Macan Bumi Andalas

Macan Bumi Andalas
27. Menyusun Kekuatan Baru


__ADS_3

Nasib seorang penghianat dan pembunuh berdarah dingin itu akhirnya juga mati karna di khianati. tak ada yang perduli dengan teriakan minta tolong dari tarun limbano. ia yang sebelumnya merasa dirinya sudah hebat dan berbuat banyak dalam membantu belanda ternyata bagi kapten dedrick tak berharga sama sekali..


Waktu terus berlalu, para murid harimau cakrawala yang sebelumnya menghindar dan melarikan diri, kembali ke padepokan dengan tetap waspada, setelah kapten dedrick beserta para serdadunya pergi..


Padepokan Harimau cakrawala tersebut sekarang sudah rata dengan tanah. yang tersisa hanya puing-puing bangunan yang sudah hangus di lalap api. Tampak Kesedihan menghiasi wajah Para murid..


Mereka segera menggali kuburan untuk memakamkan para rekan-rekan mereka yang telah tewas..


Sementara, di atas bukit sebelah selatan padepokan.. sutan sati dasman, suto malin, kancun dan kirun menyaksikan dengan seksama puing-puing bangunan yang sudah runtuh itu..


"Tuan guru.." ucap kirun. "kami minta maaf.., karna kamilah tuan guru harus mengorbankan sesuatu yang sudah lama tuan besarkan...."


Sutan sati dasman tersenyum. "Nggak ada yang salah. kita dalam masa perjuangan.., berjuang akan tetap di bumbui dengan pengorbanan.. aku malahan bangga berjuang bersama kalian.., nanti kita juga bisa bangun kok. harimau cakrawala belum lenyap, masih banyak cabang-cabang kita di daerah lain, juga masih banyak para murid senior yang akan melanjutkan perjuangan kita.."


"Anda memang pejuang sejati, tuan guru.."


Sutan sati dasman tertawa kecut. "Asal kalian tahu., aku adalah korban kebiadaban penjajah. anak istriku tewas ketika mereka memporak porandakan kampung kami 15 tahun silam. aku tak bisa melupakan itu.."


Kirun terperanjat, ia tak menduga jika sutan sati dasman juga mengalami masa lalu yang tragis.


"Maaf, tua guru.. telah mengingatkan masa lalu tuan.." kata kancun dengan nada penyesalan.


"Tak apa,, malahan kenangan itulah yang semakin memperkuat semangatku untuk berjuang.."


Tak lama kemudian, Seorang murid harimau cakrawala mendatangi mereka ke atas bukit tersebut.


"Bagaimana keadaan di bawah..?" tanya sutan sati dasman pada muridnya itu.


"Keadaan sudah aman, guru. mereka sudah pergi.. kawan-kawan tengah menyiapkan pemakaman rekan-rekan kita yang telah gugur,, termasuk pemakaman jasad tuan limbano ganjang yang telah di temukan tewas dengan beberapa bagian tubuhnya hangus terbakar.." Jelas simurid.


"Hah?, tarun limbano?" Mereka terkesiap. Suto malin dan sutan sati dasman teringat kalau ia telah melumpuhkan tarun limbano sehingga ia tak bisa lagi untuk bangun., tapi mereka juga tak menduga jika orang-orang belanda akan meninggalkan guru muda itu dalam keadaan tak berdaya.

__ADS_1


Sutan sati dasman menggelengkan kepalanya berulangkali..


"Tarun.., entahlah.., Kau berkhianat pada orang-orang yang peduli padamu demi mereka yang justru tak perduli denganmu sama sekali..!" gumam sutan sati dasman.


"Itu namanya bodoh dan teramat tolol..!" umpat kancun.


Sementara kirun dan suto malin hanya menarik nafas berat.


"Ayo kita turun, aku ingin melihat apa saja yang di sisakan para belanda itu tempatku..." ajak sutan sati dasman.


Mereka menuruni bukit itu. semakin dekat mereka berjalan ke arah sisa-sisa bangunan semakin terlihat pemandangan yang membuat hati sutan sati dasman trenyuh. tak ada satupun bangunan yang tersisa, semuah telah hangus di lalap api.


Mereka beramai-ramai membantu para murid dalam menguburkan jasad para korban yang bahkan ada yang tak berbentuk lagi dan susah di kenali, karna sebagian tubuh dan wajah mereka hangus terbakar.


Sutan sati dasman memanggil salah seorang muridnya untuk menghadap.


