Luka Alaska

Luka Alaska
LEMBARAN - 18


__ADS_3

Aluka memakai hoodie bulunya yang berwarna biru laut dan disandingkan dengan celana kulot berwarna hitam. Ia sudah siap untuk bertemu dengan Alaska, dengan membawa tas kecil untuk menyimpan uang dan ponselnya.


Alaska berjanji untuk menjemput Aluka di rumahnya, karena Diana sedang tidak ada, jadi Alaska memilih menunggu Aluka di depan pintu saja. Aluka keluar dan menutup kembali pintunya. Mereka berkeliling menggunakan mobil yang di bawa Alaska.


Kebetulan ada sebuah pasar malam disaat mereka sedang berkeliling. Alaska mencari parkiran untuk memarkirkan mobilnya, dan berjalan menuju pasar malam berdua bersama Aluka.


Aluka terlihat sangat bersemangat, sepanjang jalan mata Aluka tidak bisa diam. Ia melirik ke sana kemari, Aluka menarik Alaska untuk membeli keripik kentang pedas. lalu ia menarik Alaska lagi ke tempat penjual permen kapas, dan beralih lagi ke tempat penjual minuman dingin.


Alaska hanya mengikuti kemauan Aluka, setelah puas membeli makanan mereka kembali ke mobil. Sebelum kembali ke mobil, Alaska meminta Aluka untuk lebih dulu ke mobil karena ia ingin membeli sesuatu.


Aluka mengangguk dan pergi ke mobil, sedangkan Alaska mencari benda yang menarik perhatiannya tadi. Alaska menemukan sebuah barang yang sangat elegan, kotak musik. Dengan didesain yang tidak biasa, kotak musik yang terlihat seperti di dunia dongeng. Terutama suara yang dihasilkannya, membuat siapapun yang mendengarnya seperti terbang.


Alaska membeli satu untuk Aluka, ia segera menyusul Aluka. Terlihat Aluka yang sedang menunggu Alaska di depan mobil.


"Maaf, saya lama ya? Kok gak masuk?" tanya Alaska.


"Kan di kunci," jawab Aluka.


Alaska terbelalak, "Oh iya."


Alaska segera membukakan pintu mobilnya untuk Aluka, Aluka berterima kasih dan langsung membuka makanan yang ia beli. Mereka memakannya bersama di mobil. Sambil menonton drama Korea yang sedang Aluka tonton juga diiringi obrolan ringan.


Hingga Alaska menanyakan keadaan keluarga Aluka.


"Gimana perasaan kamu?"


"Seneng," jawab Aluka.


"Maksudnya, tentang keluarga kamu."


Aluka terdiam sejenak.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat," jawab Aluka.


"Oh iya, kenapa kepribadian kamu sama Reki bisa jauh berbeda?" tanya Aluka.


"Sekarang ngomongnya aku-kamu ya," ucap Alaska.


"Huh? Dih apa sih, aku cuma gak enak aja. Berasa jadi orang kasar banget kalau kamu ngomong nya aku-kamu tapi akunya pakai gue-lo," sahut Aluka.


"Ahahahaha asal kamu nyaman aja," ucap Alaska.


Alaska mengambil minuman yang tadi mereka beli dan meminumnya seteguk. Aluka pun fokus pada keripik kentangnya.


"Sebenarnya Reki bukan orang yang kayak gitu kok," kata Alaska.


Perkataan Alaska mampu mengalihkan perhatian Aluka.


"Reki dulu tuh baik anaknya. Dia selalu menjaga perasaan orang lain, apa lagi perempuan. Tapi semenjak bunda sakit keras, ayah kami itu mulai berubah," lanjut Alaska.


"Waktu kita masih SMP kelas 8, bunda meninggal."


"OMG, sorry aku gak tau kalau beban kamu seberat itu," ucap Aluka. Alaska hanya tersenyum dan melanjutkan ceritanya.


