Luka Alaska

Luka Alaska
LEMBARAN - 08


__ADS_3

Diana pov


“Maafin mama ya luka, mama sudah gak sanggup lagi bersama dengan papa kamu.” Diana menangis sambil menyetir mobil.


Diana mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, emosinya sedang meluap-luap. Ia ingin segera bertemu dengan Aluka, anak kesayangannya.


Dalam waktu dua jam Diana sudah sampai dari Bandung ke ibu kota, Jakarta. Diana membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya. Diana membuka pintu.


“Ibu, ibu sudah pulang?” tanya Bi Inah yang sedang menyapu.


“Aluka dimana bi?” tanya Diana dengan mata yang sembab.


“Non Aluka ada di kamarnya bu. Ibu gak apa-apa?” tanya Bi Inah yang mengkhawatirkan Diana.


“Gak apa-apa kok bi,” jawab Diana dengan senyum pedih.


Diana bergegas menuju kamar putrinya yang ada di lantai dua. Dengan rasa khawatir Bi Inah berdoa semoga Diana dan Aluka baik-baik saja, karena dari tadi keduanya terlihat sedang tidak dalam keadaan yang baik.


Dengan hati-hati Diana membuka pintu kamar anaknya, dan mengintip apa yang sedang dilakukan Aluka. Ia melihat putrinya sedang duduk dibalkon kamarnya dengan segelas kopi dan keripik yang terlihat pedas.


Diana masuk dan menutup kembali pintu kamar, lalu menghampiri putrinya dengan perlahan sambil menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Aluka.


“Aluka,” panggil Diana.


Tak ada jawaban dari Aluka, Aluka masih menatap kosong pemandangan yang ada di depan matanya. Sesekali mengambil keripik yang ada di sampingnya. Diana duduk di kursi sebelah Aluka.


“Luka,” panggil Diana sekali lagi.


“Pesan yang mama kirim maksudnya apa?” tanya Aluka tanpa melihat ibunya.


“Mama...”


“Mama sama papa pisah apa?”


“Mama sama papa sudah tidak bisa bersama lagi, luka.”


“Kenapa?” tanya Aluka, kini ia menatap lekat ibunya.


Diana bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Aluka, bahkan ia sendiri juga masih tidak percaya dan tidak terima dengan apa yang ia lihat. Nasi sudah jadi bubur, Diana harus mengambil keputusan. Ini perkara harga diri, sulit sudah.

__ADS_1


“Nanti kamu akan-”


“Jelasin sekarang juga!”


Diana diam menatap Aluka. Serintik demi serintik air mata turun membasahi pipi mulus Diana. Aluka yang tidak tega melihat ibunya menangis, segera memeluk Diana. Disaat anak dan ibu ini sedang berpelukan, terdengar lagi suara mobil yang datang. Rafael menyusul.


Diana dan Aluka melihat siapa yang datang, tiba-tiba saja pintu kamar Aluka terbuka lebar.


“Brukk!!”


Rafael menendang pintu kamar Aluka, Aluka dan Diana spontan menoleh. Kini Diana dan Rafael saling menatap tajam.


“Kamu jangan mencuci otak Aluka ya!” bentak Rafael.


“Siapa yang nyuci otak anak kita? Aku bahkan belum ngomong apa-apa sama Aluka.” Diana tak kalah tinggi.


“Bohong! Kamu pasti sudah bicara yang tidak-tidak padanya!”


“Aku bukan kamu ya, mas!”


“Dasar wanita ******!”


“Kalian kenapa sih? Ada masalah apa? Bicarakan baik-baik! Papa gak perlu menghina mama, dan mama juga gak perlu meninggikan suara,” ucap Aluka.


“Kamu harus ikut sama papa.” Rafael menarik tangan Aluka. Tapi Diana menahannya, Aluka juga menahan dirinya agar tidak terseret oleh Rafael.


“Gak bisa, Aluka harus ikut aku!” ucap Diana.


“Kamu gak becus jadi ibu,”


“Aku? Kamu yang gak becus jadi suami dan ayah untuk Aluka.”


“KAMU YANG SELINGKUH KAN? TINGGAL SAJA DENGAN SELINGKUHAN MU ITU, BIARKAN ALUKA BERSAMA KU.” Diana makin meninggikan suaranya.


“Aku selingkuh itu karena kamu! Kamu yang gak bisa jadi istri yang baik buat aku.” Rafael tak mau kalah.


“HEI! RAFAEL VIELA!” Diana semakin menjadi.


“Kamu yang haus akan  ego-mu, jangan menyalahkan saya! Kamu yang tidak tahu diri,” lanjut Diana.

__ADS_1


“Kamu itu yang-”


“LUKA BILANG CUKUP! KALIAN MENGERTI BAHASA ALUKA?” Aluka menghentikan perdebatan orang tuanya.


“Luka, kamu harus ikut mama nak.”


“Gak, luka kamu ikut papa aja ya sayang. Selama ini kan yang membiayai hidup kamu itu papa.”


Aluka terdiam.


Disaat keduanya memperebutkan Aluka, datang seorang wanita paruh baya yang masuk ke dalam kamar Aluka.


“Sudah mas, jangan marah-marah.” Wanita paruh baya itu mengelendoti tangan Rafael.


Mata Diana membelalak, dengan keras Diana menampar ****** yang ada di samping suaminya.


“Aw, mas sakit,” keluh jalan itu.


“Papa?”


“Itu selingkuhan papa kamu, luka.” Diana tak kuat menahan tangisnya.


“Kamu Aluka? Anaknya Mas Rafael? Kenalin, nama tante, Aileda. Calon mama baru kamu,” ucap Aileda sambil memberikan tangan untuk berjabat tangan kepada Aluka.


Alih-alih berjabat tangan, Aluka langsung menampar Aileda berkali-kali. Bahkan Rafael sendiri tak bisa menahan Aluka. Sampai akhirnya Aileda jatuh tersungkur. Rafael membantu Aileda untuk berdiri.


“Luka, kamu kok jahat banget sama tante. Tante kan hanya mau kenalan sama kamu,” ucap Aileda sambil memegangi pipinya yang ditampar Aluka.


“DIAM KAMU ******! DASAR PELAKOR!” Aluka berusaha memukul Aileda lagi, namun Diana menahannya.


“Luka kamu gak boleh seperti ini,” ucap Diana.


“Kenapa ma? Dia sudah merebut papa dari kita ma,” tanya Aluka.


“Sebagai perempuan yang punya harga diri kita harus meluapkan emosi kita dengan elegan, jika tidak kita sama saja dengan ****** yang ada di depan kita.” Diana meraih tangan Aluka.


“Sampai jumpa di pengadilan,” lanjut Diana dan membawa Aluka pergi.


Rafael hanya memandangi kepergian istri dan anaknya sambil merangkul Aileda.

__ADS_1


__ADS_2