
Pagi ini waktunya kelas Aluka yang melakukan olahraga di lapangan. Semua murid sudah berbaris dan akan melakukan pemanasan. Aluka dan Reyga masih diam tidak saling bicara, sebenarnya Reyga ingin bicara dengan Aluka, namun ia segan karena wajah Aluka masih belum berubah.
“Luka lo kenapa sih?” tanya Karin yang berada di belakang Aluka. Aluka hanya membalikkan badannya tanpa menjawab pertanyaan Karin. Lagi-lagi Aluka membuat orang menelan salivanya.
“Gak jadi, lo balik badan lagi aja.” Karin membalikkan badan Aluka ke posisi semula.
“Mampus Aluka mode savage, siapa yang bikin dia kesel pagi-pagi.” Karin bergumam kecil, namun Reyga mendengarnya karena ia tepat berada di samping Karin.
“Aluka kenapa?” tanya Reyga.
“Gak tau, kayaknya ada yang bikin dia badmood pagi ini,” jawab Karin.
“o-ohh.” Reyga hanya bisa ber-oh pasrah.
“Hei itu yang dibelakang!” Pak Jaul berteriak menunjuk Karin dan Reyga.
Keduanya terkejut, bukan mereka saja tapi semuanya.
“Iya pak?” tanya Karin.
“Kenapa ngobrol? Orang lagi pemanasan kok!”
“Hah? E-engga pak." Karin mengeles.
“Nggak apaan, saya liat kok. Pokoknya untuk kalian berdua, larinya jadi lima kali muterin lapangan!”
“Yahh, bapak serius aja dong. Masa lima kali, kebanyakan tuh,” keluh Karin.
“Gak ada, laksanakan sekarang! Kalian semua juga!”
Akhirnya semua lari memutari lapangan.
Karena guru tiba-tiba ada rapat dadakan, semua kelas menjadi jam kosong.
“Ting!”
Notifikasi muncul di layar HP Aluka. Ternyata Diana. Satu pesan teks yang dikirim Diana dapat membuat Aluka menjatuhkan botol minum yang sedang ia pegang. Karena botol tersebut terbuat dari bahan yang mudah pecah, semua tatapan menuju pada Aluka.
“Luka, lo kenapa?” tanya Karin yang sedang bermain basket menghampiri Aluka yang berada di bawah pohon. Tak hanya Karin, namun Reyga juga ikut menghampiri Aluka.
__ADS_1
Aluka menatap Karin dengan mata yang membendung air mata.
“LUKA LO KENAPA?” tanya Karin panik.
Karin beralih pada HP Aluka. Ia juga terkejut dengan apa yang dikirimkan Diana.
“M-maksudnya? Maksudnya nyokap lo ngirim pesan kayak gini apaan luk?” tanya Karin.
“Gue... Gue gak tau.” Aluka terdiam.
Andara juga melirik HP Aluka.
“Luka, kamu mau tinggal bersama mama atau papa? Mama sama papa akan berpisah.” Reyga membaca isi pesan itu.
Aluka menghapus air matanya yang hampir jatuh dan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Aluka menelpon Diana untuk meminta penjelasan, untungnya Diana segera mengangkat panggilan dari anak tersayangnya.
“Mah?” tanya Aluka dengan nada yang lirih.
“Iya sayang,” sahut Diana disebrang sana.
“Maaf sayang, untuk saat ini mama belum bisa jelaskan. Mama akan pulang malam ini, mama jelaskan semuanya dirumah ya.” Diana menutup panggilan tersebut.
Aluka memasukan Hpnya kedalam saku celana olahraganya.
***
Setelah melewati jam pelajaran yang panjang, Aluka kini bergegas pulang dan menunggu Pak Joko di depan gerbang. Aluka sudah menunggu lama, namun Pak Joko belum juga sampai. Sampai akhirnya Pak Joko mengabarkan bahwa ban mobilnya meletus dan harus segera dibawa ke bengkel.
Karena sudah menunggu lama, teman-teman Aluka juga sudah pulang. Hanya tersisa anak-anak yang mengikuti eskul. Aluka memesan ojek online, namun entah mengapa ia tidak mendapatkan pengemudi. Dengan terpaksa, Aluka berlari dari sekolahnya sampai ke depan supermarket yang ada di dekat sekolahnya untuk mencari ojek biasa. Walaupun jika berjalan kaki itu cukup jauh.
Karena beban Aluka dan tas yang berisi buku, Aluka menjadi lebih cepat lelah. Ia berhenti berlari, dan berjalan. Sungguh sial nasibnya, langit ikut menangis hari ini. Hujan turun dengan lebat dalam sekejap.
Aluka berteduh sebentar dipinggir pohon, ia takut kalau buku-bukunya basah. Aluka juga bukan seorang yang tahan terhadap dingin. Apalagi langit mengeluarkan guntur yang besar sedari tadi.
Memang Aluka tidak terlalu takut terhadap guntur, namun suasana hatinya sedang kacau. Ia bahkan tidak berhenti menangis, air matanya bercampur dengan air hujan yang turun dari dedaunan pohon yang Aluka jadikan tempat teduh.
“Kenapa nangis?” tanya seseorang sambil memberikan jaketnya kepada Aluka.
__ADS_1
Aluka menatap orang tersebut, “Reki?”
“Reki?”
“Lo ngapain disini? Lo mau ngeledekin gue??” tanya Aluka sambil melempar jaket yang diberikan padanya.
“Saya bukan Reki,” jawab orang itu.
“Gak mungkin. Apaan sih, gue lagi gak mau becanda rek, mending lo pergi dari sini!” Aluka meluapkan emosinya, air matanya masih mengalir dengan deras.
Tiba-tiba orang yang Aluka panggil Reki itu memeluk dirinya. Mata Aluka terbelalak. Kenapa Reki berbuat seperti ini? Ini bukan wataknya sama sekali!
“Tolong, jangan menangis. Saya tidak bisa melihat perempuan menangis,” ucap orang itu sambil ikut meneteskan air mata. Aluka melepaskan pelukannya.
“Kalo bukan Reki, lo siapa?” tanya Aluka.
“Saya Alaska, abangnya Reki.”
“Alaska?” tanya Aluka.
“Iya, kamu Aluka kan?”
“Iya.”
“Saya dengar, adik saya bikin malu kamu di depan umum ya? Maafin dia ya, dia memang anak yang keras kepala.”
“Oh,”
“Kamu kenapa nangis?”
“Gak apa-apa.” Aluka menghapus air matanya.
“Saya anterin ya, pakai jas hujan saya.”
“Gak perlu,” tolak Aluka. Namun, Alaska tetap memakaikan jas hujannya kepada Aluka yang sebelumnya dipakaikan jaketnya terlebih dahulu.
Alaska mengantarkan Aluka sampai di depan rumahnya. Setelah berterimakasih pada Alaska, Aluka masuk ke dalam.
Karena hujan sempat membasahi Aluka, Aluka mengganti bajunya terlebih dahulu. Disaat Aluka selesai mengganti mengganti baju, terdengar suara mobil milik Diana. Aluka mengintip dari jendela kamarnya, dan benar saja Diana sedang keluar dari mobilnya.
__ADS_1