
"Ini uangnya, terimakasih ya pak."
"Terimakasih kembali."
Sewaktu Aluka akan masuk ke dalam rumahnya, ia melihat seseorang yang ia kenal berada tak jauh dari rumahnya. Aluka menghampiri orang itu.
"Woi! Reyga, lo ngikutin gue?" tanya Aluka.
Karena Reyga sibuk dengan ponselnya nya, ia tak sadar bahwa Aluka berjalan mendekatinya.
"Duh, ini cewek ngambek mulu," gumam Reyga pelan.
"Reyga!" panggil Aluka sekali lagi.
"Hah?" Reyga gelagapan, karena tiba-tiba Aluka sudah berada di depan matanya.
"Lu-luka? Eh, kok lo ada disini?" tanya Reyga.
"Gue yang harusnya nanya, ngapain lo ada disini?" tanya Aluka.
"Itu, em.. Ini rumah tante gue," ucap Reyga menunjuk rumah yang ada di sampingnya.
Aluka menoleh, "Itu rumah kosong,"
Mata Reyga terbelalak, "Maksudnya gue disuruh ngeliat doang, masih aman gak."
"Katanya penghuni disini dulu meninggal karena sakit, cuma kakek dan cucunya. Keduanya meninggal udah lama," ucap Aluka.
"Hah, serius?" tanya Reyga.
"Gak."
"Luka,"
"Berarti lo bohong kan? Ngapain disini?"
"Iya, gue ngikutin lo. Gue heran aja kenapa tadi lo bisa bareng sama Reki," ujar Reyga.
"Huft,"
"Gue baru tau kalau lo pindah rumah. Kok gak ngomong?"
"Lo siapa gue?" tanya Aluka.
"Temen lo," jawab Reyga.
"Gue gak mengakui kalau lo itu temen gue, jadi mending lo pergi sekarang."
"Ehh, bentar. Besok lo gue jemput ya?"
"Gak."
__ADS_1
"Okey, jam 5 udah siap-siap ya, gue duluan. Bye!" Reyga menyalan mesin motornya dan pergi meninggalkan Aluka tanpa mendengarkan perkataan Aluka.
"Reyga!"
Aluka menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar, ia masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang penuh kesepian, dan selalu hening.
"Aku akan kembali ke kehidupan ku yang sendirian selama bertahun-tahun," gumam Aluka saat membuka pintu.
"Ting!"
Aluka membuka notifikasi dari ponselnya. Ternyata Diana memberitahunya bahwa hari ini ia tidak pulang hingga dua hari kedepan. Lagi dan lagi Aluka harus naik ojek online ke sekolahnya. Aluka membersihkan dirinya dan menyiapkan makan malam yang hanya cukup untuk satu porsi.
Makam malam Aluka dihadiri oleh dirinya sendiri dan bayangannya yang menemani. Aluka menyalakan laptopnya bertujuan untuk makan sambil menonton, namun karena Aluka terlalu lama memilih film makanan Aluka sudah habis duluan. Aluka turun untuk menaruh piring kotor dan kembali ke kamarnya.
Setelah lama memilih film, kini Aluka menemukan film yang akan ia tonton, film yang dikira kasih ternyata hanya kisah. Dipertengahan film, Aluka tertidur pulas.
***
"Aluka, sini sayang kita makan dulu," ucap Diana memanggil Aluka.
"Iya ma, ayo pa." Aluka menarik tangan Rafael.
Keluarga kecil yang bahagia ini sedang piknik ditaman yang sangat indah. Bunga-bunga yang mekar serta kupu-kupu yang berwarna-warni menghiasi pemandangan disini. Aluka dengan lahap memakan masakan Diana, begitu juga dengan Rafael.
Mereka makan dibarengi dengan berbincang kecil, tiba-tiba Rafael mengeluarkan kalung berbentuk hati. Ia memberikannya pada Aluka dan Diana.
