
"Halo, Alaska!" ucap Samudera, ayah Alaska.
Alaska diam tak bergeming.
"Alaska, ayah kamu nyapa loh," ujar Lois.
"Dimana Reki?" tanya Samudera.
"Ayah tidak melihatnya," lanjutnya.
"Mau apa kalian kesini?" tanya Alaska.
"Tidak ada, hanya ingin mengunjungi anak-anak ayah yang lucu ini," jawab Samudera.
Afkar berjalan mendekati Alaska, ia merangkul Alaska, namun Alaska menepisnya.
"Kasar sekali kamu dengan ayahmu sendiri,"
"Jika tidak ada keperluan lain, silahkan pergi dari sini," ucap Alaska.
"Jangan dingin begitu dong, tante disini cuma mau menitipkan keponakan tante," ucap Lois.
Alaska mengerutkan dahinya.
"Alaska, jadi sebenarnya maksud ayah kesini itu untuk minta tolong sama kamu. Karena ayah sama tante Lois mau liburan, jadi ayah mau nitip keponakan tante Lois di sini."
"Saya tidak punya ruang untuk menampung keponakan anda," tolak Alaska.
"ALASKA!"
"Mas sudah mas. Alaska ... tante sama ayah kamu gak lama kok, hanya sekitar seminggu saja. Tante minta tolong banget ya? Keponakan tante juga seumuran kamu kok, siapa tau kalian cocok."
"Kasih saja keponakan mu sama orang tuanya, kita tidak bisa tinggal bersama keturunan iblis seperti kalian!" teriak Reki dari anak tangga.
Semua tatapan mengarah padanya, Samudera langsung menghampiri Reki. Ia menarik kasar Reki hingga terjatuh dari tangga. Alaska membatu Reki untuk bangun, ia sangat tersiksa sekarang, ia harus menahan emosinya agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.
"Dasar monster! Ngapain ke sini!" teriak Reki lagi.
"Reki," ucap Alaska menutup mulut Reki.
Mata Reki berkaca-kaca, ia menahan emosi setengah mati. Masih terbayang dibenaknya bagaimana Lois meracunin ibunya.
"Mas jangan terlalu kasar sama anak-anak. Reki, keponakan tante itu orang tuanya sangat sibuk. Jadi tante yang dititipkan, kebetulan tante sama ayah kamu mau liburan seminggu doang kok," ucap Lois.
"Iblis gak tahu diri! Kirim saja dia ke neraka!"
"REKI!" Bentak Samudera.
__ADS_1
Samudera hendak menampar Reki, namun Alaska menahannya.
"JANGAN SAKITI ADIK SAYA!" hardik Alaska.
"Ayah yang akan mengirim kalian ke neraka bersama ibu kalian!"
Emosi Reki sudah tidak dapat di bendung, Reki memukul ayahnya sendiri penuh dendam. Samudera tidak terima jika ia dipukul oleh putranya sendiri, lagi dan lagi Alaska melindungi Reki. Ia memisahkan pertengkaran mereka berdua.
"Reki, jangan melakukan hal yang gegabah." Alaska menahan Reki.
"Memangnya abang terima dengan kematian bunda?" tanya Reki dengan air mata yang mengalir.
"Gak akan ada yang terima dengan kematian bundah, tapi kamu juga jangan gegabah."
"Terserah kalian mau bilang apa, pokoknya besok pagi Oliver ayah antar kesini."
"Jangan seenaknya!" ucap Reki.
"Kamu mau ayah kirim ke luar negeri?" ancam Samudera.
"Reki, diam," ujar Alaska.
"Terserah, kita tidak akan membukakan pintu." Alaska menarik Reki masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu diam saja, biar abang yang urus."
Alaska menutup pintu kamar Reki dan kembali turun, mengusir ayah dan ibu tirinya.
Samudera membanting vas bunga yang ada di ruang tamu, dan keluar dari rumah Alaska dan Reki.
"Akan saya tanamkan ketakutan paling dalam jiwa terdalam kamu," ucap Lois sebelum pergi.
Alaska menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Ia kembali ke kamar Reki.
"Lain kali jangan suka mukul sembarangan," ucap Alaska.
Reki menghapus air matanya. Alaska melemparkan minuman dingin untuk Reki, ia membuka pintu balkon Reki dan duduk di kursi yang ada di balkon.
Alaska membuka ponselnya dan memberi kabar pada Aluka bahwa ia tidak bisa mengjenguknya hari ini.
Aluka pov
Aluka membaca pesan Alaska yang ternyata ia tidak jadi menjenguknya, Aluka sedikit kecewa, namun ia mencoba untuk memahami Alaska.
"Kamu mau makan?" tanya Darren.
"Saya mau kamu pulang," jawab Aluka.
__ADS_1
"Tidak bisa, saya diminta untuk tetap disini selagi Diana tidak ada."
"Saya tidak peduli, saya mau kamu keluar dari sini!" Teriak Aluka.
Karena risih dengan keberadaan Daren, Aluka mengusir Darren. Ia melemparkan barang apa saja yang ada di dekatnya pada Darren. Akhirnya Darren mengalah, ia menunggu Aluka di depan pintu.
"Baik, saya keluar."
Aluka kembali tenang. Ia menarik selimutnya dan berusah untuk tertidur.
***
Alaska pov
Pagi-pagi buta rumah Alaska kedatangan tamu, seperti yang Samudera bilang kemarin. Ia mengantar keponakan dari Lois ke rumah Alaska.
"Mau apa lagi?" tanya Alaska yang masih muka bantal.
"Alaska, ini Oliver Gabriella. Dan Oliver, ini Alaska Rakfara, anak om." Samudera mengenalkan Alaska pada Oliver begitu pula kebalikannya.
Oliver Gabriella, seorang gadis cantik nan imut ini adalah keponakan Lois. Ia bersekolah di salah satu sekolah swasta ternama, dengan penampilannya yang imut, ia dapat memikat banyak hati pria.
"Halo, Aku Oliver. Salam kenal ya," ucap Oliver.
"Saya akan kembali tidur," ucap Alaska hendak menutup pintunya.
Samudera menahan Alaska, "Alaska!"
Setelah cekcok, akhirnya Alaska mengalah. Samudera kembali setelah mengantar keponakan Lois.
"Bye, om!"
Alaska masuk diikuti oleh Oliver. Alaska menunjukkan kamar tamu untuk ditempati Oliver.
"Rumah kamu luas ya," ucap Oliver.
"Jangan bikin ulah. Kamu tidak diterima disini, setelah satu minggu kamu harus keluar dari sini," ucap Alaska dingin.
"Dingin banget," ujar Oliver.
"Saya mau kembali ke kamar," ucap Alaska.
"Okey." Oliver membereskan barang-barangnya.
Langit mulai menerang, matahari mulai muncul. Alaska sudah bersiap untuk bertemu dengan Aluka, ia juga memasak makanan untuknya.
"Reki, makanan abang taruh di meja makan ya," ucap Alaska di depan pintu Reki.
__ADS_1
"Iyaaa," sahut Reki yang masih ingin tertidur.
Alaska mengambil kotak makan yang sudah ia siapkan, namun ia melihat Oliver berada di dekat kotak makan itu.