"Ada apa tuan?" Tanya murid itu.


"Kamu pergilah ke nagari 'padang alai' singgahi juga di 'Nagari kampung dalam',, kabari mereka akan kejadian yang telah menimpa kita ini. minta 'Sutan mahmud' dan 'Sutan pakiah rajo suli' untuk datang kesini..."


°°°°


Mendengar kabar duka yang di bawa oleh murid harimau cakrawala dari negeri 'Kayu maranting' itu 'Sutan pakiah rajo suli' dan 'sutan mahmud' terperanjat. mereka adalah dua orang guru yang membuka cabang perguruan silat 'harimau cakrawala' cabang Padang alai dan 'nagari kampung dalam', Tentu saja mereka juga murid sutan sati dasman..


Kedua guru muda itu langsung bergegas hendak menemui sutan sati dasman ke nagari 'kayu maranting'.


Menjelang sebelum masuknya waktu asar, mereka berdua sudah sampai di tempat sutan sati dasman dan tertegun menyaksikan padepokan harimau cakrawala sudah datar dengan tanah. pemandangan yang membuat geram hati mereka.. tempat di mana mereka dulu berlatih silat, kini hanya tinggal puing-puing berserakan..


Mereka menyalami sutan sati dasman dan semua yang ada di sana.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya guru?" tanya sutan pakiah rajo suli pada sutan sati dasman.

__ADS_1


"Sudah kepalang basah, kita harus berjuang hingga darah pengabisan.." kata sutan sati dasman.


"Sebaiknya kita susun rencana di tempatku saja di nagari padang alai.. guru disini tidak aman.., disana kita atur strategi penyerangan. lagian disini guru tak ada lagi tempat tinggal.. mari semuanya pergi ketempat saya.." kata sutan mahmud.


Sutan sati dasman merenung sejenak. ia kemudian menoleh pada suto malin.


"Bagaimana menurutmu suto malin?"


Suto malin menimbang-nimbang. "Saya masih ragu, bang.. kita adalah orang-orang yang paling di buru oleh mereka, apakah kedatangan kita kepadang alai tidak di ketahui oleh mereka?, yang pada akhirnya mereka juga akan menggempur negeri itu.. kalau aku boleh mengusul, kita buat pertahan di hutan saja. disana kita jadikan basis untuk menyusun kekuatan selanjutnya.."


"Menurut saya ada benarnya.." sambung sutan pakiah rajo suli. "Belanda telah menambah pasukan dari padang dan bukittinggi. saya lihat di perjalanan tadi, di setiap ujung kenagarian mereka mendirikan pos-pos pertahanan yang di tempati oleh puluhan serdadu.."


"Saya setuju pendapat tuan suto malin.." kata kancun yang segera di anggukan oleh kancun.


Sutan sati dasman menggut-manggut. "Di mana kita akan bersembunyi?"


" Di atas sana.., tempatnya begitu strategis..!" tunjuk suo malin kepuncak bukit selasih yang tampak dari kejauahan. "Di atas sana kita mulai membangun perjuangan kita..!"


Semua yang ada disana mengangguk setuju.


"Sebaiknya sebelum para serdadu datang, kita sudah berada di sana. saya khawatir mata-mata belanda akan mengintip dan mengetahui kalau kita telah kembali kesini lagi.."


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang.." ucap sutan sati dasman.


Rombongan itupun berangkat ke puncak bukit selasih dengan mengambil jalan pintas melewati area persawahan dan semak-semak belukar.


Ketika sampai di kaki bukit selasih hari susah gelap. mereka memutuskan untuk menginap di kaki bukit tersebut dengan mendirikan tenda yang beratapkan jerami, besok pagi mereka akan memulai mendaki ke atas bukit tersebut..


Sementara itu sutan mahmud dan sutan pakiah rajo suli mohon pamit untuk kembali ketempat mereka masing-masing dan berjanji akan kembali lagi membawa orang-orang untuk bergabung bersama mereka bergerilya.


"Hanya sampai disini kami bisa mengantar guru.., dalam waktu dekat kami akan kembali lagi membawa para murdi yang terlatih untuk bergabung bersama kita berjuang.." kata sutan mahmud di barengi anggukan dari sutan rajo suli.

__ADS_1


"Baiklah.., terimakasih atas bantuan kalian.." jawab sutan sati dasman.


"Tak usah berterimakasih guru.., ini sudah kewajiban kami.." Pintas sutan rajo suli.


__ADS_2