Luka Alaska

Luka Alaska
LEMBARAN - 21


__ADS_3

"Kamu ngapain?" tanya Alaska.


"Hm? Gak ngapa-ngapain," jawab Oliver sambil menjauhkan tangannya dari bekal yang disiapkan Alaska.


Alaska mengambil bekalnya dan juga membawa kotak musik yang lupa ia berikan kemarin, saat Alaska ingin membuka pintu Oliver mencegahnya.


"Mau kemana?" tanya Oliver.


"Jenguk orang," jawab Alaska.


"Aku ikut," pinta Oliver.


"Tidak," tolak Alaska.


"Aku mau ikut!!!" rengek Oliver.


Oliver duduk merajuk dilantai, namun Alaska hanya mengerutkan keningnya dan mengacuhkan Olivier. Oliver menahan kaki Alaska.


"Lepasin," ucap Alaska.


"Ikut,"


"Tidak."


"Ikutttt,"


"Tidak."


"IKUTTTT!!!"


Oliver mengeluarkan suaranya yang menggelegar, membuat gendang telinga Alaska berdenging.


"Yaudah, lepasin. Jangan buat ulah disana," ucap Alaska.


Dengan terpaksa Alaska mengajak Oliver, ia mengendarai mobilnya dengan cepat karena tidak ingin Oliver menduduki kursi mobilnya terlalu lama.


Karena Aluka sudah memberitahu letak ruangannya, Alaska langsung berjalan menuju ruangan Aluka. Alaska berjalan dengan cepat, meninggalkan Oliver di belakangnya.


"Alaska tungguin!" Oliver mengejar Alaska.


Alaska mengabaikan Oliver dan masuk ke dalam lift lebih dulu, ia menekan tombol liftnya tanpa menunggu Oliver, namun Oliver datang tepat waktu sebelum pintu lift tertutup. Alaska berdecak kecil.


"Anggrek nomor 245," gumam Alaska mencari ruangan Aluka.


"Oh, ini." Alaska mengetuk pintu dan membukanya perlahan.


"Kamu siapa?" tanya Darren yang baru datang dari toilet.


"Saya Alaska om," jawab Darren.


"Oh, temannya Aluka?"


"Iya."


"Yaudah, masuk saja."


"Terima kasih, om."


Alaska masuk diikuti Oliver, terlihat Aluka yang membandel. Bukannya istirahat, ia malah bermain game di ponselnya.


"Aluka," panggil Alaska.


"Alaska!" sapa Aluka bersemangat, namun semangat sedikit memudar ketika melihat Oliver di belakang Alaska.


"Halo!" ucap Oliver.


"Oh, halo," ucap Aluka.


"Kamu temannya Alaska ya?" tanya Oliver.


"Huh, iy-"


"Pacar saya," potong Alaska.


Aluka dan Oliver melirik Alaska.


"Aluka ini pacar saya," ucap Alaska mendekati Aluka.


"Pacar kamu?" tanya Oliver.


"Iya," jawab Alaska.


"Tapi kalian tidak terlihat seperti orang pacaran, kalian tidak cocok."

__ADS_1


"Sudah saya peringatkan, jangan buat ulah," ucap Alaska.


"Dia siapa?" tanya Aluka.


"Keponakan dari Lois, istri barunya ayah," jawab Alaska.


"Oh."


"Kamu udah makan?" tanya Alaska.


"Tadi udah sih sedikit, soalnya aku gak suka makanan rumah sakit. Gak ada rasanya," jawab Aluka sambil melanjutkan gamenya.


"Jangan main ponsel kalau lagi sakit." Alaska mengambil ponsel milik Aluka dan menyimpannya.


"Alaska!"


"Aku buat makanan tadi buat kamu, kamu mau makan?" tanya Alaska.


"Seriusan?"


"Iya." Alaska membuka kotak makannya.


Terlihat makanan sehat yang enak, dihias dengan semenarik mungkin.


"Sayuran?" tanya Aluka.


"Iya lah, kamu kan lagi sakit."


"Aku bosen makan sayur, aku pengen seblak."


"Cobain dulu, pasti kamu suka." Alaska mengambil sesendok makanan yang ia buat dan menyuapi Aluka.


Aluka membuka mulutnya dan mengunyah makanan Alaska.


"Enak, kan?" tanya Alaska.


