
“Saya bukan Reki,”
“Oh? Alaska?”
“Ya, kenapa kamu berjalan kaki?” tanya Alaska.
“Tadi ojeknya mogok, jadi jalan deh.”
“Mau bareng saya?” tanya Alaska.
“Hm? Emangnya kamu- eh maksudnya lo searah?” tanya Aluka balik.
“Hari ini Reki lagi tidak bisa ke sekolah, jadi saya menggantikan dia.”
Aluka melongo, “Hah? Bukannya sikap kalian kebalikkannya ya?”
“Hello?” Alaskan melambaikan tangannya diwajah Aluka.
“Eh?” Aluka tersadar dari lamunannya.
“Boleh deh, tapi nanti rada jauh dari sekolah turunin ya, soalnya gue sama Reki gak punya hubungan yang baik. Takutnya nanti pas dia masuk, banyak gosip yang nyerang dia,” ucap Aluka.
“Oke.”
Aluka naik ke motor Alaska. Karena motor yang digunakan Alaskan sejenis motor ninja, Aluka menjadi sedikit naik dan berpegangan dikedua pundak Alaska, saat ini Aluka teringat dengan kejadian disaat Alaska memeluk dirinya. Itu membuatnya menggelengkan kepalannya.
Seperti yang sudah disepakati, Alaska menurunkan Aluka sedikit jauh dari jangkauan sekolah. Tak lupa dengan kata 'Terimakasih' Aluka langsung berlari menuju sekolah. Sedangkan Alaska menunggu sedikit lama agar ia tidak terlihat datang bersama Aluka.
"Pagi pak," sapa Aluka.
"Eh, pagi Luka. Tumben jalan," sapa Harto, satpam sekolah.
"Hehe, iya pak."
Entah kenapa tiba-tiba Aluka merasa senang, ia berjalan sambil bersenandung kecil bersamaan dengan musik yang ia dengar di earphonenya. Lama tak jumpa, Adelia muncul dihadapan Aluka. Membuat Aluka memutar bola matanya malas, ia berbalik badan untuk menjauhkan diri dari Adelia.
"Tunggu," ucap Adelia.
Aluka hanya berbalik badan tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Gue punya hadian besar buat lo, gue yakin lo pasti bakalan suka," ucap Adelia.
"Apa?" tanya Aluka.
"Tunggu aja," ucap Adelia dan pergi melewati Aluka.
Aluka kembali berjalan kedepan, ia tidak terlalu menghiraukan ucapan Adelia. Setelah sampai di kelas, Aluka melihat Ara dan Reyga yang sedang berbincang. Aluka meletakkan tasnya dan duduk seperti biasanya.
"Luka," panggil Ara.
"Hm?"
__ADS_1
"Kata Reyga lo tadi berangkat sama Reki?" tanya Karin.
"Karin," celetuk Reyga memperingati.
"Hah? En-eggak," jawab Aluka gelagapan.
"Santai aja jawabnya, berati bener kan?" tanya Karin.
"Itu, bisa dibilang iya tapi enggak."
"Maksudnya?" tanya Karin dan Reyga bersamaan.
"Nanti tau sendiri deh," ucap Aluka.
Reyga dan Karin saling bertatapan dan menghela nafas. Reyga memperingati Aluka, "Jangan terlalu dekat sama dia, lo tau sendiri dia gimana."
"Iya."
"GUYS! PULANG SEKOLAH KITA ADA LATIHAN YA BUAT TEATER SAMA NYANYI NYA," teriak Jenita.
"Oke!!!" jawab mereka serempak.
***
"Permisi bu, saya mau minjam gitar," ucap Aluka sambil masuk ke ruangan musik.
"Oh, silahkan. Catat namanya jangan lupa ya," ucap guru piket yang menjaga ruangan musik.
Disaat ia menulis namanya tepat diatas nama Aluka, terdapat nama Reki Arafkar. Berarti Reki meminjam alat musik di ruangan ini, tidak bukan Reki, Alaska yang menyamar sebagai Reki. Itu artinya Reki juga akan tampil dipentas seni sebagai pembawa alat musik?