"Wah, ada apa nih pa?" tanya Diana.
"Enggak sih, cuma kan tumben saja papa romantis kayak gini," ucap Diana.
"Dih,"
"Hahahaha." Aluka tertawa nyaring, Rafael dan Diana pun itu tertawa.
Disaat mereka sedang menikmati suasana, tiba-tiba alarm Aluka berbunyi. Membuat Aluka terbangun dari tidurnya dan meinggalkan mimpinya. Dimimpi tadi, Aluka merasa sangat senang, dan saat terbangun, kenyataannya hanya rasa sakit dari kesendirian yang adanya.
Karena waktu baru menunjukan pukul empat pagi, Aluka keluar rumahnya untuk melihat gelapnya langit pagi. Aluka yang masih mengenakan baju tidur itu mengelilingi komplek barunya.
Sekiranya sudah cukup lama ia berada di luar, Aluka pulang untuk bersiap ke sekolah. Namun ia melihat adanya seseorang yang menunggu di depan gerbang rumah Aluka.
"Nyari siapa ya?" tanya Aluka tak mengenali Reyga.
"Nyariin lo," jawab Reyga.
"Lo ngapain disini?" tanya Aluka.
"Kan gue bilang hari ini lo berangkat sama gue, lagian lo ngapain pagi-pagi buta ada di luar?"
"Iseng aja."
"Mana masih pakai baju tidur lagi," ujar Reyga.
__ADS_1
"Udah sana mandi, gue tungguin disini," lanjutnya.
"Berapa kali sih harus gue bilang sama lo? Gue gak mau berangkat bareng lo, lagi pula bukannya lo udah punya pacar?"
"Iya ... Kan gue cuma mau bantuin lo doang. Emangnya salah?" tanya Reyga.
"Niat lo nolongin sih gak salah, tapi lo masih punya pacar rey, lo harus menghargai perasaan pasangan lo!"
"Gue bakal putusin dia buat lo," ucap Reyga serius.
"Itu gak akan bisa bikin gue luluh, yang ada gue semakin ilfeel."
"Kenapa? Gue kan udah berjuang buat dapetin lo, Luka."
"Dengan cara mutusin pacar lo yang sekarang?"
Reyga terdiam. "Lo aja gak bisa ngehargain perasaan pacar lo, apa lagi gue?" lanjut Aluka.
"Gak, gue pasti bakal setia kalau sama lo." Reyga menatap Aluka mantap.
"Terserah lo, intinya gue gak mau sama lo." Aluka masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu dengan kencang.
Aluka segera bergegas dan memesan ojek online, saat ia keluar rumah ia masih melihat Reyga tetap berada di depan rumahnya. Aluka keluar dan menutup pintunya. Ia berjalan melewati Reyga yang masih termenung.
"Luka, tunggu!" Reyga menahan Aluka.
"Gue minta maaf," ucap Reyga.
"Minta maaf sama pacar lo sana," ujar Aluka.
Aluka menghampiri tukang ojek yang ia pesan dan meninggalkan Reyga.
Reyga pov
Reyga termenung dengan ucapan Aluka, namun ia sangat yakin dengan perasaannya terhadap Aluka. Ia mencintainya. Dengan keyakinan yang mantap, Reyga memilih untuk memutuskan hubungannya dengan pacarnya saat ini.
"Halo?"
"Iya halo? Kenapa by?"
"Aku mau jujur sama kamu."
"Iya, kenapa? Ngomong aja jangan bikin aku penasaran."
"Sebelumnya aku minta maaf, karena aku ... Aku mencintai orang lain. Aku mau hubungan kita sampai disini saja, maaf," ucap Reyga pada sambungan teleponnya.
"Maksud kamu? Kita putus? Kenapa rey? Aku salah apa?"
"Enggak, kamu gak salah. Aku yang salah, aku mencintai orang lain selain kamu."
"Kita ketemu pulang sekolah."
__ADS_1
"Lea, tunggu!"