
" Tiga malam terakhir mimpiku berturut-turut, sangat mengganggu tidurku. Sebuah mimpi buruk yang seolah memberikan isyarat untukku agar berhati-hati.." sutan saluak terlihat gusar.
Rosna, tarun limbano dan sutan kurai tajun mendengarkan dengan seksama.
" Abang mimpi buruk?, kenapa sebelumnya abang tak pernah cerita?" Rosna bertanya.
Sutan saluak menarik nafas dalam. " Aku takut, kalau adik bisa mengartikan mimpi itu dan nanti akan salah tanggap..., Karna yang percaya mitosnya akan mimpiku ini mengisyaratkan musuh dalam selimut, atau musuh dari orang-orang terdekat yang tak di sadari akan mencelakai kita dalam beberapa waktu kedepan... Tapi aku minta maaf,, aku tak pernah curiga pada orang-orang sekitarku, termasuk kalian. Aku percaya kalian semua adalah orang-orang baik dan tidak menaruh dendam apapun padaku, aku berharap mimpiku hanya bunga tidur, tapi yang membuat aku merasa aneh adalah kehadiran mimpi itu datangnya berulangkali, aku jadi kepikiran..."
" SEEER..!!" Lagi-lagi, Tak hanya tarun,, Darah rosnapun mendesir. Mereka tak menyangka, ternyata sutan saluak sudah mendapat isyarat kalau ia akan di celakai oleh rosna dan tarun limbano sendiri.
Rosna dan tarun berusaha menutupi perubahan wajahnya, agar sutan saluak dan sidi kurai tajun tak curiga.
Sementara sidi kurai tajun tercenung, hatinya berkata ' Tak menyangka kalau abang seperguruannya yang hebat ini akan terpengaruh pada mitos mimpi.'
" Kalau boleh tahu, apa mimpi buruk abang itu?" Meski hanya menganggap mitos, sidi kurai tajun penasaran juga.
" Aku bemimpi berturut-turut tiga malam terakhir ini, jempol kakiku di gigit dua ekor kalajengking yang sangat besar. Anehnya, dari malam pertama hingga malam kedua, mimpiku itu-itu juga berulang-ulang., ini yang membuat aku khawatir.." terang sutan saluak.
Sidi kurai tersenyum. " Serahkan semuanya pada tuhan, bang. Jangan terlalu di yakini mimpi. Semoga itu hanyalah bunga tidur.."
Sutan saluak menghela nafas. " Ya.., semoga saja hanya mimpi. Tapi kita harus hati-hati juga, ancaman canti klewang 4 hari yang lewat masih terngiang di telingaku..."
" Bang, Kami berdua akan selalu siap membela abang. Kami takkan mungkin menghianati abang.., bukankah begitu tarun limbano?!" Sidi kurai melirik tarun di sebelahnya.
" I..iya, bang.. abang jangan hawatir. Kami takkan menghianati abang.." Jawab tarun limbano ganjang agak terkesiap.
Sutan saluak tersenyum berusaha menenangkan kekhawatiran di hatinya.
" Aku percaya kalian.." Ucap sutan saluak. " Oh ya.., Bagaimana dengan acara ulang tahunmu besok?, kenapa mesti jauh-jauh ke bukit salasih pestanya?, kenapa tak di adakan disini saja, tarun?"
" Ya..., Ya,, disana kan enak tempatnya, bang.., lebih santai.., Yang milih juga orang tua saya. sebuah rumah peninggalan belanda yang di sewa." jawab tarun.
" Kamu mau mengadakan acara ulang tahun toh??!, waaah.., kenapa aku nggak di undang..??, ah.., bener-bener kau ini.." umpat sidi kurai tajun.
Tarun limbano kaget. " Yaa..., Anu.., Saya sampai lupa ngundang abang.."
' Celaka,, Waduh.. kalau sampai sidi kurai tajun ikutan hadir, bisa gagal rencanaku..' bathin tarun dalam hati.
Tarun memang ingin melenyapkan kedua kakak seperguruannya ini, tapi tidak di satu tempat. ia ingin melenyapkan sutan saluak terlebih dahulu di bukit selasih, sedangkan skenario kematian sutan kurai tajun akan di laksanakan di padepokan 'macan putih', di depan para murid. tapi yang melakukan pembunuhan itu bukan tarun, namun pasukan belanda yang telah di atur datang menyerbu, kemudian tarun limbano pura-pura menolong sutan kurai tajun nantinya, tapi para serdadu menembak sutan kurai dengan senjata laras panjang. Begitulah skenario yang telah ia susun, Semua itu tentu saja untuk mengambil perhatian para murid persilatan, dan tarun limbano akan di anggap sebagai pahlawan yang berususaha menyelamatkan perguruan macan putih.