Aluka segera keluar dan kembali setelah mendapat gitar dan mengeluarkan selembar kertas yang berisi lirik serta chord gitar yang sudah ia print.
"Ayo kita mulai dari Luka dulu ya," ucap Zexia.
"Oh, oke."
Aluka mengambil satu kursi dan mulai memetik gitarnya, ia memainkan gitarnya dengan lembut. Lagu mulai dimainkan, syair mulai terdengar. Karena pembawaan Aluka, ada beberapa teman Aluka yang menangis, salah satunya Karin. Karin menangis mengingat betapa berat beban sahabatnya itu.
Aluka telah selesai menyanyikan lagu yang akan dibawakannya, kini berganti dengan latihan drama Cinderella.
Lumayan lama mereka berlatih, bahkan hari hampir gelap. Latihan pun sudah selesai, beberapa teman Aluka sudah pulang terlebih dahulu. Aluka harus mengembalikan gitar yang ia pinjam dari ruang musik. Aluka mengembalikan gitar itu sendirian.
"Permisi bu, saya mau mengembalikan gitar." Aluka masuk.
"Oh iya, letakkan seperti semula ya."
"Baik, bu."
Disaat Aluka mendekati tempat ia mengambil gitar, ia melihat seseorang yang juga meletakkan gitar.
"Luka," ucap Alaska sambil berbalik.
__ADS_1
"Alaska? Eh Reki."
Alaska tersenyum tipis.
"Sayang kamu lama banget balikin gitarnya," ucap Adelia yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Loh, ada Aluka ternyata. Mau ngapain? Pasti mau godain pacar gue ya,"
"Apaan sih." Aluka meletakkan gitar yang ia pinjam dan beralih keluar ruangan.
"Dasar cewek ganjen," ucap Adelia sedikit keras agar Aluka mendengarnya.
"Tolong jangan berisik,"
"Ah, maaf bu." Alaska meminta maaf atas keributan yang dibuat Adelia.
Alaska menarik Adelia keluar, ia memperingatkan Adelia untuk tidak membuat keributan.
"Kamu jangan selalu membuat keributan," ucap Alaska.
"Sayang kok kamu ngomongnya begitu? Kayak bukan kamu yang biasanya," sahut Adelia.
"Gak perlu dibahas, ayo pulang." Alaska berjalan lebih dahulu meninggalkan Adelia.
Adelia mengejar Alaska yang hampir menjauh darinya, ia heran dengan apa yang terjadi dengan Alaska yang menyamar sebagai Reki. Karena Adelia tidak tahu bahwa itu adalah Alaska, ia juga tidak tahu jika Reki memiliki kembaran.
Ketika Aluka keluar dari ruangan musik, ia langsung disambut oleh Reyga.
"Lo pulang sama siapa?" tanya Reyga.
"Ojek," jawab Aluka.
"Bareng gue aja, ayo," ajak Reyga.
"Gak usah deh," tolak Aluka.
"Kenapa?"
"Gue males liat muka lo!" Aluka pergi meninggalkan Reyga.
"WOI LUKA!"
Tak menyerah, Reyga mengejar Aluka sampai depan gerbang. Reyga terus membujuk Aluka untuk pulang bersamanya, namun Aluka dengan cepat memesan ojek online. Tak lama kemudian ojek online yang dipesan Aluka tiba di depan gerbang.
"Gue duluan ya, bye." Aluka memeletkan lidahnya.
Reyga tersenyum tipis, setelah Aluka hilang dari pandangannya ia baru mengambil motornya yang ada di parkiran, lalu mengikuti Aluka.
Reyga bingung, kenapa arah rumah Aluka berbeda? Ini bukan jalan ke rumah Aluka yang waktu itu ia kunjungi. Reyga tetap mengikuti Aluka. Hingga mereka tiba di depan rumah Aluka yang sekarang.
"Aluka pindah rumah?" tanya Reyga pada dirinya sendiri.
__ADS_1