
Pulang sekolah ini Aluka berniat untuk menemani Karin membeli sepatu untuk adiknya yang sedang berulang tahun, Aluka juga membelikan adik Karin sebuah hadiah.
“Menurut lo bagus warna hitam atau putih?” tanya Karin.
“Bagus putih sih, soalnya gue beliin hoodie buat adik lo warnanya putih. Tapi kalau hitam bagus juga.”
“Skip, gak ada gunanya nanya sama lo,” ucap Karin sambil menaruh kedua sepatu yang di pegangnya dan mengambil sepatu berwarna merah lalu membayarnya ke kasir.
Setelah membeli hadiah untuk adiknya, Karin dan Aluka pergi menuju rumah Karin.
“Karin pulang,” ucap Karin memasuki rumahnya dan membuka sepatunya.
Aluka mengikuti Karin, setelah bersalaman dengan asisten rumah Karin, mereka berdua langsung ke kolam renang yang berada di belakang rumah. Ternyata sudah banyak teman-teman dari Ramos, adik Karin.
“Ramos, happy birthday ya!” ucap Aluka sambil memberikan kado kepada Ramos.
“Waah, makasi kak luka.” Dengan senang hati Ramos menerima pemberian dari Aluka.
“Sama-sama.”
“Ramos, adik gue yang sifatnya kayak setan, kelakuannya kayak gembel. Selamat ulang tahun ya!!! Ini gue beliinn kado buat lo,” ucap Karin.
“Asikk, makasi kakak ku yang gak pernah laku.”
“Sialan lo!”
Mereka bertiga tertawa, Aluka terlihat menikmati pesta yang diadakan oleh keluarga Karin.
***
Tak terasa hari sudah mau malam, Aluka berpamitan kepada kedua orang tua Karin untuk pulang. Aluka menelpon Pak Joko dan menunggunya di depan gerbang rumah Karin. Tak lama kemudia Pak Joko datang, karena cuaca hujan Pak Joko membawa payung untuk membawa Aluka masuk ke dalam mobil.
“Besok aku gak usah di jemput ya pak, mau pergi dulu.”
“Gak bapak anterin aja non?”
__ADS_1
“Gak usah pak,”
“Baik non.”
Aluka langsung merebahkan tubuhnya ketika ia sampai di kamarnya. Tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu, Aluka tertidur pulas.
Pada tengah malam Aluka terbangun, karena ia ingin membuang air kecil. Setelah membuang air kecil Aluka memeriksa ponselnya. Ternyata terdapat banyak pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
“Ini siapa?” tanya Aluka pada dirinya sendiri.
Saat membaca pesan tersebut, barulah Aluka mengetahui siapa pengirim pesan itu.Karena malas meladeni Reyga, Aluka mematikan daya ponselnya dan menchargernya. Lalu ia mempersiapkan buku untuk pelajaran esok.
***
Selamat pagi dunia.
Dunia yang ku kenal sebagai tempat penyiksaan, namun dapat membuat kenangan yang indah. Luka yang kau berikan menjadikan ku semakin kuat dalam bertahan, namun masalah yang kau buat terkadangan menjadikan ku sebagai makhluk tuhan yang tidak bersyukur dan selalu meminta kematian. Aku berharap, hari ini kau memberikan ku kejutan yang luar biasa.
- Aluka.
Aluka menutup diarynya, ia bangkit dari meja belajarnya dan turun ke bawah.
“Pagi juga, bi. Hari ini aku langsung aja ya ke sekolahan.”
“Gak sarapan dulu non?” tanya Bi Inah.
“Nggak, di sekolah aja.” Aluka berpamitan pada Bi Inah dan berangkat bersama Pak Joko.
“Kenapa pagi sekali non? Belum ada jam setengah enam loh ini,” tanya Pak Joko.
“Hehe iya pak, mau ngerjain tugas di sekolah aja.”
“Waduh, kirain bapak kenapa. Kalau ada apa-apa non luka gak usah ragu buat cerita sama bapak atau Bi Inah ya non,” ucap Pak Joko dengan penuh kasih.
“Iya pak, terimakasih ya.”
__ADS_1
Keduanya tersenyum, Aluka merasa beruntung karena mempunyai asisten rumah tangga seperti Bi Inah dan Pak Joko.
Setelah sampai di gerbang sekolah Aluka berpamitan kepada Pak Joko dan menyapa ramah satpam. Pagi yang masih gelap, bahkan murid yang datang masih bisa dihitung menggukan jari. Sebelum masuk ke kelasnya, Aluka ke kantin terlebih dahulu untuk sarapan. Ia meminta ibu kantin untuk merebus mie yang ia bawa dari rumah.
“Ibu, bisa minta tolong rebus mie?”
“Oh iya boleh.”
Aluka memberi mie samyang yang terkenal pedas. Aluka menunggu sampai mienya matang dan tak butuh waktu yang lama, mie miliknya sudah siap disantap. Aluka memberikan selembar uang sepuluh ribuan untuk membayar ibu kantin dan naik ke kelasnya.
Pintu kelas masih tertutup rapat, bahkan lampu di kelas Aluka masih belum menyala. Aluka membuka pintu kelasnya lalu menutupnya kembali, ia menyalakan lampu kelasnya, namun ia terkejut karena ternyata sudah ada makhluk hidup selain dia di kelas ini yang sedang tertidur.
“Woi!” Aluka refleks teriak.
Makhluk hidup selain Aluka itu terbangun dari tidurnya. Dan dengan menyipitkan matanya karena menetralkan cahaya yang masuk.
“Reyga?”
Reyga menatap Aluka dengan tatapan melas seperti orang yang menggunakan narkoba.
“Emmmm, Aluka? Lo dateng pagi banget,” ucap Reyga smabil mengulet dan mengucek matanya.
Aluka mengabaikan Reyga, ia beralih ke tempat duduknya dan memakan sarapannya, seporsi mie pedas dengan minum segelas es matcha. Reyga yang melihat Aluka memakan mie dipagi hari pun menghentikan Aluka.
“Eh gila lo, ini masih pagi.”
Aluka mengabaikan Reyga sekali lagi, ia tetap memakan mienya dan fokus pada ponselnya. Tak terima diabaikan lagi, Reyga mengambil mie milik Aluka.
“Reyga balikin!”
“Gak, masih pagi lo gak boleh makan mie, apalagi pedes gini.”
“Bacot, balikin!” Aluka berusaha meraih mie yang diambil Reyga namun karena porsi tubuh Aluka yang pendek, ia tidak bisa menggapainya.
“Ini masih pagi luka, nanti kalo lo sakit perut gimana?” tanya Reyga sambil meninggikan mie Aluka yang berada ditangan kanannya.
__ADS_1
Aluka diam menunduk, seketika suasana menjadi hening dan menjadi horor. Reyga merasakan aura yang tidak biasa keluar dari tubuh Aluka. Aluka mengangkat kepalanya dan memandang Reyga dengan tatapan kosong. Reyga menelan salivanya, ia menatap balik Aluka dengan tatapan panik.
Karena suasana yang begitu mencengkam, Reyga terpaksa mengembalikan mie Aluka. Aluka menerimanya tanpa kata dan segera menghabiskan mie tersebut tanpa menganggap kehadiran Reyga.