Luka Alaska

Luka Alaska
LEMBARAN - 14


__ADS_3

Pacar Reyga yang bernama Lea memutuskan sambungan teleponnya. Reyga memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya pasrah. Saat ini ia hanya ingin berada di sisi Aluka.


Reyga menancapkan gasnya penuh, ia mengendarai motor layaknya seorang pembalap. Membahayakan dirinya sendiri, walau begitu ia tetap tidak peduli.


Karena kecepatan Reyga membawa motor, tak membuatnya berlama-lama di jalan. Ia sampai di sekolah dua puluh menit sebelum bel. Reyga masih belum melihat Aluka, ia khawatir Aluka tidak akan bicara lagi dengannya.


Dengan resah Reyga menunggu, akhirnya seseorang yang ditunggu-tunggu datang juga. Aluka berjalan melewati Reyga tanpa meanggap kehadirannya. Reyga pun enggan untuk menyapa Aluka, perang dingin ini dimulai.


Aluka pov


Setelah memberikan Reyga masukan yang menusuk, Aluka menjadi enggan berbicara dengan Reyga. Ia hanya ingin menghindari masalah yang akan masuk ke kehidupannya.


"Luka, lo sama Reyga ada masalah?" tanya Ara.


"Enggak," jawab Aluka.


"Dari tadi Reyga ngeliat lo terus, biasanya dia langsung gangguin lo aja," ucap Ara penasaran.


"Mana gue tau, sakit gigi kali dia." Aluka menjawab asal.


Dari awal masuk hingga pulang sekolah, Aluka dan Reyga masih diam tidak saling bicara.


"Aluka?" panggil Reki.


Aluka yang sedang merapihkan bukunya langsung mempercepat gerakannya dan menghampiri Reki yang berada di luar kelas.


"Kenapa?" tanya Aluka.


Reki melirik kanan dan kiri, ia menarik Aluka untuk menjauh dari keramaian.


"Lo pernah ketemu Alaska?" tanya Reki.


"Alaska? Kakak lo?"


"Iya."


"Kenapa emang?" tanya Aluka.


Reki mengeluarkan sebatang cokelat untuk Aluka.


"Dia nitip ini ke lo," ucap Reki.


"Hah?"

__ADS_1


Reki menghela nafasnya, "Tadi pagi dia nitipin ini ke lo, katanya sebagai permintaan maaf dari dia. Walaupun gue gak tahu lo sama abang gue ada hubungan apa."


"Minta maaf soal apa?"


"Ya mana gue tau."


Aluka menerima cokelat yang diberi Alaska untuknya, namun ia bingung tujuan Alaska memberinya cokelat.


"Gue duluan. Oh iya, kalau bisa jangan deket-deket sama abang gue, gue gak mau lo jadian sama dia, ngerti!?"


"Suka-suka gue," ucap Aluka.


"Ck." Reki berdecak kesal, lalu ia pergi dari tempat itu.


Aluka membuka bungkusan cokelat yang ia terima, dibalik bungkusan itu terdapat sticky note yang ditulis Alaska.


'Saya minta maaf atas apa yang terjadi kemarin di ruang musik."


Aluka tertawa kecil membaca tulisan itu, ia tak menyangka masih ada orang yang rela meminta maaf walau bukan karena kesalahannya.


Aluka memesan ojek online untuk pulang dan berniat memakan cokelat itu di rumahnya. Setelah sampai di rumah, Aluka mendinginkan terlebih dahulu cokelat yang sudah hampir meleleh itu, sembari membersihkan rumahnya.


Selesai dengan pekerjaan rumahnya, kini Aluka berbaring dengan santai di kasurnya. Ia membuka Instagram sambil memakan cokelat yang diberikan Alaska. Disaat Aluka menscroll beranda, tiba-tiba ia tidak sengaja memencet salah satu akun dari rekomendasi. Secara kebetulan, akun yang dipencet Aluka adalah akun Instagram Alaska. Dengan foto profil bayangan Alaska, ribuan pengikut, dan 1 postingan saja.


'@alaskarakfara_ mulai mengikuti anda'


Aluka tersenyum manis.


Alaska pov


Saat ini Alaska sedang berada di lapangan futsal dekat sekolahnya. Karena waktu pertandingan Alaska dan timnya sudah selesai, Alaska membuka ponselnya dan melihat notifikasi yang muncul. Ada banyak sekali notifikasi mulai dari WhatsApp, Facebook, Instagram, dan lainnya, namun Alaska terfokus pada salah satu notifikasi yang mengambang.


'@alukadynr mulai mengikuti anda'


"Namanya tidak asing," ucap Alaska dan menstalk akun itu.


Ia tersenyum tipis, senyumnya makin lama semakin melebar setelah ia melihat seluruh postingan Aluka, hingga sorotan cerita. Ia segera memencet tombol 'ikuti kembali' dan menyapa Aluka lewat chat.


@alaskarakfara_


Hai


Alaska menunggu jawaban dari Aluka, namun selang setengah jam masih belum ada jawaban dari Aluka. Alaska mengambil tasnya dan segera pergi dari tempat futsal itu.

__ADS_1


"Aska, gue duluan ya," ucap Aradam, teman satu sekolah Alaska.


"Oh, iya. Hati-hati dam," ucap Alaska.


Alaska memarkirkan motornya digarasi rumahnya. Ia langsung disambut oleh adiknya, Reki.


"Bang," panggil Reki.


"Hm?" sahut Alaska sambil berbalik.


"Lo deket sama Aluka?" tanya Reki.


"Kepo," jawab Alaska meledek Reki.


"Bang, gue serius."


"Seperti yang kamu lihat saja," ucap Alaska.


"Gue serius bang, jangan deket-deket sama dia deh!"


"Gue-gue, udah dibilang jangan pakai gue-lo sama abang," ujar Alaska.


Alaska masuk ke dalam rumahnya dan menuju dapur, untuk mengambil apel yang ada di kulkas. Reki masih terus mengikuti Alaska.


"Iya, maaf. Tapi seriusan bang, jangan mau sama dia."


"Kenapa coba?" tanya Alaska duduk di meja makan dengan kursi yang dihadapkan pada Reki sambil menggit apel yang ia ambil.


"Dia tuh suka sama Reki,"


"Terus? Bukannya kamu sudah punya pacar? Bukannya kamu juga yang bikin malu dia?" tanya Alaska.


"Iya, abang gak tahu dia tuh kayak gimana."


"Emangnya kayak gimana?"


"Dia ... "


"Gak bisa jawab kan kamu, udah urusi urusan kamu dulu saja. Kamu pikirin gimana caranya supaya pacar kamu gak ambekan."


"Bang!"


Alaska tertawa kecil dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2