Luka Alaska

Luka Alaska
LEMBARAN - 22


__ADS_3

"Aluka, apa kabar?" sapa Reki kaku.


"Baik,"


"Kamu adiknya Alaska?" tanya Oliver.


Reki melirik Oliver, tatapan jijiknya ternyata melebihi tatapannya pada Aluka waktu itu.


"Iyalah, lo pikir gue bokapnya?"


"Tapi wajah kamu mirip sama om Afkar,"


"Afkar? Oh ayahnya bang Aluka yang direbut sama iblis yang menjelma menjadi tante lo?"


"Kenapa sih, kalian melibatkan aku dalam permasalahan kalian dengan tante Lois?" tanya Oliver.


"Dan kenapa lo ada di rumah kita? Lo bukan siapa-siapa," ucap Reki.


"Reki," tegur Alaska.


"Reki kamu terlalu kasar," ucap Oliver.


"Kamu terlalu lebay," sahut Aluka.


"Kamu jangan ikut campur, ini gak ada hubungannya sama kamu!"


"Jelas ada dong. Ini menyangkut silsilah calon suami saya,"


"Cih,"


Baru kali ini Reki memihak pada Aluka. Oliver benar-benar dipojokkan, tidak ada yang membelanya.


"Abang nginep jagain Aluka disini ya," ucap Alaska pada Reki.


"Loh? Aku sendiri dong?" ucap Reki.


"Kan ada aku," ujar Oliver.


"Diem lo." Reki memberikan tatapan ketus.


"Oh iya, ini ada sesuatu buat kamu," ucap Alaska sambil memberikan kotak musik yang ia beli kemarin.


"Wahh, terima kasih." Aluka menerimanya dengan senang hati.


***


Setelah selesai menjenguk Aluka, Reki diperintahkan Alaska untuk pulang. Reki pulang bersama Oliver, namun Reki meninggalkan Oliver sendirian di parkiran.


Darren menghampiri Aluka dan Alaska.


"Kamu menginap di sini?" tanya Darren.


"Iya om," jawab Alaska.


"Sudah ada saya, kamu bisa pulang."


"Kamu siapa? Kamu saja yang pulang, jangan mengatur hidup saya," ujar Aluka.


"Luka," tegur Alaska.


"Diana menitipkan kamu kepada saya," ucap Darren.

__ADS_1


"Saya tidak mau waktu istirahat kamu terganggu dan menghambat pengobatan kamu," lanjutnya.


"Kamu yang menggangu saya, bukan Alaska!"


"Luka, sudah." Alaska menenangkan Aluka.


Lalu Diana datang membawa sebuah kue kesukaan Aluka.


"Luka, mama datang." Diana membuka pintu.


"Waduh ada tamu nih," ucap Diana.


"Halo tante," sapa Alaska.


"Oh, halo. Kamu? Yang waktu itu gendong Aluka ya?" tanya Diana.


"Iya, tante."


"Gendong aku? Kapan?" tanya Aluka.


"Waktu kamu tiba-tiba pergi dari sekolah," jawab Diana.


"Bukannya aku digendong sama dia?" Aluka menunjuk Darren.


"Kamu pergi entah kemana, dan dia yang mengantarkan kamu kembali ke sekolah," ucap Diana.


"Oh?"


"Nih, mama bawain kue buat kamu." Diana memberikan sebuah kue pada Aluka.


"Terima kasih mah,"


"Sama-sama, ayo kita makan sama-sama. Oh iya nama kamu siapa?" tanya Diana pada Alaska.


"Oh, Alaska, ayo kita makan bersama."


"Ah, iya tante."


"Alaska dari kapan di sini?" tanya Diana sambil memakan sepotong kue.


"Dari tadi pagi tante," jawab Alaska menerima kue yang diberikan Aluka.


"Owalahh, terima kasih ya sudah mau menemani Aluka."