Namun sayang,, rencana akan berubah lagi setelah tarun terpaksa mengundang sutan kurai datang ke bukit selasih malam ini. tarun harus menyusun skenario baru yang akan ia perankan nantinya.
Sutan saluak balingka tertawa sembari menggelengkan kepalanya. " Waaaah.., Kamu benar-benar terlalu, tarun.. masa abangmu si sidi kurai tak ikutan di undang?!, Ayo sekarang kasih undangan..!"
" Yaa.., Undangan tertulisnya habis, bang.., kalau begitu saya ngundangnya melalui mulut aja, ya??!. Sekalian abang datang kesana ya..?!"
Sidi kurai tajun terkekeh. " Ah,, nggak seru kalau udah di suruh, baru kau ngundang. Aku akan datang tampa bawa kado.."
" Tak usah bawa kado bang, iringin sama doa saja sudah cukup.., Besok saya menunggunya di sana saja, mungkin sore besok setelah melatih anak-anak, saya langsung kesana. " Tarun tersenyum.
Malam semakin larut. Tarun dan sutan kurai pamit untuk pulang ketempat tinggalnya masing-masing. Sutan kurai memang tinggal agak jauh dari padepokan, sedangkan tarun yang masih lajangan tinggal di rumah sutan saluak yang lama, lokasinya masih berada di area padepokan sanggar silat Macan putih, tak jauh dari tempat tinggal sutan saluak balingka.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆☆...
Sebelum maghrib, sutan saluak balingka sudah bersiap-siap hendak berangkat ke bukit selasih. rosna dan kedua anaknya di ajak ikut.
Setelah semua siap untuk berangkat, mereka menaiki 'Bendi' ( delman) yang di kendarai oleh sutan saluak balingka sendiri.
Sepanjang perjalanan sutan balingka selalu menggelengkan kepalanya sembari menggerutu.
" Kalau bukan si tarun yang meminta kedatanganku, aku takkan datang kesini. jalanannya becek, pendakian terjal dan curam, jurang sepanjang jalan.!" gerutu sutan saluak. " Tak habis pikir aku,, kenapa tak di pendopo kita saja acara ini di selenggarakan oleh tarun?!"
Rosna hanya diam mendengar gerutu suaminya. pikirannya tak fokus, jantungnya berdegup kencang, apabila rencana ini gagal ia bisa celaka.
Kira-kira 1 jam melewati pendakian yang terjal, akhirnya sutan saluak balingka sampai di halaman sebuah rumah khas bangunan belanda di atas bukit. beberapa orang sudah hadir dan duduk-duduk di kursi yang di susun berbaris di halaman.
Tarun limbano menyambut kedatangan kakak seperguruannya itu dengan tersenyum Hangat.
" Selamat datang Abang.., Silahkan duduk.." Sapa tarun.
" Wah.., Sepanjang jalan aku menggerutu, tarun.. Jalan menuju kesini terjal dan licin luar biasa..!"
Sutan saluak, istri dan anak-anaknya turun dari atas kereta kudanya. selesai menyalami tarun limbano, mereka mencari tempat duduk di kursi yang masih kosong.
" Mana sidi kurai?, Apakah dia belum datang?" Tanya Sutan saluak pada tarun.
" Dia belum datang, bang.., mungkin sedang dalam perjalanan.."
Sutan saluak manggut-manggut. Ia menatap orang-orang sekelilingnya yang duduk di halaman rumah yang cukup luas itu. ada sekitaran 40 orang pria yang hadir, ia memandangi satu persatu wajah-wajah yang sedang bersenda gurau satu sama lainnya, tak satupun yang di kenal sutan saluak.
Tapi Sutan saluak sedikit keheranan, kenapa perempuan yang hadir hanya istrinya saja?, apakah tarun tak mengundang para istri pria-pria yang hadir itu?. ' Ah.., Si tarun kok ngundang nanggung-nanggung, bahkan tuan rumahpun tak ada yang perempuan..'
" Abang.., Bagaimana kalau kita langsung makan saja..?" tawar tarun.
" Ah.., tunggu sebentar lagi.., aku pengen menunggu sidi kurai tajun. tak enak rasanya apabila melewatkan dirinya di meja makan.." Ucap sutan saluak.