"Baru empat hari bunda meninggal, ayah bawa seorang perempuan ke rumah. Dan mereka menikah setelah seminggu kematian bunda. Itu membuat Reki menjadi anak yang membangkang, dia mulai tidak peduli dengan orang lain di sekitarnya. Dia cuma mau mendengarkan perkataan aku."


"Tapi kenapa Reki mendengarkan perkataan kamu?" tanya Aluka.


"Karena cuma aku yang bisa meredam amarah dia, sewaktu bunda meninggal dia juga nangis dipelukan aku. Dan, sebagai seorang kakak, aku juga harus bisa ngelindungin adik aku sendiri," jawab Alaska.


"Ohh, terus?"


"Reki mulai membenci ayah, terlebih disaat ayah dan istri barunya itu tinggal di rumah kami. Tiada hari tanpa bertengkar, ayah sama Reki selalu cekcok. Istri baru ayah juga seorang yang tidak tahu diri, jujur aku juga sangat membencinya. Tapi aku tidak boleh menunjukkannya di depan Reki, itu akan memperburuk kebenciannya terhadap ayah. Setelah sebulan, kami mendengar fakta bahwa bunda sakit keras karena diracuni oleh istri baru ayah."

__ADS_1


"Astaga,"


"Waktu itu aku lepas kendali, aku memukul wajah ayah. Reki hanya terdiam, dia bilang saat itu ia bilang kalau aku seperti seorang yang kehilangan jati diri, aku terlihat sangat menakutkan sampai Reki tidak dapat berkutik. Makanya Reki mau mendengarkan aku. Ayah juga tidak tinggal diam, dia membalas pukulan aku, pukulan seorang anak SMP dibalas dengan pukulan pria paruh baya bertubi-tubi. Untungnya saat itu paman dan bibi ku datang dan memisahkan kita berdua."


"Paman berusaha menenangkan ayah, dan bibi mencoba untuk memberikan pertolongan pertama untukku. Karena perlakuan ayah, paman dan bibi ku mengambil kami berdua untuk tinggal di rumahnya. Terutama bibiku, ia sangat tidak terima melihat aku diperlakukan seperti itu, dan ia juga tidak terima setelah mengetahui fakta bahwa adiknya telah diracuni."


Aluka mendengarkan perjalanan hidup Alaska, ia terhentak mendengarnya. Ternyata bebannya bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Alaska. Aluka tidak dapat berkata apa-apa lagi.


"Sampai kelas sepuluh kami kembali ke rumah, karena itu adalah rumah milik bunda. Saat itu, Reki sering dipukuli oleh ayah ketika aku pulang telat. Membuat Reki semakin membencinya, karena itulah Reki menjadi orang yang seperti kamu lihat. Karena bantuan dari paman, kami berhasil mendapatkan rumah bunda."


Aluka menatap Alaska dalam, dengan rasa sedih bercampur dengan rasa malu. Ia juga tak terpikirkan tentang luka yang di derita Reki.


"Jadi, sekarang kita tinggal berdua. Reki mengusir ayah dan istri barunya," ucap Alaska menyudahi ceritanya.


"Hei! Serius banget," ucap Alaska sambil memetikan jarinya di depan wajah Aluka yang terlihat sangat antusias terhadap ceritanya.


"Huh?" Aluka tersadar.


"Fokus banget dengerinnya," ucap Alaska diiringi kekehan kecil.


"Aku gak tahu beban kamu ternyata beneran berat banget," ujar Aluka.


"Gak usah dipikirin, sekarang kita pulang yuk, udah malem."


"Ah, oke."


Setelah berbagi kisah, Alaska mengantarkan Aluka pulang. Beruntung Aluka bertemu dengan Alaska, orang yang tepat untuk berbagi cerita.


"Makasih ya," ucap Aluka.


"Sama-sama, kalau ada apa-apa jangan ragu untuk hubungi aku," ucap Alaska.

__ADS_1


"Siap."


__ADS_2