
"Luka pulang," ucap Aluka sambil membuka sepatu nya dan meletakkannya di rak sepatu.
"Eh, non luka sudah pulang. Mau makan dulu non?" tanya Bi Inah, pembantu di rumah Aluka.
"Bibi sudah masak?" tanya Aluka.
"Sudah non, makanan kesukaan non luka lagi," jawab Bi Inah.
"Mama sama papa sudah pulang?" tanya Aluka.
"Em, itu non. Tadi ibu sama bapak nelpon Bibi, katanya hari ini mereka ada lembur."
"Oh, ya sudah. Ayo kita makan berdua aja bi." Aluka menarik tangan Bi Inah ke meja makan.
Aluka Rafaella dyn. Seorang anak tunggal dari pasangan Rafael dan Diana. Kedua orang tuanya adalah seorang direktur dan memiliki Villa yang harus diolah. Jadi, mereka sangat sibuk. Terkadang hanya bisa pulang seminggu sekali, atau bahkan sebulan sekali.
Aluka sudah terbiasa ditinggal sendirian, untungnya ada Bi Inah dan Pak Joko yang menemaninya.
Minggu ini kedua orang tua Aluka berjanji akan pulang dan makan malam bersama.
***
Malam ini rembulan bersinar dengan sangat terang, seolah-olah tahu bahwa Aluka bahagia pada malam ini.
Aluka mengenakan pakaian yang rapi, namun sederhana untuk menyambut kepulangan orang tua nya.
Menguncir rambutnya dengan pita, dan tak lupa parfum permen karet yang membuatnya memiliki wangi yang khas.
Dengan perasaan yang menggebu, Aluka menunggu kedua orang tua nya di meja makan yang sudah lengkap dengan menu makan malam untuk malam ini. Lama Aluka menunggu, namun Aluka tetap berpikir positif. Walau saat ini waktu sudah menunjukan pukul 23.30 yang dimana hari akan segera berganti.
“Drrrttt...drrrtttt...drrttt...”
Ponsel milik Aluka bergetar diatas meja makan. Aluka yang hampir tertidur di meja makan mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.
“Halo?” ucap Aluka.
__ADS_1
“Halo sayang? Ini papa, maaf hari ini papa sama mama gak bisa pulang dulu ya nak. Karena papa sama mama ada kerjaan mendadak di luar kota,” jelas Rafael, Ayah Aluka.
“Oh.”
“Maafin kami ya, papa janji minggu depan pasti bisa makan malam bersama.”
“Sebelum janji, coba papa ingat lagi dari sekian janji papa, berapa janji yang bisa papa tepatin? Bulan lalu kalian juga janji, tapi apa? Luka tetap makan malam sama Bi Inah dan Pak Joko saja,” sindir Aluka.
“Maaf ya sayang, kami begini juga buat kamu. Kami sayang sama kamu, kami mau yang terbaik untuk kamu.” Kini Diana mengambil alih telepon.
“Uang bukan segalanya dari yang terbaik, aku paham kok kalian kerja keras buat aku. Tapi aku? Aku kerja keras untuk siapa? Diriku sendiri? Bi inah? Pak joko? Karena ketika aku mendapatkan penghargaan Cuma mereka yang memberikan aku selamat, kalian bahkan tidak melihat aku sama sekali. Untuk saat ini, terserah kalian mau bagaimana, semoga sukses, aku capek mau istirahat.”
Dengan hati yang teluka Aluka memutuskan panggilan teleponnya dan beranjak dari meja makan.
“Bi, ini bibi beresin aja.”
Aluka pergi ke kamarnya dan tidur dengan perut dan hati yang kosong.
Sebelum tidur, Aluka menatap langit.
***
Sinar rembulan sudah berganti dengan sinar sang mentari, pagi ini mentari tak memancarkan sinar yang indah. Sinarnya meredup, namun tidak hilang sepenuhnya. Burung yang biasa berkicau di balkon kamar Aluka pun tidak nampak pagi ini.
Dengan malas Aluka membuka matanya karena bunyi alarm yang ia pasang. Aluka mematikan alarm tersebut dan beranjak mandi. Menikmati setiap bulir air yang berjatuhan dari atas kepalanya.
Seperti biasa, Aluka berangkat sekolah diantar dengan Pak Joko.Saat sampai di sekolah, Aluka berpamitan dan melangkah menuju kelasnya. Sepanjang koridor Aluka ditatap aneh oleh siswa yang berada di sekolah ini. Tanpa peduli, Aluka berjalan dengan harga dirinya hingga ia sampai di kelasnya.
“Luka!!!” panggil Karin.
“Apa?” tanya Aluka.
“Lo gak apa-apa kan?” Karin menanyakan keadaan Aluka karena khawatir dengan sahabatnya tentang kejadian kemarin.
“Gak apa-apa kok.” Aluka membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1
“Serius? Lo bisa cerita ke gue kalau ada apa-apa,”
“Beneran gak apa kok.”
“Yaudah, nih gue beliin susu vanilla buat lo,” ucap Karin memberikan satu susu kotak rasa vanilla.
“Eh? Makasii.” Aluka langsung meminum susu yang diberikan Karin.
“Hahaha, sama-sama." Karin tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya yang seperti anak kecil itu.
“Permisi,” ucap seseorang diujung pintu.
Aluka dan Karin menoleh secara bersamaan, Calvin.Ternyata Calvin yang bertamu ke kelas Aluka saat ini.
Calvin masuk setelah meminta izin pada pemilik kelas, lalu berjalan menuju meja Aluka.
“Lo Aluka kan?” tanya Calvin.
“Gue Calvin, temennya Reki.” Calvin memperkenalkan diri.
“Oh,” sahut Aluka singkat.
Calvin tersenyum canggung, “Waduh, jutek bener neng.”
“Ada apa ya?” tanya Karin.
“Oh iya, gini gue mau ngomong sama lo. Lo suka kan sama Reki? Kalau lo mau usaha buat dapetin Reki gue bakal bantuin lo buat dapetin dia.”
“Iya, gue suka sama Reki. Tapi sekarang kan dia punya pacar, rasa suka gue bukan buat misahin hubungan orang. Lagi pula, sekedar suka. Buat apa gue berjuang?” tanya Aluka.
“Eh buset,” celetuk Calvin.
“Aduh gue jadi malu, mau nangis aja rasanya.” Batin Calvin.
“Ya terserah lo sih, Cuma untuk meraih apa yang lo mau lo harus berjuang. Tuhan ngasih lo rezeki bukan berarti lo diem ketiban duit satu miliar, lo pasti harus berusaha juga buat ngejemput rezeki lo, itu aja si yang mau gue omongin.” Calvin berbalik dan meninggalkan Aluka.
__ADS_1
“Tunggu,” cegah Aluka.