
Mentari pagi mulai mengintip di balik perbukitan, samar-samar cahayanya sampai di dalam ruangan yang pengap di gudang senjata.
Dua tubuh manusia yang tergolek lemah terbaring memiringkan badan mereka dengan tangan yang masih terikat. hampir dua hari mereka menempati ruangan tahanan itu tampa di kasih makan dan minum.
Meski begitu, walau dengan tubuh lemah dan rasa dahaga yang luar biasa di sertai rasa lapar yang membabi buta, semangat hidup mereka tak pernah pupus. Semangat mereka masih bergelora untuk berjuang. mereka tak pernah merasa gentar walau mereka tahu pagi ini adalah detik-detik terakhir mereka akan meregang nyawa di tiang gantungan.
Harapan mereka hanya dua, jika di izinkan tuhan untuk tetap hidup maka mereka akan tetap berjuang membebaskan tanah air mereka dari cengkraman para penjajah. Namun apabila mereka memang di takdirkan untuk mati di tiang gantungan, mereka berharap para pemuda pemudi yang lain akan melanjutkan perjuangan mereka..
"Tuan Suto.." Terdengar suara kancun.
"Ya.." jawab suti malin.
"Sendainya hari ini tak ada yang akan datang membebaskan kita dari tiang gantungan, Saya akan tetap berusaha untuk membebaskan diri walau harus mati di ujung senapan laras ketimbang mati di tiang gantuangan tampa melakukan perlawanan sama sekali.." Ucap kancun.
Suto malin tersenyum. "Sayapun begitu.., tapi tenang saja, kawan-kawan kita pada saat ini sudah merencanakan sesuatu untuk membebaskan kita. kita tunggu saja.."
Derap langkah sepatu terdengar di luar ruangan. pintu terkuak, empat orang serdadu muncul. mereka menuntun suto malin dan kancun untuk berdiri dan ikut dengan mereka.
Dua orang pejuang itu berjalan tertatih-tatih. sesampai di luar Canti klewang, kapten dedrick dan sepuluh orang serdadu yang lain telah berdiri sembari tersenyum menyeringai ke arah mereka.
"Kasihan sekali kalian.., para anak muda yang mesti mati sia-sia. padahal kalian belum merasakan menikah dan berumah tangga.." Kata kapten dedrick dengan nada sindiran.
Suto malin dan kancun hanya diam dan menatap kapten dedrick dengan wajah geram.
"Mereka sedang di tunggu di syorga oleh para bidadari, tuan.." Sela canti klewang di iringi tawa lebarnya.
Kapten dedrick ikutan terbahak-bahak mendengarkan celotehan canti klewang si penjilat.
Suto malin dan canti klewang semakin geram, mereka tahu tujuan perkataan canti klewang.
"Jangan kalian bawa-bawa agama dan kepercayaan kami..!" teriak kancun.
Kapten dedrick dan canti klewang kembali menyeringai.
__ADS_1
Kapten dedrick mendekati mereka. "Apa permintaan terakhir kalian?"
Suto malin dan kancun tersenyum sinis.
"Permintaan ku tak kan bisa kalian penuhi.." suto malin menjawab. "permintaanku hanya satu,, semua orang-orang belanda angkat kaki dari dari bumi andalas, pulang ke kampung kalian di eropa sana..!"
Kapten dedrick tertawa terbahak setelah suto malin bicara.
"Suto malin.., aku bangga dengan semangat juang dan keberanianmu. tapi sayang kau salah jalan,, kau ingin mengusir tuan rumah dari rumahnya sendiri..?!, hahaha.."
"Tak tahu malu..!" umpat kancun. "Kalian adalah pecundang di negri kami, merampas tanah dan perkebunan kami!."
Kapten dedrick mendekat ke arah arah kancun. "Kamu pikirkan pakai otak, atau memang kamu nggak punya otak??,, pikirkan.!, kami telah banyak membuat perubahan disini. semua fasilitas yang ada di negeri ini adalah buatan orang-orang belanda. kalau bukan karna kami semua kota kota di negeri ini akan jadi kota mati..., kamilah penggerak ekonomi di tanah kalian..!,, dasar orang-orang bar-bar yang bodoh..!"
