Luka Alaska

Luka Alaska
LEMBARAN - 17


__ADS_3

Diana menjelaskan seluruhnya pada Aluka, Aluka hanya termenung sambil meneteskan air mata. Lagi-lagi ia dihentak oleh fakta yang tidak ingin ia ketahui. Aluka bangkit dari posisinya dan berlari keluar.


Aluka berlari tanpa arah, hingga ia menabrak Alaska yang sedang berbincang dengan teman Reki.


"Brukk!!"


"Eh, sorry," ucap Aluka menunduk.


"Aluka? Kenapa lagi?" tanya Alaska.


Aluka tidak menjawab, ia kembali berlari. Alaska menitipkan minuman yang sedang ia pegang tadi dan berlari mengejar Aluka. Cukup jauh mereka berlari, hingga mereka sampai pada tempat pertama kali mereka bertemu.


Alaska dapat meraih tangan Aluka, lalu memeluknya kembali dengan erat. Membiarkan Aluka menjadi-jadi dalam tangisannya. Aluka berteriak, bahkan ia menggigit dada bidang Alaska, serta mencakar tangan Alaska.


Alaska diam tak berkutik, ia menenggelamkan Aluka dalam pelukannya lumayan lama. Hingga Aluka merasa sedikit tenang, Aluka sudah kehabisan tenaga. Kakinya melemas, ia terduduk, Alaska ikut duduk disampingnya.


Aluka masih menangis walau tidak sehisteris tadi. Alaska merangkul Aluka, Aluka membalasnya dengan pelukan.


"Lo kenapa sih meluk gue mulu?" tanya Aluka.


"Kenapa? Kamu merasa risih?" tanya Alaska balik.


"Enggak," jawab Aluka.


Entah mengapa Aluka merasa nyaman dengan pelukan Alaska, itu memberikan ketenangan tersendiri bagi dirinya. Padahal Aluka bukan tipe orang yang cepat nyaman dengan orang baru, namun aura Alaska tak dapat dipungkiri.


Aluka memejamkan matanya, ia tertidur. Aluka masih menangis dengan mata yang tertutup. Alaska yang menyadari Aluka tertidur, menggendongnya seperti anak kecil dan kembali ke sekolah.


***


"ALUKA!?"


Diana menghampiri Alaska yang sedang menggendong Aluka.


"Ibu, ibunya Aluka ya?" tanya Alaska.


"Ah iya, saya ibunya Aluka. Ini Aluka kenapa ya?" tanya Diana.


"Oh, Aluka gak apa-apa kok bu, dia cuma ketiduran tadi habis nangis," jawab Alaska.

__ADS_1


Diana mengisyaratkan Darren untuk menggantikan Alaska menggendong Aluka. Darren mengambil alih Aluka. Disaat Alaska menyerahkan Aluka, Diana melihat tangan Alaska yang banyak cakaran, sudah pasti itu ulah Aluka. Diana meminta maaf atas perbuatan Aluka, dan Alaska menanggapinya dengan santai.


Aluka membuka matanya ketika ia pindah kepelukan Darren.


"Om Darren?" tanya Aluka.


"Aluka sudah bangun?"


"Luka, kamu udah bangun?" tanya Diana.


"Luka mau turun," ucap Aluka.


Darren menurunkan Aluka, namun ia tetap menopang tubuh Aluka. Aluka melirik Alaska yang masih ditempat.


"Terimakasih," ucap Aluka.


"Jangan sungkan, kalau gitu saya permisi dulu ya tante," ucap Alaska.


"Iya, terimakasih ya."


"Sama-sama tante."


"Telepon saya!"


Untungnya Aluka mengerti apa yang dimaksud Alaska.


***


Setelah merasa lebih tenang, Aluka pulang bersama Diana dan Darren. Saat sampai di rumah, Aluka langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Aluka mengambil beberapa cemilan pedas dan mie instan yang sangat pedas. Aluka mengambil panci listrik yang ia simpan di lemari makanan yang ada di dalam kamarnya yang ia beli beberapa bulan lalu.


Aluka membuat kopi dalam gelas besar terlebih dahulu, lalu ia memasak mie dan memakannya sambil membuka jendela kamarnya. Aluka yang belum makan apa-apa dari semalam itu nekat menghabiskan mie dan kopi disaat yang bersamaan.


Ia memakan semua cemilan tanpa ia ingat bahwa sebelumnya ia pernah terkena penyakit tifus. Aluka merasa menjadi lebih baik ketika ia makan makanan pedas. Ia langsung tertidur setelah membersihkan sisa makanannya.


Langit sore kini berubah jadi malam, rembulan muncul untuk memberikan sinarnya pada bumi. Waktu sudah hampir tengah malam, Darren pun sudah pulang sedari tadi. Diana juga sudah beristirahat di kamarnya.


Aluka terbangun, ia melihat banyak sekali notifikasi dari Alaska.


@alaskarakfara_

__ADS_1


Aluka kamu sudah baikan?


Sudah mendingan?


Jangan sungkan sama saya.


Kalau kamu mau cerita, saya bisa menjadi pendengar kamu.


Ini sudah malam, kamu sudah makan?


Jangan lupa makan ya.


@alukadynr


Iya.


Aluka bingung bagaimana membalas pesan Alaska, ia menjawab semua pertanyaan Alaska hanya dengan satu kata. Baru saja Aluka mengirim pesan, Alaska langsung membalasnya. Mereka saling berkomunikasi dari jarak jauh, Alaska mengajak Aluka untuk keluar ketika memiliki waktu luang.


Aluka mengiya kan tawaran Alaska, mereka sepakat untuk bertemu besok malam. Setelah sepakat, mereka berhenti berkomunikasi untuk pergi tidur, namun Aluka yang baru saja bangun masih belum mengantuk. Ia memilih untuk menikmati keindahan malam dengan membuka jendela kamarnya.


"Ting!"


Satu notifikasi muncul dari ponsel Aluka, ia segera membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengirimkannya pesan. Ternyata seorang tamu yang tak diundang, Reyga.


@reygage


Luka, sorry gue ngirim pesan ini malem-malem.


Jujur gue sebenernya masih rada takut buat ngechat lo, karena gue tau lo masih marah sama gue. Tapi, gue cuma mau confess ke lo, kalau gue udah bener-bener jatuh cinta sama lo.


Gue tau gue emang gak pantes buat lo, tapi gue cuma mau lo bahagia. Gue mau memantaskan diri buat lo, gue mau lo liat gue, luka.


Supaya lo gak lagi diganggu sama Reki.


Sekali lagi gue minta maaf ...


@alukadynr


Urus urusan lo sendiri aja.

__ADS_1


Tak ada balasan dari Reyga, bahkan pesan Aluka belum dibaca olehnya. Mungkin saja Reyga sudah tertidur setelah mengirim pesan itu. Aluka meletakkan ponselnya di meja dekat tempat tidurnya dan memaksa untuk tidur kembali.


__ADS_2