
"Reki," ucap Alaska.
Afkar melepaskan Alaska dan menghampiri Reki, seperti yang dilakukanya tadi. Ia menampar Reki, namun dengan cepat Alaska menahan tangan Afkar. Tiba-tiba Oliver dan Lois datang, dengan keadaan Oliver yang masih menangis. Semua memandangi mereka, Oliver dan Lois mendekati Afkar.
"Alaska," panggil Oliver.
"Apa yang kamu katakan pad ayahku!?" bentak Alaska.
"Aku gak ngomong apa-apa," ucap Oliver sambil tersedu.
"Gak usah bohong!" teriak Reki.
"Beneran Reki, aku gak ngomongin apa-apa,"
"Terus kenapa orang ini dateng ke sini dan ngobrak abrik rumah gue!?" Reki mendekati Oliver dan mencengkeram kedua pundaknya.
"Reki, sakit ... "
"REKI!"
""Diam." Alaska menahan Afkar.
"Om sudah om," ucap Oliver.
"Kamu jujur sama om, kamu diapain sama mereka?"
"Oliver gak di apa-apain kok om, cuma sedari Oliver di sini, mereka mojokin Oliver. Tapi, Oliver gak apa-apa kok,"
"Caper banget, dih," celetuk Aluka dengan wajah polos.
"REKIII!!!"
Sebuah teriakan tiba-tiba terdengar dengan jelas, siapa lagi kalau bukan Adelia. Adelia berkunjung ke rumah Reki karena ingin bertemu dengannya.
"Loh, ada apa ini?" tanya Adelia.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Reki menghampiri Adelia.
"Aku kangen, mau ketemu sama kamu."
"Kenapa gak bilang?" tanya Reki.
"Emangnya kenapa sih? Salah aku mau ketemu sama pacar aku?"
"Iya, tapi kan-"
"Reki! Siapa dia? Lancang sekali," ucap Afkar.
__ADS_1
"Saya pacarnya Reki, kamu siapa!?" bentak Adelia.
"Saya? Saya ayahnya Reki!"
Adelia tercengang.
"Mulai sekarang kalian tidak ada hubungan apa-apa!" ucap Afkar.
"SAYA BUKAN ROBOT ANDA!" Teriak Reki di depan wajah Afkar.
Perkelahian antara Reki dan Afkar pun terjadi, keduanya saling terluka akibat pukulan dan tendangan dari mereka berdua. Alaska terpaksa memisahkan mereka dengan kekerasan. Alaska memukul keduanya dengan sekuat tenaga, hingga beberapa tetes darah terjatuh dari hidung Samudera dan Reki.
Akhirnya Lois pergi bersama Oliver membawa Samudera. Sedangkan Reki, di obati oleh Aluka dan Adelia. Keadaan rumah menjadi sangat kacau, semua barang berantakan dan banyak vas bunga yang pecah.
"Lo ngapain ada di sini?" tanya Adelia sinis.
"Dia pacar saya," ucap Alaska.
"Huh? Pacarnya kak Alaska? Jangan mau sama dia kak!"
"Adelia, diam," tegur Reki.
"Apa? Kamu manggil nama aku? Biasanya kamu manggil aku sayang, baby, atau apa kek, bukan nama ku. Sekarang kenapa kamu manggil nama aku doang?"
"Masalah kecil gak usah di perpanjang," ucap Reki sambil menahan rasa sakit dari lukanya.
"INI BUKAN MASALAH KECIL, REKI!" Teriak Adelia dan membanting kotak p3k yang ia pegang.
"Reki, tunggu!"
Adelia yang hendak mengejar Reki, di tahan oleh Aluka.
"Reki lagi emosi, kamu kembali nanti," ucap Aluka.
"Diem lo! Ini semua tuh gara-gara lo,"
"Dari mana semua ini salah Aluka?" tanya Alaska.
"Dia itu munafik! Manipulatif!"
"Ibu kamu seorang pelakor, modal jual tubuh demi mendapatkan papa saya!" bentak Aluka.
"Nyokap gue? Bokap lo yang kegatalan!"
"Jelas-jelas nyokap lo yang gatel!"
"Sdah, diam! Kalian berdua cukup. Adelia, lebih baik kamu pulang. Kehadiran kamu tidak diterima di sini." Alaska mengusir Adelia.
__ADS_1
"Awas lo!"
Adelia pergi setelah mengancam Aluka, Aluka terduduk. Ketika mengingat keluarganya, ia menjadi sedih dan murung. Alaska berusaha menghiburnya. Dan mengantarkan Aluka pulang, karena kasihan dengan Aluka yang baru keluar dari rumah sakit.
Setelah mengantar Aluka pulang, Alaska menyewa beberapa orang untuk membantunya membersihkan rumah. Sedangkan Reki masih mengurung diri di kamarnya.
***
Tak berasa, dua minggu sudah berlalu. Setelah Aluka keluar dari rumah sakit. Kini dirinya di hadapkan dengan pernikahan ibunya. Sebuah ombak yang menghantam perahu kecilnya.
Aluka meneteskan air matanya disaat hari bahagia ibunya. Ia merindukan keluarga kecilnya, walau dia bukan anak kandung dari Rafael.
Alaska juga selalu menghibur Aluka dan mengajaknya jalan-jalan, cinta di hati mereka semakin hari semakin membesar. Aluka mulai kembali seperti dulu ketika ia bersama Alaska, namun jika mengingat keluarganya ia kembali murung.
Setelah acara selesai, Aluka tertidur lebih awal. Karena banyaknya tamu yang di undang oleh Diana dan Darren.
Dipertengahan malam, Aluka terbangun. Ia tidak bisa tertidur kembali, akhirnya ia memutuskan untuk membaca buku dan belajar. Karena sudah mendekati ujian, terlebih di kelas 12 ini Aluka harus berusaha untuk masuk ke perguruan tinggi.
Ia belajar hingga subuh, Aluka menutup bukunya. Membuka jendela kamarnya dan menghirup udara luar, sudah lama ia tidak seperti ini. Mengambil handuknya dan mandi.
Aluka berangkat sekolah di jempol oleh Alaska, begitu juga pulangnya. Mereka semakin dekat, Alaska berjanji tidak akan meninggalkan Aluka, Aluka pun sebaliknya.
"Kamu pulang jam berapa nanti?" tanya Alaska.
"Sore sih, soalnya nanti ada kerja kelompok dulu," jawab Aluka.
"Okey, nanti kamu telepon aku saja kalau sudah pulang," ucap Alaska.
"Siap."
Hubungan Aluka dan Alaska hanya mereka, dan Reki saja yang tahu. Aluka tidak memberitahu Ara tentang ini. Aluka tidak ingin memberitahu kepada sahabatnya yang comel itu.
Setiap pagi Alaska mengantarkan Aluka sampai di dekat sekolah, tidak sampai depan gerbang.
"Luka!" panggil Ara di koridor.
"Helo!"
"Bagaimana perasaanmu pagi ini sahabat ku?" tanya Ara.
"Sangat baik," ucap Aluka.
"Eh, lo tau gak sih. Tadi ada cowok keren banget, tapi kayaknya dia bukan anak sini deh," ucap Ara.
"Oh ya? Siapa tuhh,"
"Ya mana gue tau, kalo gue tau juga udah gue gebet."
__ADS_1
"Ahahahah."
Mereka berdua berjalan bersama menuju kelasnya.