab dengan tenang. "Kau lebih menyukai yang mana antara aku dan novel ini?" Tanya Leo lagi. "He-hei, pertanyaan macam apa itu.Tidak masuk akal." Ucap Friska memalingkan wajahnya. "Kau harus memilih." Leo menggandeng tangan Friska. "Aku tidak mau." Ucap Friska mencoba melepaskan tangannya. "Kalau kau tidak memilih berarti kau wanita yang serakah yah." Leo melirik wajah Friska. "Ahaha oh sudah tentu, jadi wanita memang harus serakah. Jika tidak maka tidak akan mendapatkan apa-apa." Friska tertawa. "Oh begitu ya, hmm bagaimana yah aku tidak menyukai wanita yang serakah." Ucap Leo melepaskan pegangan tangan nya dari Friska dan melangkah pergi.
"Hei! Itu urusan mu jika kau ingin wanita yang kau mau cari saja diluar sana ada banyak!" Teriak Friska kepada Leo.
"Wah marah, ayo cepatlah kita akan pulang." Ucap Leo dengan tenang. "Cantik." Gumam Leo.
"Cih ingin rasanya aku membunuh manusia ini." Gumam Friska yang berjalan dibelakang Leo.
"Kau marah? Jika itu iya berarti kau menginginkan ku." Ucap Leo. "Eh, aku marah bukan berarti aku menyukaimu. Aku bisa marah dengan orang lain." Ucap Friska pelan.
Leo kembali menggandeng tangan Friska. "Hm tangannya sangat dingin cowok cool yang sesungguhnya." Gumam Friska. Keduanya berjalan pelan dan santai menuruni tangga dan melewati koridor yang panjang. Dan sesekali mereka memandang keluar jendela.
"Kia! Berhasil, akhirnya aku menyentuh wajah Friska." Gumam Leo sambil tersenyum.
"Hei lepaskan tangan mu. Kenapa kau tersenyum begitu?" Ucap Friska. "Ah maaf, aku hanya ingin menyentuh wajah mu." Leo berbicara jujur dan melepaskan tangannya dari wajah Friska.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Leo.
Ting. "Eh maaf sebentar aku memeriksa pesan masuk." Ucap Leo sambil mengambil ponsel di sakunya.
"Tuan aku sudah punya dokumen tentang wanita itu. Sesui dengan yang tuan mau."/ " Bagus, Enzo memang bisa di andalkan dalam keadaan apapun." Gumam Leo.
"Friska ayo pulang." Leo kembali menggandeng tangan Friska. "Yah, tapi tadi." / "Aku sekarang slalu ada di sisimu jadi kau bisa bertanya apapun itu." Leo kembali memotong kata-kata Friska.
Sesampainya diluar. "Ada apa?kenapa kau begitu terburu-buru." Friska berhenti berjalan dan menarik tangannya. "Ma-maafkan aku, aku tidak menyadari nya. Aku punya urusan, dan harus cepat diselesaikan." Ucap Leo. "Jika begitu, kau pulang saja lebih dulu. Aku akan meminta supir menjemput ku." Balas Friska. "Aku mohon ini bukan saatnya bertengkar,baiklah aku minta maaf. Ayo pulang." Ucap Leo namun Friska tidak menggubris ucapan Leo. Friska hanya menghela nafasnya saja.
...----------------...
Sesampainya dirumah Leo tetap tidak bisa santai karena memikirkan pesan yang diberikan oleh Enzo.
"Wanita itu." Gumam Leo.
"Tuan." Sapa Enzo. "Tunggu aku di ruangan nanti aku akan kembali." Ucap Leo. "Baik tuan." Balas Enzo.
......................
__ADS_1
"Apa yang kita miliki disini." Leo membuka selembar demi selembar kertas yang diberikan oleh Enzo. "Deria, itu namanya?" Tanya Leo. "Iya tuan, disana juga telah dirangkum alamatnya." Jawab Enzo. "Biarkan aku mendengar penjelasan mu." Leo membanting kertas-kertas itu keatas meja.
