
Akhirnya waktu pulang sekolah tiba, ini saatnya untuk Aluka merehatkan pikiran dan raganya. Sambil menunggu Pak Joko, Aluka membeli cireng kesukaannya yang berada tak jauh dari gerbang sekolah.
“Bang, rasa ayam pedesnya dua sama keju dua ya,” pesan Aluka.
“Oke siap neng.”
Aluka duduk di bangku yang sudah disiapkan, dengan bersenandung kecil dan bermain gadgetnya tiba-tiba Aluka dihampiri oleh Reki.
“Aluka,” panggil Reki. Aluka pun mengalihkan pandangannya.
“Apa?” tanya Aluka.
“Masalah tadi,”
“Lo bilang lupain aja kan? Anggep aja gak ada yang terjadi.”
“Please, jangan gangguin gue sama Adel.”
“Reki? Lo sakit? Gue suka sama lo bukan berarti gue buta sama lo!” Aluka berdiri dan berteriak diwajah Reki.
Reki hanya menatap Aluka, lalu percakapan mereka disela oleh tukang cireng karena cireng yang dibeli Aluka sudah jadi. Aluka membayar dan pergi dari sana. Ia memilih menunggu pak Joko di pos satpam.
“Dasar aneh, gak jelas, bikin bad mood aja.”
“Non,” panggil Pak Joko. Tanpa aba-aba Aluka langsung masuk ke dalam mobil dan menyuruh Pak Joko untuk cepat.
***
Untuk menghilangkan rasa kecewanya terhadap Rafael dan Diana, sore ini Aluka berencana untuk mencari novel terbaru. Aluka memesan ojek online untuk mengantarnya ke mall yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya.
Dengan menggunakan baju kodok berwarna coklat susu dengan kaos putih juga sepatu putih, membuatnya terlihat sangat lucu. Ia terlihat seperti anak SMP yang masih berusia tiga belas tahun, padahal bulan depan umur Aluka sudah delapan belas tahun.
Saat sampai di toko buku, Aluka yang sangat bersemangat tak sengaja menabrak seseorang di depannya, “Eh sorry, gue gak sengaja.”
Karena perbedaan tinggi badan yang jauh, Aluka harus mendongak untuk melihat siapa yang ia tabrak. Kedua bola mata Aluka membesar, ia terhentak saat mengetahui orang yang ia tabrak barusan adalah, Reki.
Dunia memang sempit, bukan? Bukan, bukan dunia yang terlalu sempit, namun Aluka yang terlalu sial. Reki tak merespon Aluka ia hanya meliriknya dan meninggalkan Aluka.
“Tunggu,” ucap Aluka mengejar Reki.
“Ada apa?” tanyanya dengan nada dingin.
__ADS_1
“Gue tau lo benci sama gue, tapi gak usah ngacangin gue juga kali! Setidaknya lo jawab apa kek, gue kan udah minta maaf,” cerca Aluka.
“Maksudnya apa ya? Memang kita saling kenal?”
“Hah? Lupain aja! Nyesel gue minta maaf sama lo.” Aluka pergi meninggalkan Reki dengan rasa kesal.
Karena mood Aluka sudah tidak karuan, niat Aluka membeli buku pun telah hilang. Ia lebih memilih masuk ke restoran dengan ala jejepangan dan memesan banyak menu. Karena kesal dengan kelakuan Reki, Aluka jadi menghabiskan uangnya untuk makanan. Tapi, untungnya makanan membuat ia menjad lebih baik.
Setelah selesai makan, Aluka keluar dari mall dan mencari pedagang kaki lima untuk membeli es cekek.
"Bang beli es cekek yang permen karet itu," ucap Aluka menunjuk serbuk es.
"Oke."
Sambil memperhatikan abang penjual es, Aluka membuka aplikasi ojek online untuk mengantarnya pulang.
"Nih, neng."
"Makasi bang,"
"Yo."
***
"Non?" panggil Bi Inah di depan pintu kamar Aluka.
"Iya Bi?" tanya Aluka.
"Belum tidur?" tanya Bi Inah.
"Belum," jawab Aluka yang masih terfokus pada bukunya.
"Bibi buatin susu ya?"
"Iya bi, boleh. Tolong sekalian sama pudding aku yang di kulkas ya bi,"
"Siap non."
Bi Inah turun untuk menyiapkan Aluka segelas susu dan mengambil pudding nya. Sementara Aluka masih diambang kematian, pasal nya ia terlalu bodoh untuk pelajaran bahasa Inggris.
"ARGHHHH MAU MATIII AJAA," teriak Aluka frustasi.
__ADS_1
Aluka berjalan menuju balkon untuk menghirup udara segar. Tiba-tiba, entah darimana datangnya kain putih yang berterbangan. Sontak Aluka kaget dan mundur dari pijakannya saat ini. Aluka mengira bahwa itu adalah hantu, padahal hanya sebuah kain putih dengan tulisan 'Ayang maafin aku'.
Diambilnya kain itu, karena jatuh di balkon Aluka.Membaca tulisan itu membuat Aluka semakin frustasi.
"ADUH INI SIAPA SIH YANG NGAMBEK TENGAH MALEM GINI? PAKE ACARA DIBUJUK PAKE BEGINIAN LAGI, KAYAK GAK ADA HARI BESOK AJA."Aluka menginjak-injak kain tersebut.
"BRUKKKK."
Satu pria misterius dengan hoodie hitam yang bertudung datang dari atap Aluka. Dengan refleks Aluka menampar dan menyerang pria misterius itu.
"MAU NGAPAIN LO? JAUH-JAUH DARI GUE, GUE GAK PUNYA DUIT, GUE BELOM MAU MATI BENERAN!" ucap Aluka sambil memukuli pria itu.
"Eh, tunggu sebentar. Gue gak ada maksud jahat kok, gue cuma mau ngambil kain itu," ucapnya sambil menahan serangan Aluka.
"Huh?"
Aluka berhenti memukuli pria itu dan melirik ke arah kain yang ia injak-injak tadi. Pria itu mengambil kain yang diinjak Aluka.
"Eh, sorry gue gak tau."Aluka merasa bersalah.
"Gak apa-apa kok, gue yang salah." Pria itu juga mengakui kesalahannya.
"Okey, btw..." Aluka memiringkan kepalanya, "LO DATENG DARI MANA!?"
"Dari atap," jawab nya.
"Cara lo dateng gak manusiawi! Dan lo itu siapa? Gak sopan banget dateng dari atap, tudung lo juga buka dulu dong!"
"Eh iya." Pria itu membuka tudungnya.
"Sorry ya, gue soalnya lagi bujuk pacar gue. Jadi gue gak permisi," ucap nya sembari senyum polos.
"Wanjir, ganteng banget buset! Eh, Luka apaan sih? Ini pasti efek gila gara-gara hafalan!" batin Aluka.
Aluka menggelengkan kepalanya, pria itu sedikit kebingungan dengan apa yang dilakukan Aluka.
"Oh iya, gue Tuan Reyga Geano, panggil aja Reyga.Gue duluan ya, bye." Pria itu memperkenalkan dirinya dan pergi lewat atap Aluka. Ia pergi dari atap ke atap.
"Dih sok asik banget."
Aluka masuk kembali dan menutup rapat pintu serta jendela kamarnya.
__ADS_1
"ARRGHHHHH, BODOAMAT AH!" Aluka melempar buku nya dan menarik selimutnya lalu mematikan lampu tidurnya.
Prinsip Aluka, "Tidur nomor satu, yang lainnya bisa nanti."