" Baiklah.., kalau begitu saya akan panggil pelayan dulu untuk membuatkan minuman.." Tarun bergegas pergi kedalam rumah.
Tak lama kemudian datang seorang lelaki membawakan empat cangkir minuman dan menghidangkannya di meja depan sutan saluak dan keluarganya.
Sekilas, Sutan saluak memperhatikan pelayan laki-laki itu. Sutan saluak tercenung,, 'aku seperti pernah melihat laki-laki ini..' Kata sutan saluak dalam hati.
Ketika di perhatikan oleh sutan saluak, pelayan itu seperti menyembunyikan wajahnya, dengan cepat ia berlalu pergi.
" Tunggu..!" tahan sutan saluak.
" Ada apa tuan..?" Laki-laki itu menghentikan langkahnya dengan wajah yang masih membelakangi sutan saluak.
" Siapa Namamu?"
" Nama saya Langgeni, tuan.."
" Dimana tinggalmu?"
__ADS_1
" Di Pakandangan, tuan.." jawab laki-laki itu.
" Ooh.." Sutan saluak manggut-manggut.
" Kenapa tuan..?"
" Ooh,, tidak ada apa-apa, cuman aku seperti pernah melihat wajahmu, tapi aku lupa entah dimana."
" Mungkin tuan salah orang, saya baru beberapa hari di kampung, biasanya saya bertahun-tahun hidup di perantauan, di batavia.."
" Oooh,, mungkin saja.., Ya sudahlah,, lupakan saja.." Sutan saluak mempersilahakan laki-laki itu berlalu.
Setelah laki-laki itu berlalu, sutan saluak melempar senyum ke arah rosna.
" Rosna, coba kau tengok hebatnya pergaulan adik seperguruan itu, tak seorangpun kawannya yang hadir disini kukenal,, bahkan pelayan minuman saja datang jauh-jauh dari pakandangan.., si tarun memang orang lapangan. padahal anak itu pendiam.., andai aku punya saudara perempuan akan ku jodohkan dia dengan adikku itu.." celetuk sutan saluak pada istrinya.
Rosna Tersenyum kecut.. ' Yaa.., dia memang jauh lebih hebat daripadamu..' kata hati rosna.
Sutan saluak meraih cangkir minumannya yang terhidang di atas meja. ia segera mendekatkan bibir cangkir tersebut kemulutnya.
Srrrrup..!
Terdengar seruput Bibir suto malin menikmati teh panas yang di hidangkan itu. Lagi.., Dan Lagi...
" Sungguh nikmat sekali teh ini.." Gumam sutan saluak. " Ini teh apa ya..?"
Sutan saluak kembali menyeruput teh panas itu.., hingga habis setengah cangkir.
" Kemana Sidi kurai belum datang juga..??!"
" Mungkin dia nggak jadi kesini karna merasa di lupakan. kan abang tarun ngundangnya pas di rumah kita saja.." Jawab rosna.
" Apa Iya, Ya..?!" Sutan saluak berpikir sejenak.
Lepas bicara, tiba-tiba saja sutan saluak merasakan ada yang bebeda dengan kondisi tubuhnya. ia merasakan panas sekujur tubuh, perut mulai mual dan sakit,, matanya berkunang-kunang.. Nafas mulai sesak., wajahnya perlahan merah padam.
'Bajingan kau Tarun.., Ternyata yang di maksud oleh mimpiku itu adalah kau..!' bathin sutan saluak hendak berdiri mencari tarun limbano, tapi ia tak kuasa. kepalanya pusing luar biasa.
Kaharudin dan rossiah yang ingin meminum teh yang terhidang di depan mereka, dengan cepat sutan saluak balingka berteriak..
" Jangan diminum,, Ada racun..!" teriak sutan saluak balingka pada anak-anaknya.
Bruuur..!!
Sutan saluak memuntahkan darah segar, matanya kian berkunang-kunang. terdengar gelak tawa terbahak dari para tamu yang hadir...
Ternyata semua para tamu yang hadir, adalah orang-orang yang sudah di atur dan di bayar oleh oleh tarun limbano, bekerjasama dengan canti klewang.
Lantas dimanakah canti klewang saat ini?,, Yang menghidangkan minuman buat sutan saluak itu adalah Si canti klewang yang wajahnya yang tak terlalu di kenali oleh sutan saluak balingka..
《👨💻 lanjut bab berikut, ya..》
__ADS_1