"Jadi wanita yang ingin tuan cari tahu namanya adalah Deria, umurnya sekitaran 38 tahun, dia sudah memiliki anak, anaknya sekarang bersekolah di SMA yang tuan besar dirikan." / "Tunggu dulu, dia mendirikan satu sekolah lagi namun itu belum selesai dibangun. Berarti kemungkinan besar dia ada di tempat ku." Leo berpikir keras. "Iya tuan.Namun setelah diselidiki ada hal yang mengejutkan." Ucap Enzo sambil mengambil kertas diatas meja.
"Sandrina?Itu putrinya?" Leo terkejut. "Iya tuan, Sandrina.Setelah diselidiki lagi ternyata itu adalah putri kandung antara tuan besar Eduardo dengan istrinya Deria." Jelas Enzo. "Menikah?" / "Iya tuan mereka menikah sirih." Ucap Enzo.
"Jadi tidak lama menikahi ibu, dia langsung menikahi wanita itu.Lanjutkan Enzo." Ucap Leo setelah berpikir panjang. "Baiklah tuan. Tepatnya setelah seminggu menikahi nyonya tuan besar menikahi wanita itu. Namun tidak ada media yang mengetahui nya, semuanya tersembunyi dengan rapat tanpa cela apapun. Sebenarnya pernah salah satu media mencari tahu, namun gagal. Perlindungan yang dimiliki oleh tuan besar sangatlah kuat, bahkan rekan kerjanya tidak mengetahui tentang hal itu. Tapi tuan ada satu orang yang tahu tentang itu, dia adalah manajer perusahaan." Jelas Enzo.
Terlihat Leo berfikir sangat lama.
"Siapa nama manajernya?" Leo membuka suara. "Alden." Jawab Enzo. "Ayo cepat ikuti aku." Leo langsung berdiri dan berjalan dengan cepat.
......................
"Leo mau kemana anak mamah?" Sapa ibu yang baru datang. "Eh mah, Leo ada urusan yang mendadak." Jawab Leo.
"Hadeh anak ini, mamah nya baru pulang bukan nya disambut malah dia lagi yang pergi." Ucap ibu pelan sambil menghela nafasnya.
...----------------...
"Tuan, kenapa kita kekantor?" Tanya Enzo bingung. "Tebak lah." Ucap Leo dan segera keluar dari mobilnya.
"Emang pemikiran bos muda sangat cerdik." Gumam Enzo sambil mengikuti Leo.
......................
"Tuan." Sapa seorang wanita sambil membungkukkan tubuhnya.Dan Leo hanya membalas dengan senyum.
Leo berjalan dengan cepat menuju ruangan manajer.
Ckalk. Tanpa mengeluarkan kata-kata Leo langsung membuka pintu ruangan itu. "Kosong!" Ucap Leo.
Leo kembali berjalan dengan cepat nya menuju ruangan staff yang lain.
"Dimana manajer Aldan!" Teriak Leo.
"Tuan." Enzo terkejut melihat Leo yang penuh dengan amarah.
"Apakah kalian tidak dengar! Aku bertanya dimana Aldan!" Teriak Leo lagi. Teriakan Leo membuat seluruh staf dalam ketakutan, karena tidak ada yang tahu bagaimana sifat Leo yang sebenarnya.
"Tu-tuan beliau telah mengundurkan diri sehari yang lalu." Seorang staff wanita memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Leo. Walaupun dengan nada yang gemetaran dan rasa takut yang menyelimuti seluruh tubuh nya.
"Wah, wah. Mengundurkan diri yah, sangat licik." Leo tersenyum kecil.
"Tuan apakah anda baik-baik saja?" Tanya Enzo memberanikan diri. "Um... Yah tentu, ayo kita pergi dan memberikan kado kepada manajer. Karena dia sudah bekerja keras diperusahaan ini." Ucap Leo sambil tersenyum. "Oh yah, yang lain silahkan lanjutkan pekerjaan. Dan jangan merasa takut kepada ku." Ucap Leo lagi.
"Enzo cari tahu lagi, lebih banyak data mereka." Titah Leo sambil berjalan. "Baik tuan." Sahut Enzo.
...****************...
__ADS_1