
Pertemuan itu ternyata tak hanya di hadiri oleh para guru dan pemimpin perguruan silat saja, Namun juga banyak di hadiri oleh para pesilat yang tak mewakili perguruan manapun.
Pertemuan kali ini mengangkat tema bagaimana sikap para pesilat menanggapi perjuangan para pribumi yang memberontak melawan pemerintahan kolonial. kemanakah para pendiri perguruan-perguruan silat ini harus berpihak ?.
Dari 300 Wakil perguruan silat Di Ranah minang yang hadir, hanya 15 wakil perguruan silat yang tak menyetujui melawan pemerintahan belanda, Hampir semua suara dari wakil perguruan silat tersebut meyerukan untuk bangkit melawan belanda atau ikut bergabung dengan pasukan paderi..
"Kita sudah bertahun-tahun di adu domba oleh kolonial dengan memisahkan kedudukan Ulama dan tokoh adat. Kelemahan kita adalah mudahnya di hasut dan di adu domba..., Sekarang sudah saatnya kita satukan kekuatan !!, Kita paksa mereka lari terbirit-birit pulang ke eropa..!" Sutan saluak balingka ikut memberikan pendapatnya di pertemuan itu.
Mandengar Gagasan dan masukan dari sutan saluak, seorang pemimpin dari salah satu perguruan silat yang hadir kala itu menyeringai dan tersenyum sinis seperti mengejek pendapat sutan saluak barusan.
Dia adalah 'Arya garende', guru muda yang masih berusia 30 tahun. Ia menggantikan ayahnya yang meninggal dunia dalam memimpin padepokan 'Talang salasiah', sebuah perguruan silat yang cukup besar di kaki bukit 'sigumarang', perbatasan luhak nan bungsu dengan lubuk jambi..
Guru muda itu memang bernampilan necis seperti trendnya dandanan orang-orang eropa kala itu. Ia sudah banyak terpengaruh oleh kehidupan galamour ala eropa dan terhasut politik kolonial hindia belanda. Mulai dari pergaulan, cara berbicara dan gaya hidupnya..
" Maaf Pak tua...." sela arya garende ketika sutan saluak memberikan pendapatnya di atas mimbar.
Sutan Saluak Melirik ke arah arya garende.
" Yaa., Ada apa..?"
" Apakah Pak tua sudah merasa hebat ?, apakah perguruan silat yang pak tua pimpin di pariaman sana sudah lebih kuat dari pemerintah hindia belanda yang sudah menguasai beberapa pulau antar benua ??" Arya garende tersenyum sinis. Para guru yang pro pemerintahan kolonialpun tertawa.
Sutan saluak tersenyum. " Perguruan silat yang saya pimpin tidaklah besar. Namun jika kita bersatu akan menjadi sebuah kekuatan besar yang sangat sulit di patahkan."
" Pak tua..!!, ngomong itu yang masuk akal saja. Mana mungkin Senjata laras panjang anda lawan dengan sebilah golok ???. Orang-orang eropa itu seribu langkah lebih maju dari peradaban kita !, pemikiran mereka lebih modern. Mereka pandai menciptakan berbagai macam senjata yang mematikan dan kendaraan perang bermesin. bukan hanya sekedar omong besar.. jangan berpikiran kolot lagi pak tua !!, Mereka datang membawa perubahan dan kemajuan !."
Kontan, semua yang sependapat dengan arya garende bertepuk tangan di sertai gemuruh gelak tawa mereka melecehkan sutan saluak.
" Anda terlalu banyak bermimpi, Pak tua..!" Lanjut arya garende.
__ADS_1
Sutan saluak menarik nafas dalam. " Jangan pernah takut untuk bermimpi Demi kebaikan !!, karna dari bermimpi itulah harapan akan muncul di kemudian hari. Apakah kalian ingin anak cucu kita kelak jauh dari agama ?, apakah kalian ingin kelak mereka melupakan adat istiadat dan budaya nenek moyang kita ?"
Arya garende Tertawa, dia menggelengkan kepalanya berulangkali. " Dasar si tua kolot..!" Gumamnya pelan.
" Kamu bilang apa..?" Ternyata umpatan pelan arya garende itu di dengar oleh Sutan saluak.
" Anda terlalu kolot, Pak tua..!!" Arya garende meninggikan suaranya.
Terbias Amarah di wajah sutan saluak., namun ia berusaha menekannya. Gelak tawa dan sorakan para pendukung arya garende masih terdengar dari belakang.
Di saat kekacauan itu berdirilah seseorang kedepan. ia memandang kesemua hadirin yang hadir.