"Hmmm, Iyaa. Enak banget, gak kayak sayuran di rumah sakit, gak ada rasanya," ucap Aluka.


"Iya dong. Kan aku buatnya pakai cinta," ucap Alaska.


"Apaan sih." Aluka salah tingkah, pipinya memerah.


"Aku juga mau dong," cela Oliver.


Alaska menatap Oliver tidak senang, karena Aluka melihat pandangan Alaska yang tajam itu sifat jahilnya muncul.


"Dih," decak Oliver.


Aluka memeletkan lidahnya, Alaska tersenyum melihat tingkah Aluka. Ia mencubit pipi Aluka.


"Lucu banget sih pacar aku," ucap Alaska.


Deg!


Alaskan membuat Aluka kembali memerah, ia menahan malu. Hingga salah dalam bertingkah.


"Sakit," ucap Aluka melepaskan cubitan Alaska.


Alaska berbincang-bincang dengan Aluka, tanpa memperdulikan keberadaan Oliver.


"Alaska, ayo pulang. Aku bosen banget," ucap Oliver.


"Pulang aja sendiri," sahut Aluka.


"Apaan sih, lo tuh gak di ajak!" ucap Oliver.


"Alaska, kamu mau nemenin aku kan? Kamu jagain akunya nginep kan?" tanya Aluka.


"Iya, sayang." Alaska mengelus kepala Aluka.


Lagi-lagi Aluka memerah, ia berjanji akan memukul Alaska nanti.


"Alaska!" Oliver menarik tangan Alaska.


"Kan saya sudah bilang. Kamu kalau mau pulang, pulang saja sendiri."


"Tapi kan-"


Ucapan Oliver terpotong karena nada dering Alaska. Alaska mengangkat panggilan dari Reki.


"Halo?"


"Bang, dimana?" tanya Reki.

__ADS_1


"Di rumah sakit," jawab Alaska.


"Ngapain?"


"Jenguk Aluka,"


"Ini kok ada baju cewek di sofa?"


"Baju?" tanya Alaska.


"Iya, mana motifnya bikin jijik."


Alaska melirik Oliver, "Kamu meninggalkan baju di sofa?"


"Hm? Oh, iya. Aku lupa."


"Itu punya Oliver,"


"Oliver? Siapa?"


"Ponakan Lois,"


"Kenapa dia ada disini?" tanya Reki.


"Tadi pagi ayah nganterin dia,"


"Sekarang dia dimana?"


"Sama abang, di rumah sakit."


"Kirim alamat rumah sakit sama ruangannya sekarang."


"Kamu mau ngapain?" tanya Alaska.


"Kirim aja."


"Oke."


Alaska mengirimkan Alamat rumah sakit dimana Aluka dirawat pada Reki.


"Kenapa?" tanya Aluka.


"Gak tahu, biasa Reki," jawab Alaska.


"Reki kenapa?" tanya Aluka.


"Dia mau kesini,"


"Ngapain?"


"Aku juga gak tahu."


"Reki siapa?" tanya Oliver.


"Calon adik ipar saya," jawab Aluka.


"Alaska kamu punya adik?" tanya Oliver.


"Punya," jawab Aluka.


"Aku gak nanya kamu ya!"


"Tapi Alaskanya gak mau jawab pertanyaan kamu, dari pada pertanyaan kamu diabaikan, mending saya yang jawab."


Oliver menghela nafasnya kasar. Ia pamit keluar untuk membeli makanan. Meninggalkan Alaska dan Aluka.


"Hahaha, kamu peka juga ternyata," ucap Alaska.


Aluka memukul dada Alaska, seperti janjinya tadi.


"Aduh, kok kamu mukul aku?" tanya Alaska.


"Diem."


"Kok dia bisa bareng sama kamu?" tanya Aluka.


"Dia keponakan Lois, kemarin aku gak jadi jenguk kamu karena ayah buat masalah di rumah," jawab Alaska.


"Bukannya kalian tidak tinggal bersama?"


"Iya, dia datang untuk menitipka Oliver, walaupun kami berdua menolak kehadirannya."


"Ah, ternyata dia sangat merepotkan ya?"

__ADS_1


"Ya."


Disaat Aluka dan Alaska sedang berbincang, Oliver kembali dengan makanan yang sangat banyak di tote bag yang ada ditangannya. Begitu juga dengan Reki yang sampai tak lama setelah Oliver.


__ADS_2