
“Kita mau pergi kemana ma?” tanya Aluka yang masih berlinang air mata.
“Kamu tenang aja ya, mama akan berusaha dapetin hak asuh kamu. Sekarang kita bisa tinggal bersama di rumah yang mama beli dulu, dan mama yang akan mengantar jemput kamu sekolah,” ucap Diana membelai kepala anaknya.
“Sekali lagi mama minta maaf, karena gak bisa mempertahankan keluarga kecil kita,” lanjutnya.
“Gak ma, aku menghargai keputusan mama,” ujar Aluka.
Tak terasa perjalanan, kini mereka telah sampai di rumah yang pernah dibeli Diana. Memang tak semewah rumah Aluka yang dulu, rumah ini hanya teridiri dari dua lantai saja.
Terdapat dua kamar tidur dilantai atas, kamar mandi, dan balkon. Untuk lantai bawah terdapat ruang keluarga, satu kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur. Rumah ini juga mempunyai halaman kecil yang cukup untuk menaruh satu mobil.
Desainnya yang sangat minimalis, berwarna putih netral dan tumbuhan kecil yang menyejukkan mata.
“Mulai sekarang kita akan tinggal disini, mama sudah suruh orang untuk membersihkan rumah ini tadi. Kamar kamu ada di lantai atas, semoga cocok dengan mu,” ucap Diana sambil menarik koper miliknya.
“Iya ma, aku beresin barang-barang aku dulu ya.” Aluka mengambil barang-barangnya dan naik ke lantai atas.
“Iya.”
Aluka pov
Aluka membuka pintu kamarnya yang baru, memang sangat berbeda dengan kamarnya yang dulu. Dari ukuran kasurnya yang dulu king size, kini menjadi lebih kecil, namun tetap cukup untuk dua orang. Dekorasi di kamarnya juga hanya ada meja belajar, tidak ada meja gaming atau lemari koleksi, bahkan meja rias.
Untung saja Aluka membawa laptop pemberian papanya. Aluka merebahkan dirinya, menutup mata yang terus mengalir air mata. Ia tersenyum lalu tertawa, tawa yang miris.
“Ahahaha, gini rasanya. Ketika dunia ternyata jahat kepadamu, maka kamu harus menghadapinya,” gumam Aluka.
Diam sejenak, lalu menghapus air matanya dan bangkit dari kasurnya. Aluka membereskan barang-barangnya dahulu.
***
Di meja makan malam ini hanya ada Aluka dan Diana, entah Aluka harus senang atau sedih. Disatu sisi ia merasa senang karena dapat makan malam bersama ibunya, namun disisi lain ia sedih karena tidak ada sosok ayah di meja makan ini. Padahal sinar rembulan bersinar sangat terang malam ini.
Makan malam ini pun sunyi, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
__ADS_1
“Habis ini kamu tidur ya, besok mama harus berangkat pagi-pagi untuk mengurus klien dan perceraian mama,” ucap Diana disela makannya.
“Hm? Iya ma,” sahut Aluka pasrah.
Aluka segera menghabiskan makanannya, setelah itu ia mencuci piring terlebih dahulu dan pamit ke kamar. Diana mencium kening anaknya dan kembali fokus pada laptop dan berkas-berkas yang ada dihadapannya.
Aluka membuka jendela kamarnya. Ia menghirup udara malam dalam-dalam, ia jadi teringat dengan kejadian Reyga yang masuk ke balkonnya saat itu.
"Terimakasih untuk hari ini, terimakasih atas kejutan luar biasa yang kau berikan!"
Aluka menutup jendelanya, dan mematikan lampu tidurnya lalu terlelap.
***
Aluka bangun seperti biasanya, ia membuka jendela kamarnya untuk melihat cahaya matahari dari kamar barunya. Ternyata matahari masih tidak mau memancarkan cahaya nya, Aluka menutup kembali jendelanya dan bersiap.
Sebelum berangkat, tak lupa Aluka membawa sebuah payung berwarna biru ke dalam tasnya. Karena cuaca mendung, Aluka memakai hoodie yang lebih tebal dari biasanya, dia tidak tahan dengan kedinginan.
Diana mengantarkan Aluka sampai depan pintu gerbang sekolah, walaupun sudah berangkat pagi Aluka masih hampir terlambat. Dan untungnya hujan turun ketika Aluka sudah berada di kelas. Karena AC di kelas Aluka tetap menyala, membuat udara menjadi semakin dingin.
Disaat guru sedang menjelaskan, tiba-tiba Reyga masuk dengan rambut yang lepek dan baju yang sedikit basah.
"Permisi bu, maaf saya telat," ucap Reyga.
"Cepat duduk," perintahnya.
"Baik bu."
Reyga hendak duduk di kursinya, namun karena melihat kursi di samping Aluka kosong, Reyga beralih duduk di samping Aluka.
"Selamat pagi, luka," sapa Reyga.
Reyga menyipitkan matanya, ia bingung kenapa pagi ini Aluka terlihat lesu.
Ia bahkan tidak memperdulikan keberadaannya atau guru yang sedang mengajar.
__ADS_1
"Lo kenapa?" tanya Reyga.
Aluka menatap kedepan dengan tatapan kosong, jujur saja saat ini Aluka tidak ingin masuk sekolah. Ia ingin kembali bermimpi saja.
Reyga membenarkan posisi duduknya menghadap guru, dan membiarkan Aluka tenggelam dalam lamunannya.
Tiba-tiba Aluka bangkit dari tempat duduknya, "Sensei, saya izin ke toilet."
Setelah dijawab dengan anggukan, Aluka keluar dari kelasnya. Tidak seperti yang ia bilang, Aluka bukan ke toilet melainkan ke taman belakang sekolah. Ia duduk dibawah pohon yang terdapat payung besar sambil memejamkan matanya.
Tak terasa Aluka tidur sampai jam istirahat, dua mata pelajaran telah ia lewati. Sampai kini Aluka masih enggan membuka matanya. Hingga Reyga yang sedari tadi mencarinya membangunkannya.
"Luka, bangun," ucap Reyga sambil menggoyangkan tubuh Aluka pelan.
"Luka,"
"Luk,"
"Astaga, kebo banget nih anak." Reyga menyerah membangunkan Aluka.
Calvin pov
"Reki, lo mau ke kantin gak?" tanya Calvin.
"Lo duluan aja, gue bujuk Adel dulu." Reki menolak tawaran Reki.
"Cih, dasar bego." Calvin berdecak dan pergi meninggalkan Reki.
"Buset, rame banget. Tar aja dah." Saat melihat kantin yang sangat ramai, Calvin memutuskan untuk kembali lagi nanti.
"Mending gue jalan-jalan dulu, keliling dunia untuk menyelamatkan bumi dari manusia ular kayak Adelia," guman Calvin sambil bersiul, berjalan menuju belakang sekolah.
Calvin menyipitkan matanya, saat di belakang sekolah ia melihat orang yang ia kenal sedang di ganggu.
"Itu kan Aluka? Dia di gangguin siapa tuh? Wah kok dia megang-megang?" tanya Calvin pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"WOI! ALUKA LO APAIN!?" tanya Calvin sambil berlari ke arah Reyga dan Aluka.