
Suto Malin Masih berada di cimpur. Ia telah berhasil menyusun kekuatan kecil dengan mengumpulkan para pemuda yang mau berjuang bersamanya. terhitung sudah 100 orang lebih yang bergabung secara sukarela, berjuang bersama Suto malin, kancun dan kirun. para pemuda itu bukan hanya dari cimpur tapi juga dari desa sebelah yang sudah tak tahan lagi dengan perlakuan belanda.
Walau Dengan kekuatan yang masih kecil, dan peralatan perang yang minim, namun semangat mereka berapi-api untuk memberontak melawan pemerintahan kolonial belanda.
Suto malin dan kancun Melatih para pemuda sukarelawan itu dengan Seni beladiri yang mumpuni maupun tekhnik menggunakan senjata tajam.
Sedangkan untuk tekhnik Mempergunakan Senjata laras panjang, Sikirun lah yang melatih mèreka. Karna selama bekerja dengan belanda, Kirun sudah banyak belajar menggunakan senjata api pada para serdadu.
Namun, Kirun tetap di bayang-bayangi oleh masa lalu. Kematian Kedua orang tua beserta adiknya, masih menjadi boomerang di hati kirun. Jujur,, Ia belum bisa melupakan begitu saja perlakuan orang-orang kampung terhadap keluarganya. Apabila kirun mengingat hal tersebut, maka ingin rasanya ia pergi dan merapat kepada pemerintahan kolonial dan membumi hanguskan kampung ini.
Disisi lain, hatinya juga tak tega melihat perlakuan para serdadu belanda terhadap masyarakat pribumi. Selama bekerja sebagai pendekar bayaran belanda, ia sudah banyak menyaksikan, bahkan ia sendiri telah ikut melakukan kesalahan dengan begitu saja mengikuti perintah letnan aldert membunuh saudara sebangsanya sendiri.
Kirun sering menyendiri. mengenang segala dosa-dosanya dan mengenang penderitaan keluarganya ketika menjelang ajal. ia tak bisa membayangkan bagaimana panasnya sijago merah menghanguskan tubuh ayah, ibu dan adik perempuannya lima belas tahun yang lalu.
" Apa Yang kau pikirkan..?" Tiba-tiba kirun di kejutkan oleh Suara kancun yang sudah duduk di sampingnya.
Kirun menarik nafas dalam.
" Sering ku lihat kau menyendiri.., Kau masih memikirkan tragedi kematian orang tuamu ?" tanya kancun lagi.
" Aku tak bisa melupakannya sejenakpun. Aku terkadang merasa bersalah pada keluargaku jika membantu orang-orang kampung yang telah mencelakai mereka..." ucap kirun pelan.
" Tapi apakah kau pernah merasa bersalah setelah membunuh puluhan nyawa selama bekerja pada mereka..?"
Kirun memalingkan wajahnya.
" Sudahlah,, lupakan saja semua yang telah terjadi. anggap saja ini adalah suratan tangan dan takdir untukmu. Masyarakat sudah memaafkan semua kesalahanmu yang telah membunuh saudara dan keluarga mereka, tapi kenapa kau tak memaafkan kesalahan mereka ?" Kancun mencoba memberi pemahaman pada kirun.
__ADS_1
Kirun tertunduk sembari menghela nafas.
Sementara itu di halaman surau, Suto malin masih melatih para sukarelawan dengan Seni ilmu beladiri..
Sebuah kereta kuda Memasuki halaman surau, serentak para pemuda yang sedang berlatih menghentikan kegiatannya. Suto malin mengamati siapa yang datang, kemudian tersungging senyuman di bibirnya. Suto malin segera menyongsong Ketempat parkirnya kereta kuda itu.
" Apa kabarmu abang ?" Kata suto malin memeluk erat lelaki tegap yang datang itu.
" Alhamdulillah Sangat baik Suto.."
Yang barusan datang itu adalah Sutan sati Dasman Atau yang bergelar lengkap ' Sutan dasman angku sati', Guru besar padepokan Harimau cakrawala Di ranah Kayu maranting.
" Mari silahkan duduk.." suto malin mempersilahkan tamunya duduk di sebuah pelataran di halaman surau yang luas itu.
" Bagaimana abang bisa sampai datang kesini..?" Tanya suto malin.