" Saya harapkan semua hadirin tenang..!" Ia berteriak dengan suara lantang. Dia Adalah Sutan sati Dasman, guru besar perguruan harimau cakrawala yang berdiri di ranah kayu maranting pariaman, di akhir abad ke 18 itu.
" Kenapa Tuan Begitu membela belanda ?" Tanya sutan sati dasman mengarah ke arya garende.
Arya garende tertawa. " Saya patuh kepada pemimpin !"
" Apa yang mereka jarah..?, mereka hanya membeli hasil tani masyarakat, mereka menerapkan pajak, apakah itu yang di sebut sebagai penjarah ?, coba anda tanya hati dan buka mata..!, siapa yang membangun perhubungan kereta api yang melewati Bukittinggi hingga keteluk bayur?, yang bahkan menghubungkan jalurnya ke daerah anda di pariaman sana.. kurang apa lagi wahai orang tua yang tak mau membuka hati untuk menerima perubahan..!"
" Membeli dengan tekanan harga rendah, memungut pajak tinggi dengan pemaksaan.!" Jawab Sutan sati dasman.
" Coba tuan lihat wilayah yang patuh dan tunduk pada keputusan pemerintah. Daerah itu maju dan jadi kota besar. Tapi coba juga lihat daerah yang masyarakatnya selalu memberontak, Tertinggal jauh. Bagaimana bisa membangun jikalau setiap fasilitas yang di bangun selalu di rusak..!, semua yang di terapkan pemerintah itu untuk kesejahteraan rakyat juga tuan..!" terang Arya garende yang bersikukuh dengan pendapatnya.
" Anda masih terlalu muda dalam memahami politik kolonial..!" Sutan saluak menimpali, mengarah kepada Arya garende.
" Dan anda berdua terlalu kolot untuk menerima pemikiran modern..!!" jawab arya garende sigap.
Mendengar jawaban menohok dari arya garende, Emosi Sutan saluak balingka memuncak.
__ADS_1
" Arya !!, Kau itu masih terlalu ingusan dalam memahami hal ini. sebaiknya kau diam kalau tak paham dengan apa yang sedang kau bicarakan..!!" Sutan saluak menuding arya garende dengan telunjuknya.
Arya garende balas mengarahkan telunjuknya ke sutan saluak yang masih berdiri di depan.
" Kau yang mesti diam, daripada memprovokasi orang-orang untuk berkhianat pada pemerintah..!!, anda sudah di cap pengkhianat negara !!" Arya garende berteriak lantang.
" Seeet..!!, prang..!!"
Baru saja Arya garende siap berbicara, Sutan saluak melemparkan cangkir tempat minumnya mengarah kewajah Guru muda itu. Dengan sigap arya menghindar..
" Kau tak tahu cara berbicara yang sopan dan santun terhadap orang tua !, dasar bocah penjilat !!" maki sutan saluak.
Arya Garende hendak melompat menyerang, namun ia ditahan oleh Orang-orang yang berusaha melerai. begitu juga dengan sutan saluak yang coba di tenangkan oleh Sutan sati dasman.
" Lapaskan aku..!!, Biar kuhajar si tua bangka kolot ini !!" Geram Arya Garende yang coba berontak karna tubuhnya di tahan oleh lima orang yang menenangkannya.
Situasi dalam ruangan pertemuan makin panas. ketika yang pro dan yang kontra dengan pendapat sutan saluak saling tuding.
Sementara beberapa hadirin yang hadir sudah ada yang beranjak meninggalkan ruangan sembari menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah kekecewaan.
Sutan saluak di tuntun Oleh sutan sati dasman angku sati beserta beberapa orang lainnya berjalan keluar ruangan, menghindari hal-hal yang tak di inginkan terjadi di ruangan itu.
Begitu juga dengan arya Garende, ia digiring keluar ruangan lewat pintu belakang. ia selalu berontak untuk di lepaskan dan ingin menghajar sutan saluak, raut wajahnya merah padam. sementara mulutnya selalu mengumpat berungkali dengan berteriak lantang.. " Dasar Orang tua kolot..!!!"
Pertemuan Para guru silat hari itu di anggap gagal dan kacau. bahkan perpecahan akibat perbedaan pendapat tersebut telah mengantarkan pada ujung tanduk bubarnya organisasi "ikatan para pesilat ranah minang' itu.
Sutan saluak, Sutan sati dasman dan beberapa Guru silat yang lain telah memutuskan takkan lagi hadir di setiap pertemuan kedepannya.
Hari itu juga, sutan saluak, sutan sati dasman dan para guru silat yang datang dari rantau pariaman memutuskan untuk kembali kepariaman.
__ADS_1
Pertemuan dianggap gagal total..