
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah tiga bulan Aluka tinggal berdua bersama Diana. Kini Diana dan Rafael sudah resmi bercerai. Kehidupan Aluka pun tidak berubah, namun sekarang ia sudah memiliki ibu tiri.
Aileda sudah sah menjadi istri Rafael. Aluka sudah hancur, hatinya sudah tidak terbentuk. Untuk membayangkan ayahnya menikah saja sudah membuatnya menangis, apalagi sampai datang ke acara pernikahan ayahnya, walaupun Aluka di undang untuk menjadi pagar ayu.
Saat ini Aluka sedang mendengarkan arahan dari kepala sekolah mengenai pentas seni disekolahnya. Pentas seni akan diadakan minggu depan, bersamaan dengan pengambilan rapot penilaian akhir semester 2. Sebelum kelas 12 akan sibuk dengan ujian yang lainnya.
Semua murid diminta untuk menampilkan bakat mereka per-kelasnya. Pentas seni ini juga dapat dihadiri oleh umum, namun murid-murid diwajibkan membawa orang tua atau wali mereka.
Setelah selesai memberikan arahan, para murid dipersilahkan untuk masuk ke dalam kelasnya masing-masing.
Seluruh wali murid diberikan jam pertama pelajaran untuk membahas pentas seni yang akan dipentaskan.
"Baik anak-anak, untuk pentas seni minggu depan apa yang akan kita persembahkan?" tanya Ausurni, walas kelas XII MIPA 2.
"Teater aja bu," saran murid berambut panjang yang digerai, Jenita.
"Ribet bu," ucap Karin.
"Nyanyi aja bu," ujar David.
"Siapa yang mau nyanyi?" tanya Kevin.
Seluruh mata tertuju pada Aluka. Aluka menggelengkan kepalanya tanda ia tidak setuju.
"Aluka kamu mau?" tanya Ausurni.
"Engg-" belum sempat Aluka menyelesaikan ucapannya Karin langsung memotongnya.
"Mau bu," sahut Karin.
"Apaan sih lo," ucap Aluka menyenggol Karin.
"Baik, ibu catat ya. Aluka siapkan diri kamu, dan lagu yang ingin kamu nyanyikan. Kita juga boleh berteater," ucap Ausurni.
"Teater apaan bu?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Terserah kalian, nanti kalian yang latihan. kalau bisa sih, yang simple saja. Karena waktu latihan kalian hanya seminggu," jawab Ausurni.
"Cinderella saja bu," ucap Jenita.
"Boleh, nanti Zexia tolong dicatat ya, kasih ibu sepulang sekolah di ruang guru."
"Baik bu," ucap Zexia, sang ketua kelas.
"Kalau begitu, ibu keluar. Semangat terus untuk belajar, jangan lupa selalu berdoa dan berusaha." Ausurni keluar dari kelas XII MIPA 2.
"Baik bu," ucap murid serempak.
"Luka, nanti lo ngundang siapa?" tanya Karin.
"Mama, mungkin papa juga." Aluka menjawab pertanyaan Karin.
Lantas Aluka langsung mengundang Rafael untuk menghadiri acara pentas seni di sekolahnya. Tak lupa ia juga memberi kabar pada ibunya. Menunggu balasan dari keduanya membuat detak jantung Aluka berdebar lebih cepat.
"Ting!"
Balasan dari Diana, ia mengatakan bahwa ia akan hadir. Tak lama kemudian Rafael membalas pesan Aluka, namun ia tidak dapat hadir sebagai orang tua dari Aluka karena menemani anak tirinya mengambil rapot juga.
***
Aluka mencari lagu yang akan ia bawakan untuk pentas nanti, satu lagu sudah terlintas dibenaknya. Ia memilih lagu "Diary Depresiku" dari Last Child. Yang dimana, menurutnya lagu ini sangat cocok dengan keadaan dirinya.
Sepetik demi sepetik senar gitar yang dimainkan itu menghasilkan nada yang indah, alunannya membuat siapapun hang mengedar akan terbuai dalam lamunan. Ditambah dengan suara Aluka yang sangat lembut ketika bernyanyi, membuat lagu ini semakin hidup.
“Tok..Tok...Tok...”
Saking terbuai dalam lamunannya, Aluka tak menyadari Diana mengetuk pintu kamarnya. Karena Diana hanya mendengar Aluka yang sedang bernyanyi, ia tidak jadi masuk ke kamar Aluka. Melainkan mendengarkan Aluka bernyanyi dari balik pintu.
Sebait demi sebait lirik lagu dinyanyikan, hingga mencapai pada puncak klimaksnya yang dimana suara Aluka gemetar, membuat Diana tersedu dalam tangisannya.
Aluka menghentikan petikan gitar dan menyanyinya, ia terlalu larut hingga air matanya membasahi pipinya tanpa henti. Aluka meletakkan gitarnya pada posisi semula, ia menutup jendelannya dan mengambil handuk untuk mandi, walaupun kini sudah jam dua belas malam.
__ADS_1
Setelah mandi, Aluka merasa lebih lega. Saat keluar dari kamar mandi, ia melihat Diana yang duduk di bibir ranjangnya dengan senyuman menanti Aluka.
“Mama?”
“Luka, sini nak.”
Aluka mendekat, “Ada apa?”
“Mama, mau ngasih kamu kabar bahagia.”
“Apa?” tanya Aluka.
“Hmm, gak jadi deh. Nanti aja, pas mama ambil rapot kamu,” ucap Diana.
“Ih mama.”
Diana mengecup kening anaknya dan keluar. Aluka masih penasaran dengan apa yang dimaksud kabar bahagia oleh ibunya. Sepertinya malam ini Aluka akan tidur dengan nyenyak.
Hari ini Aluka berangkat sekolah menggunakan ojek online, karena Diana sedang ada keperluan mendadak yang mengharuskannya pergi. Namun, saat dipertengahan jalan, tiba-tiba saja motor yang ditumpanginya mati mendadak.
“Mogok ya pak?” tanya Aluka.
“Waduh iya nih, mbaknya bisa turun disini saja ya mbak. Tidak perlu bayar, maaf atas ketidak nyamanannya.”
“Oh iya pak, gak apa-apa.” Aluka memberikan uang sesuai dengan tarifnya.
“Gak perlu mbak,”
“Tidak apa-apa.”
“Terimakasih ya mbak,”
“Iya pak, sama-sama.”
Dengan terpaksa Aluka berjalan kaki karena sudah hampir sampai, walaupun ia harus berjalan rada jauh, namun itu cukup untuk sampai di sekolah tepat waktu.
__ADS_1
“Luka?” panggil seseorang dan menghentikan motornya tepat di samping Aluka.
Aluka menoleh, “Reki?”