Suto malin mengernyitkan dahinya. " Kacau bagaimana ?"
Sutan sati dasman menceritakan keributan antara Sutan saluak balingka dan Arya Garende. Suto malin manggut-manggut.
" Kalau menurut saya, jika yang berpihak pada belanda hanya 15 perguruan, sebaiknya mereka di keluarkan saja dari perkumpulan itu. sedangkan yang pro pejuang di satukan, jadi tak mesti harus di bubarkan.., sangat di sayangkan..." Kata Suto malin memberi pandangan.
Sutan sati dasman menghela nafas. " Yaaah,, apa yang hendak di kata lagi, semua perguruan silat yang hadir telah sepakat takkan lagi Ikut pertemuan itu kedepannya."
Suto malin mangut-manggut. " Oh ya.., ngomong-ngomong abang dapat kabar dari mana keberadaan saya di desa ini ?"
Sutan Sati dasman tersenyum. "aku mendengar informasi terbaru kematian letnan Aldert di desa ini. aku juga mendengar tentang paku beracun yang banyak menewaskan serdadu belanda. mendengar kabar itu aku sudah bisa memastikan jika paku itu adalah senjata pamungkasmu."
__ADS_1
Suto malin tertawa renyah. " Berkat bantuan warga, kami bisa menghabisi mereka dan melepaskan para tawanan..."
" Tapi kamu harus hati-hati, suto... Seperti biasanya, satu orang saja serdadu tewas, Maka kolonial akan menuntut balas untuk menyerang besar-besaran. Aku yakin, saat ini mereka tengah menyusun rencana untuk kembali mencarimu. kalau menurut saranku, sebaiknya kau jangan melatih orang-orang di halaman terbuka ini, carilah tempat tertutup di pedalaman atau hutan, agar kau aman.., kau sudah menjadi buronan mereka, suto.." Saran Sutan sati dasman.
Suto malin tersenyum, ia tahu kekhawatiran sutan dasman itu bisa saja terjadi hari ini, malam nanti, atau esok hari. tapi suto malin tak pernah takut, karna ia juga telah mempersiapkan semuanya. Kekuatannya memang hanya kecil,, tapi ia telah merakit beberapa ranjau manual yang di tanam di setiap jalan masuk ke area kampung.
" Abang jangan hawatir, kami telah mempersiapkan semuanya.." Suto malin tersenyum menenangkan saudara angkatnya itu.
Sementara, Karun dan kancun ketika melihat kedatangan Sutan sati dasman, mengamati dari arah tempat mereka duduk.
" Siapa yang datang itu..?" tanya kancun.
" Bukankah itu Guru sanggar silat Harimau Cakrawala ?" jawab kirun.
" Ooh,, sutan dasman angku sati kah..?, ayoo kita kesana.." kancun bergegas kehalaman surau, di iringi oleh kirun di belakang.
" Assallammualaikum, tuan.." Sapa Kirun Pada Sutan sati dasman sembari menyalami guru besar itu, di ikuti oleh kirun.
" Waalaikumsalam..." Jawab sutan sati dasman membalas salam kedua pemuda itu, senyum hangat mengembang dibibirnya.
Mereka melanjutkan pembicaraan..
" Sehari sebelum aku berangkat ke luhak nan bungsu, Seorang utusan belanda yang berdarah pribumi datang menemuiku. Mereka Ingin mengajakku untuk bergabung dengan mereka dalam memadamkan pemberontakan. Nampak jelas rencana mereka, di karenakan banyaknya pemberontakan-pemberontakan yang di lakoni oleh para pesilat, maka mereka dengan cepat melobi perguruan-perguruan silat yang ada di pesisir barat. Kalian harus hati-hati,, yang kalian hadapi ini bukan hanya orang-orang eropa, tapi bisa saja para pesilat pribumi yang sudah berhasil mereka rangkul.." Ucap sutan sati dasman.
" Insya allah.., allah akan melindungi kami.. " Ucap suto malin.
Tampa di sadari mereka, Sepasang mata tengah mengamati dari balik-balik semak di atas bukit... Siapa Dia..?, Dan apa tujuannya mengamati gerak gerik suto malin..?,, Entahlah.., Belum di ketahui...
__ADS_1