Kancun kembali menyeringai. "Keuntungannya adalah untuk kalian sendiri, sementara pribumi yang punya tanah kalian jadikan budak..!"
"Dasar orang bodoh !, kalian takkan mengerti!" maki kapten dedrick
Lebih dari 70 para serdadu menggiring suto malin dan kancun. dengan langkah yang tertatih-tatih dan kelelahan.
Kurang dari satu kilo perjalanan yang di tempuh, para serdadu itu di kagetkan oleh tumbangnya dua pohon Besar di depan mereka, sehingga menghalangi jalan yang akan di lalui. Rombongan itu terhenti sejenak, beberapa orang serdadu memeriksa kenapa pohon itu bisa tumbang.
Seorang serdadu kaget, setelah di periksa ternyata pohon itu bukan tumbang karena angin ataupun tumbang dari akarnya, tapi bekas sengaja di tebang. terlihat tunggulnya menyisakan potongan...
"Pohon ini bukan tumbang karena angin, tapi memang sengaja di tebang untuk menghalangi jalan kita." serunya pada kawan-kawannya.
"Hati-hati, sepertinya ada komplotan yang ingin menyerang kita." sorak serdadu yang lain.
Semua serdadu mendengarkan intruksi temannya itu. mereka sudah siap-siap dengan senjata laras panjang yang mereka tenteng..
"Ayo.., kita lanjutkan jalan sembari waspada..!"
Mereka melanjutkan perjalanan dengan mencoba melangkahi batang pohon yang merintangi itu dengan kaki mereka..
__ADS_1
Siiiit..!!
"Aakh..!"
Baru saja melangkahkan kaki, beberapa anak panah melesat cepat kearah mereka, tepat mengenai batang leher 5 orang serdadu. mereka tersungkur ketanah ketika beberapa anak panah tersebut menembus urat nadi mereka..
Suto malin dan kancun saling pandang, mereka sama-sama melempar senyum. pertolongan untuk mereka akhirnya datang juga..
Para serdadu berpencar mencari dari mana arah anak panah itu muncul. akan tetapi tak ada satupun yang melihatnya dengan detil. anak panah itu seperti bayangan tak terlihat, sekejap mata melesat dan memakan korbannya.
"Aaaaakh..!"
Lagi,, lolongan panjang terdengar dari delapan orang serdadu belanda yang perutnya sudah di tembuh oleh bebarapa anak panah...
Para serdadu yang semakin panik dan cemas menembakan senjata mereka ke atas tebing, walau mereka tak tahu pasti apakah dari sana anak panah itu di lepaskan.
Swiiiiit...!
"Aaaakh..!" empat orang lagi serdadu tergelepar. mereka kian panik..
"Dari arah sana..!" Salah seorang serdadu menunjuk kearah semak-semak belukar di sebelah kiri jalan setapak itu.
Dengan mengendap-endap, sepuluh orang serdadu menuju ke arah yang di tunjuk kawannya itu.
Door..! Door..!
Tak di sangka, dari arah atas bukit di sisi kanan mereka beberapa kali tembakan di lepas. beberapa peluru mengenai 5 orang serdadu, menggelapar ambruk kebumi dengan bersimbah darah.
Para serdadu kocar kacir. mereka telah di permainkan dan jadi umpan serangan yang tak di duga. Disaat kebingungan, tiba-tiba dari arah belakang mereka sudah hadir 10 orang pemuda yang melesat begitu cepat menyerang mereka menggunakan parang dan panah.
Serangan yang tiba-tiba itu membuat para serdadu kaget dan tak sempat menodongkan senjata mereka. tak ayal satu persatu dari mereka tewas bersimbah darah..
Dari depan, samping kanan dan kiri mereka juga berdatangan orang-orang yang menyerang membabi buta. mereka telah di kepung dari berbagai arah..
__ADS_1