"Iya, tante. Oh, iya kalau boleh, Alaska mau nginep di sini untuk menjaga Aluka sehari saja," ucap Alaska.


"Boleh dong, kebetulan tante juga lagi banyak urusan."


"Ada aku, kamu gak perlu dia untuk menjaga Aluka," cela Darren.


"Gak apa-apa lah, toh Aluka juga seneng. Yang penting Aluka seneng aja," ucap Diana.


"Terima kasih mah,"


"Sama-sama sayang."


***


Karena sudah mendapatkan izin dari Diana, Alaska menggantikan tugas Darren untuk menjaga Aluka. Ia menyuapi Aluka memakan makanannya, dan membantunya meminum obat.


Benih-benih cinta mereka mulai berkembang, Alaska menjaga Aluka setiap hari hingga hari terakhir Aluka di rumah sakit.

__ADS_1


Hari ini Aluka sudah keluar dari rumah sakit, Alaska mengajaknya jalan-jalan karena sudah lama Aluka tidak menghirup udara luar. Mereka datang ke restoran yang ada di pinggi danau, setelah mereka memesan makanan, mereka duduk tepat di sebelah danau, pemandangannya lumayan indah untuk dipandang, walaupun sederhana.


Alaska mengeluarkan setangkai bunga dan sebatang dark coklat.


"Aluka, jika kamu bersedia menjadi pacar aku, kamu bisa nerima bunga ini. Kalau kamu mengambil dark coklat ini, aku yang jadi pacar kamu," ucap Alaska.


Mata Aluka membelalak, "Maksudnya?"


"Tunggu, aku gak bisa nolak?" lanjutnya.


"Tidak ada penolakan,"


"Tapi,"


"Kamu milik saya mulai sekarang, atau saya menjadi milik kamu sekarang? Pilih saja." Alaska menyodorkan bunga dan coklatnya.


"Hmmm, aku pilih ... coklat aja." Aluka mengambil coklat yang dipegang di tangan kiri Alaska.


"Berarti aku milik kamu," ucap Alaska.


"Begitu juga sebaliknya."


Mereka berdua tersenyum dan meberikan pelukan hangat penuh kasih sayang.


"Ting!"


Reki menghubungi Alaska melewati pesan chat.


@rekii


Bang, Afkar ke sini lagi.


@alaskarakfara_


Ngapain?


@rekii


Gak tahu, dia banting-banting barang.


@alaskarakfara_


Abang pulang sekarang.


Alaska segera mengajak Aluka untuk pulang, karena khawatir dengan Reki, Alaska membawa Aluka ke rumahnya. Mereka menyusuri jalan dengan kecepatan yang membahayakan nyawa mereka. Aluka pun memeluk erat Alaska, ia tak pernah melihat Alaska mengendarai motor seperti ini.


Dengan cepat mereka sampai di rumah Alaska, Alaska menggandeng tangan Aluka. Disaat Alaska membuka pintu ia melihat pemandangan rumahnya yang berantakan. Bahkan Aluka hampir terkena benda yang dilempar Afkar.


"Ayah!" ucap Alaska.


Afkar membalikkan badannya, ia menghampiri Alaska dan menamparnya. Ia memegang kedua pundak Alaska dengan kuat.


"Apa yang kalian lakukan pada Oliver!?" tanya Afkar dengan emosi yang menggebu.


"Kita gak melakukan apa-apa," jawab Alaska sambil berusaha melepaskan tangan Afkar dari pundaknya.


"Bohong! Oliver pulang ke rumah nangis-nangis dan menyebut nama kalian berdua!"


"Apa yang dia bilang?"


"Dia gak bilang apa-apa, tapi kalian pasti melakukan sesuatu!"

__ADS_1


"KITA GAK MELAKUKAN APA-APA, DENGER TIDAK!? TELINGA ANDA MASIH BERFUNGSI, KAN?" Teriak Reki dari belakang.


__ADS_2