
Calvin memiringkan kepalanya.
“Kok lo bisa ngomong kayak gitu? Bukannya lo sahabatnya dia? Kenapa lo mau Reki putus sama Adelia? Apa jangan-jangan-“
“Stop, ucapan lo selanjutnya itu pasti bakalan bikin gue jijik. Singkat aja, gue sahabatnya Reki gue pasti mau yang terbaik buat dia. Apa lagi, dia punya aura yang kuat, gue Cuma gak sudi aja dia punya pasangan yang kelakuannya kayak ****** gitu, yaudah gue duluan mau ngerjain PR Kimia dulu, byee.”
“Dih, anak stres,” gumam Karin.
“Udah, gak usah dipikirin. Masih banyak laki-laki yang lebih pantes buat lo.” Karin menarik Aluka untuk duduk kembali.
***
Saat ini Aluka sedang berada di dalam zona kejenuhan. Penjelasan dari guru geografinya sangat membuatnya kesal dan mengantuk. Pasalnya gurunya tidak menjelaskan apa yang seharusnya ia ajarkan, ia hanya menyindir dan memanasi muridnya, itulah yang membuat Aluka lebih memilih mendengarkan lagu menggunakan earphonenya. Beruntung rambut Aluka bisa menutupi earphonenya sehingga guru tersebut tidak mengetahui bahwa Aluka mengabaikannya.
Namun, tiba-tiba Aluka dipanggil untuk menjawab pertanyaan dari guru geografinya. Karena suara musik yang didengarkan Aluka terlalu keras, Aluka tidak mendengar bahwa gurunya memanggilnya. Ia masih menatap guru geografinya yang sedari tadi meneriaki nama Aluka. Aluka baru tersadar ketika Karin menyenggol Aluka dengan keras.
“Hah, apa sih?” tanya Aluka pada Karinl dan mematikan musiknya.
“Itu lo dipanggil guru, bego!” jawab Karin kesal pada teman bolotnya ini.
“Hah?” sontak Aluka melirik ke arah gurunya yang sudah badmood.
“Kamu dari tadi ibu panggil juga!”
“Saya bu?” tanya Aluka dengan tampang polos tanpa dosa.
“Iya kamu! Masa bapak mu.”
“Ada apa ya bu?”
“Ada apa, ada apa. Kamu sekarang berdiri di depan tiang bendera sampai jam pelajaran ibu selesai!” murkanya.
“Saya minta maaf bu,” ucap Aluka.
“Saya tidak peduli, cepat keluar.”
Dengan terpaksa Aluka keluar dari kelasnya dan berdiri di depan tiang bendera. Untungnya waktu pelajaran geografi tinggal 30 menit saja, namun saat ini kelas XII MIPA 1 sedang berololahraga, dimana Reki, Calvin dan Adelia berada.
“Eh, liat itu bukannya cewek yang ditolak Reki?” tanya segerombolan cewek dari kelas Reki.
Adelia yang mendengarnya langsung melirik ke Aluka yang sedang berdiri di depan tiang bendera.
“Heh cupu! Di hukum lo?” teriak Adelia dari bawah pohon.
__ADS_1
Aluka tidak mendengarnya, karena lagi-lagi ia memilih mendengarkan musik dibanding suara nenek lampir. Karena tidak melihat adanya respon dari Aluka, Adelia menghampirinya dan mendorong Aluka pelan.
“Heh!”
Aluka yang sedang mendengarkan musikpun menoleh karena tubuhnya terdorong.
“Apaan sih?”
“Hahaha, pasti lo lagi dihukum kan, cewek bodoh kayak lo mau nyaingin gue? Mimpi!”
“Lo stres? Dateng-dateng langsung ngatain orang?”
“Cih, gak usah belagu lo. Gimana kalau kita lomba lari?” tantang Adelia.“Yang kalah, berlutut dan minta maaf sama yang menang.”
“Hah? Ogah!” Aluka menolak, bukannya ia tak berani hanya saja saat ini ia sedang malas.
“Takut? Dasar cupu! Ahahaha.”
“Aduh bacot, suka-suka lo aja.”
Adelia semakin memanas, ia hampir hilang kendali dan ingin menampar Aluka, namun Calvin datang dan menahan Adelia.
“Apaan sih lo? Gak usah ikut campur!” ucap Adelia sambil melepaskan tangannya dari genggaman Calvin.
“Calvin,” panggil Reki yang baru saja kembali dari ruang olahraga karena mengmbil bola basket.“Lo ngapain megang-megang cewek gue?”
“Lo tanya sama cewek lo,” jawab Calvin.
“Aku Cuma mau nantangin Aluka lomba lari doang kok, tapi aku malah ditampar sama dia. Pas aku mau balik tampar tiba-tiba Calvin nahan aku,” ucap Adelia berbohong sambil memegang pipi kanannya.
“Aluka lo-” belum sempat Reki menyelesaikan ucapannya, Aluka langsung memotongnya.
“Nampar?” sahut Aluka.
“Gak usah sok polos!” Adelia mencoba membuat suasana semakin panas.
“Oke, nampar pake tangan apa?” tanya Aluka.
“Ya jelas tangan kanan lo lah,” jawab Adelia.
“Kenceng atau pelan?”
“Kenceng! Lo dendam kan sama gue, gak usah nyari celah buat ngelak!”
__ADS_1
“Oke.”
“PLAKKK.”
Aluka menampar Adelia dengan sangat keras menggunakan tangan kanannya.
Semua orang terkejut, “LUKA!”
“Apa? “ tanya Luka.
“Lo berani ya?!” tanya Reki.
“Lo boleh sayang sama dia, tapi jangan bego. Yang pertama, dia bilang gue nampar dia pake tangan kanan, tapi dia malah megang pipi kanannya. Yang kedua, kalau gue nampar dia kenceng kayak tadi, lo liat bedak dia luntur semua dan bekasnya masih ada. Dan yang ke tiga, gue gak nampar dia tadi, kalau sekarang sih ya... seperti yang lo liat.”
Reki termenung.
“Sayang, kamu jangan percaya dia itu manipulatif!” Adelila menarik tangan Reki.
“Reki, gue udah sering nasehatin lo. Bukti bahwa Adelia selingkuh berkali-kali juga udah gue kasih, lo masih belum bisa buka mata lo?” tanya Calvin.
“Gue-”
“Lo iri kan sama Reki, lo mau ngancurin hubungan kita karena dulu lo pernah suka juga sama gue!” sergah Adelia.
“WTF, lo dapet gosip murahan kayak gitu dari mana setan? Gila lo ya!”
“Udah cukup! Bubar aja, anggap gak ada kejadian disini.”
“Cih,” decak Calvin dan menarik Aluka ke kantin. Masih ada 10 menit sebelum jam perlajaran geografi habis. Calvin membelikan minuman untuk Aluka dan Aluka menerimanya.
“Sekarang lo paham kan kenapa gue mau Reki sama Adelia itu putus?” tanya Calvin.
“Hm.”
“Jadi gimana? Lo masih suka kan sama Reki?”
“Iya, tapi jangan samain gue sama dia, setelah apa yang dia lakuin ke gue, gue bakalan ngejar dia? Gak!”
“Please, gue mohon banget sama lo.”
“Sorry vin, gak bisa. Gue duluan ya.”
Aluka meninggalkan Calvin karena jam pelajaran sudah berganti, sudah saatnya Aluka masuk ke kelasnya kembali.
__ADS_1