Luka Alaska

Luka Alaska
LEMBARAN - 16


__ADS_3

Aluka menuruni anak tangga satu persatu, ia meninggalkan panggung yang telah ia obrak abrik dengan nyanyian sendunya. Diana langsung menghampiri Aluka dan memeluknya.


"Maafin mama ya," ucap Aluka.


"Bukan salah mama kok, memang sudah takdir." Aluka berusaha terlihat kuat.


"Aluka," panggil Rafael.


Rafael dengan istri dan anak tirinya mendekat.


"Papa," ucap Aluka lirih.


"Selamat ya, penampilan kamu luar biasa." Rafael memuji penampilan Aluka.


"Terimakasih pa, ini juga berkat papa. Yang memberikan Aluka luka yang begitu dalam, terlebih saat ini papa membawa ****** ini dihadapan Aluka," ucap Aluka.


"Luka," ucap Rafael memperingati.


"Jadi ini alasan papa gak mau nerima undangan Aluka? Adelia anak tiri papa kan?" tanya Aluka.


"Oh, jadi kalian saling kenal?" tanya Rafael.


"Iya pi, Aluka ini yang ngejar-ngejar pacar aku," sindir Adelia.


"Hm? Aluka tidak mungkin seperti itu," ucap Rafael.


"Ibu sama anak sama saja, sama-sama MURAHAN!" teriak Aluka dengan menekan kata terakhirnya.


"ALUKA!" Rafael memperingati Aluka sekali lagi.


Mereka mampu mengambil perhatian orang-orang, Darren berusaha menjadi penengah. Darren menarik Diana yang ingin menampar Rafael dan Aluka untuk menjauh.


"Maaf, bukannya saya mau ikut campur. Tapi kalau bisa kalian jangan mempermalukan diri kalian sendiri. Ini kan hari pementasan Aluka, bagaimana jika kita makan-makan di restoran punya saya?" ucap Darren.


"Gak perlu," jawab Aluka yang masih belum terima kehadiran Darren.


Aluka pergi ke taman belakang sekolah, ia duduk dibawah pohon dengan memakai earphone, memutar lagu dengan volume full. Aluka menutup matanya, membiarkan ia menghirup oksigen yang dikeluarkan pohon-pohon di sekitarnya.


"Minum," ucap Alaska memberikan segelas es teh.


Aluka membuka matanya, ia melihat Alaska berada dihadapannya. Aluka mengambil minuman yang diberi Alaska, saat ini ia membutuhkan minuman yang dingin untuk menenangkan hatinya. Alaska duduk di samping Aluka.


"Saya mendengar perdebatan kalian tadi," ucap Alaska menatap lurus ke depan.


"Oh," sahut Aluka.

__ADS_1


"Mama papa kamu sudah cerai?" tanya Alaska.


"Iya."


"Oh, kamu yang kuat ya." Alaska menyemangati Aluka.


"Iya."


Alaska menarik Aluka kedalam pelukannya. Aluka yang masih hancur tidak mempermasalahkan hal ini, ia malah memeluk Alaska kembali sambil menangis tersedu-sedu.


"Bang," panggil Reki.


Alaska melirik Reki, begitu juga dengan Aluka, namun Alaska menarik Aluka untuk tetap berada di dalam pelukannya.


"Lo ngapain?" tanya Reki.


Alaska menatap Reki datar.


"Maksudnya, abang ngapain disini?" tanya Reki ketus.


"Gak ngapa-ngapain," jawab Alaska.


Reki melirik Aluka dengan tanda tanya.


"Sorry, gue terlalu lebay. Gue sama Alaska yang ngapa-ngapain kok, dia cuma meluk gue buat nenangin gue, itu aja. Lo gak usah salah paham," ucap Aluka melepaskan pelukan Alaska.


"Bang," panggil Reki.


"Beban dia berat, sama kayak kita," ucap Alaska.


"Terserah deh." Kini Reki juga meninggalkan Alaska.


Alaska menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya, melihat Aluka ia menjadi teringat akan masa lalunya.


***


"Aluka, lo dari mana aja sih?" tanya Karin.


"Dari taman belakang," jawab Aluka.


"Tadi mama lo sama istri baru ayah lo berantem, saling jambak menjambak," ucap Karin.


