
"Lo mau ngapain temen gue, hah!?" Calvin siap memberi pukulan yang keras pada Reyga.
"Eh, enggak gitu. Gue cuma berusaha bangunin dia," ucap Reyga mencegah Calvin.
"Bohong lo!"
"ENGGAK!"
Hampir saja wajah tampan Reyga ini bonyok karena ulah Calvin, namun untungnya Aluka bangun dari tidurnya.
"Calvin, Reyga?"
"Eh, luka lo udah bangun?" tanya Reyga.
"Kok kalian ada di sini?"
"Lo yang kenapa ada di sini, izinnya ke kamar mandi.Tapi lama banget, sampai istirahat." Reyga menjelaskan.
"Kalau gue, karena ngeliat nih bocah mau ngapa-ngapain lo," ucap Calvin.
"HAH?" Aluka terkejut, ia lantas menampar Reyga.
"Aduh, Luka!!!" teriak Reyga.
"Dengerin gue, gue gak maksud ngapa-ngapain lo. Gue cuma mau bangunin lo doang, udah," ucap Reyga sambil memegang pipinya yang ditampar Aluka tadi.
"Huh? Sorry, gue gak tahu." Aluka menarik tangannya.
"Lagian lo kenapa sih? Dari tadi murung mulu," tanya Reyga.
"Gak apa-apa," jawab Aluka.
"Emang Luka kenapa?" tanya Calvin.
"Gak apa-apa gue bilang," jawab Aluka.
"Emang Luka kenapa?" tanya Calvin.
"Gak apa-apa gue bilang," jawab Aluka.
“Gue ke kelas dulu,” ucap Aluka meninggalkan Reyga dan Calvin.
“Aluka kenapa? Lo apain?” tanya Calvin.
“Lah, gue juga gak tahu bang,” jawab Reyga.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong lo siapa? Kayaknya gue gak pernah ngeliat lo,” tanya Calvin.
“Gue Reyga, anak baru di kelas Aluka,” jawab Reyga.
“Oh.”
“Gue duluan ya bang,”
“Yaudah.”
***
Aluka pov
Hujan masih mengguyur bumi, walaupun bel pulang sekolah telah berbunyi lima belas menit yang lalu. Aluka menunggu Diana di depan koperasi sekolah, sambil menggosokkan telapak tangannya untuk menghangatkan badannya.
Dengan tangan yang kedinginan Aluka masih menatap kosong pemandangan sekolahnya yang terguyur hujan, dan Calvin datang dan duduk di samping Aluka.
“Luka?” panggil Calvin sambil memiringkan kepalanya.
“Apa?” tanya Aluka yang masih menggosokkan tangannya.
“Lo kedinginan?” tanya Calvin.
“Hm,” jawab Aluka tanpa mengeluarkan sepatah kata.
“Sama-sama,” ucap Calvin.
“Lo kenapa sih? Kalau ada masalah lo bisa cerita ke gue,” ucap Calvin.
Aluka diam sejenak, ia bukan tipe orang yang mudah menceritakan masalah pribadinya pada orang yang tidak dekat dengannya. Setelah berpikir matang, akhirnya Aluka berbicara.
“Orang tua gue mau cerai,” ujar Aluka.
“Hah? Serius!?” ucap Calvin yang terkejut bahkan ia sampai berdiri.
“Bisa diem aja gak?”
“Eh maaf.” Calvin kembali duduk dan mendengarkan cerita Aluka.
Aluka menarik nafasnya dalam, “Bokap gue selingkuh, jadi nyokap gue milih pisah.”
“Terus lo gimana?”
“Gue disuruh milih antara nyokap sama bokap gue, gue gak tahu, gue bingung. Gue gak mau mereka pisah, tapi gue juga gak mau ngeliatn nyokap gue nangis kayak kemarin lagi, untuk saat ini gue sama nyokap tinggal di rumah yang nyokap gue beli dulu,” jelas Aluka.
__ADS_1
“Gue turut duka cita ya,” ucap Calvin.
"Emang kejadiannya kayak gimana?” tanyanya.
“Hm, gue sendiri juga gak tahu masalah mereka sebelumnya gimana. Tapi yang jelas kemarin bokap gue bawa selingkuhannya ke rumah.”
“Ya ampun Luka, kasihan banget sih lo.” Calvin merasa sangat iba terhadap Aluka.
“Calvin,” panggil Reki yang keluar dari koperasi sekolah.
Calvin dan Aluka spontan menoleh, Calvin hanya menaikan alisnya sebagai jawaban.
“Lo ngapain?” tanya Reki.
“Nungguin hujan,” jawab Calvin.
Reki melirik Aluka yang tidak memandangnya, jujur saja Reki tidak membenci Aluka hanya saja ia mudah terbawa suasana. Reki duduk di samping Calvin, dan menyuruh Calvin untuk bergeser.
“Lo ngapain?” tanya Calvin.
“Duduk doang, emang gak boleh?” tanya Reki.
“Ya, gak apa-apa sih.”
Hening.
Semua fokus pada ponselnya masing-masing. Karena Diana sudah berada di depan gerbang, Aluka langsung pergi tanpa bicara.
“Gak sopan banget,” ucap Reki yang melihat Aluka pergi tanpa kata.
“Wajar, gue kalau jadi dia, udah gue tonjokin sampai babak belur lo,” ucap Calvin dan ikut pergi.
Aluka masuk ke mobil tanpa bicara apa-apa pada ibunya, begitu juga dengan Diana. Keheningan menyelimuti mereka berdua, sampai akhirnya Diana membuka pembicaraan.
“Gimana kabar kamu?” tanya Diana.
“Baik,” jawab Aluka.
Percakapan macam apa ini? Sebegitu renggangkah hubungan mereka? Sampai-sampai canggung untuk berkomunikasi. Hanya dua dialog yang diucapkan, lalu keadaan kembali hening.
Aluka membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal jepit, ia membersihkan dirinya menyiapkan makanan untuk makan malam, walaupun hanya nasi goreng biasa dengan telur mata sapi di atasnya. Bukannya mereka tidak punya uang untuk membeli bahan makanan, mereka hanya tidak punya waktu. Dan jika memesan makanan online, akan memakan waktu yang lama.
Sedangkan Diana harus kembali keluar untuk mengurus pekerjaannya.
Lagi dan lagi keheningan menyelimuti mereka berdua, Aluka ingin berkomunikasi dengan ibunya, namun ia tidak tahu bagaimana cara ia mengungkapkan perasaannya. Keheningan itu berlangsung sampai mereka selesai makan, barulah Diana dan Aluka berbicara. Itu juga sebatas ucapan selamat malam.
__ADS_1
Seperti biasa, Aluka memandangi langit malam sebelum tidur. Setelah puas bercerita dengan langit dan kegelapan, ia pun pergi tidur.
Saat sinar matahari menyapa, Aluka bangun dan bersiap untuk sekolah seperti biasanya. Rutinitas ini terus berulang.