"Serius?" tanya Aluka.


"Iya,"

__ADS_1


"Mama gue dimana sekarang?"


"Lagi di ruang kelas XI MIPA 2,"


"Oke thanks," ucap Aluka lalu berlari menuju XI MIPA 2.


Disana terlihat Diana yang sedang menahan emosinya, Darren yang berusaha menenangkan suasana dan Rafael, juga Aileda yang sedang berhadapan dengan Diana.


"Kamu itu seharusnya peduli sama anak kamu, Aluka itu anak kamu!" ucap Diana.


"Kamu gak berhak membentak saya," ucap Rafael.


"Hei mbak, Aluka itu anak kamu! Bukan anak mas Rafael," ucap Aileda.


"Diam kamu ******!"


"Loh, memang benar."


"Aluka itu anak Rafael!" ucap Diana.


"Aileda benar, Aluka itu bukan anak kandung aku kan? Kita menikah setelah kamu melahirkan Aluka, saat itu kakakku mati saat bertugas. Jadi, aku yang menggantikan posisinya," ucap Rafael.


Aluka membanting pintu. Lagi-lagi ia dibuat kaget dengan kebenaran.


"Jadi, luka bukan anak kandung papa?" tanya Aluka tiba-tiba.


Kini semua tatapan berada di Aluka. Fakta yang baru saja diungkapkan Rafael mampu membuat kaki Aluka melemas.


"Aluka ... " Diana menghampiri Aluka. Memeluk anaknya erat, menopang tubuh Aluka yang hanpir terjatuh.


"Jelasin ma," ucap Aluka dengan lirih. Air matanya sudah terbendung dikantung matanya.


"Ma, jadi papa Aluka tuh siapa? Papa punya kakak?" tanya Aluka.


"Duduk dulu ya." Diana menarik Aluka ke salah satu kursi yang ada di dekatnya.


Diana mulai menjelaskan panjang lebar tentang ayah kandung Aluka. Gasen Rafcabi Viela, adalah seorang tentara. Disaat Diana sedang mengandung Aluka, ia pergi bertugas dan tidak pernah kembali. Temannya bilang, dia telah gugur di medan perang. Disaat itu Diana merasa hancur, ia hampir kehilangan akalnya, padahal ia sedang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan. Rafael Viela, adik kandung dari Gasen turut larut dalam kesedihan atas kehilangan kakaknya. Ia menggantikan tugas kakaknya untuk menjaga Diana dan calon anaknya.


Rafael rutin mengantarkan Diana ke dokter kandungan, hingga ia mulai menanamkan benih cinta dihatinya.


Pada saat itu Diana masih merasa kehilangan Gasen, ia masih menutup pintu hatinya, namun setelah seminggu kelahiran Aluka, ia berpikir bahwa ia tidak akan bisa mengurus Aluka sendirian. Karena Diana juga merupakan seorang wanita karir, ia takut jika Aluka sendirian, ia juga takut jika anaknya nanti dibully karena tidak memiliki ayah.


Akhirnya Aluka menerima Rafael dan menikah, saat itu Aluka masih bayi. Mereka tidak pernah memajang foto pernikahan mereka bertiga, untuk menghindari kecurigaan Aluka. Rasa sayang Rafael pun membesar disaat Aluka kecil memanggilnya dengan sebutan 'papa' walaupun belum benar.


Akan tetapi bagaimana pun juga, Aluka bukanlah anak kandungnya. Rafael juga ingin memiliki anak kandung dari Diana, namun Diana masih trauma dengan apa yang ia alami saat itu. Terjadilah beberapa cekcok antara mereka, walau hanya sebentar tapi untuk Rafael itu keinginannya yang sangat ingin ia raih.

__ADS_1


Aluka mulai membesar, ia mulai di tinggal keluar kota atau bahkan keluar negeri oleh Diana dan Rafael, yang Aluka tahu mereka hanyalah bekerja. Padahal, terkadang mereka keluar untuk bertengkar, terlebih disaat Rafael dan Diana membatalkan janjinya waktu itu.


Saat itu Diana sedang bercekcok dengan Rafael tentang siapa Aileda, hingga mereka memutuskan untuk bercerai.


__ADS_2