
Aroma kelicikan yang sedang berlaku di padepokan Macan putih sudah mulai tercium oleh Sutan sati dasman.
"Kalau begitu, aku permisi dulu.." Pamit sutan sati dasman.
"Kenapa terburu-buru tuan guru?" tanya tarun.
Sutan sati dasman menarik nafas. "Yaah,, hari sudah hampir gelap. kapan-kapan saya akan berkunjung kesini lagi.."
"Oh., baiklah kalau begitu.."
Sutan sati dasman segera menuju gerbang padepokan. ia tak bisa begitu saja mengabarkan maksud kedatangannya pada pemimpin muda padepon macan putih itu. kecurigaannya perihal akan kematian sutan saluak balingka menjadi teka-teki yang yang ingin ia ketahui. mustahil seorang guru hebat seperti sutan saluak balingka akan begitu mudah di habisi oleh beberapa orang penyamun yang mencegatnya.
Apalagi, sutan sati dasman tahu bagaimana matangnya pemikiran dan strategi seorang sutan saluak balingka dalam melakukan perlawanan terhadap belanda secara sembunyi-sembunyi, sehingga sampai saat ini kedoknya belum juga terungkap.
Sutan dasman tahu jika pemberontakan besar yang dilakukan rakyat di desa tungka di wilayah daerah ujung gunung melawan belanda dua bulan silam, adalah juga atas intruksi sutan saluak balingka. bahakan sampai sekarang belanda tak juga menemukan para pemimpin pemberontakan tersebut yang tak lain adalah sutan saluak balingka.
Begitu hebat guru macan putih itu menyusun kekuatan dan bersembunyi tampa menghilang, yang membuat kalang kabut belanda mencarinya, padahal para serdadu itu hampir setiap hari bertemu pelakunya..
Oleh karena itu, akan sangat mustahil bagi sutan sati dasman apabila begitu mudahnya beberapa orang penyamun mencelakai beliau kalau tidak ada orang-orang yang menghianati beliau..
Dari kejauahan terdengar langkah dan suara orang-orang dalam bahasa belanda yang hendak menuju ke arahnya, dengan cepat sutan sati dasman memyelinap bersembunyi di balik pepohonan cemara di pinggir jalan itu.
Dugaan sutan sati dasman benar, ternyata adalah para rombongan 8 orang serdadu belanda yang hendak berlawanan arah dengannya. sutan sati dasman mengintip mereka dari balik persembunyianya.
"Mau kemana mereka?" sutan sati dasman berpikir sejenak. "atau jangan-jangan mereka mau ke padepokan macan putih?"
Sutan sati dasman memutuskan untuk mengikuti para serdadu itu, ia mengendap-endap, berpindah pindah dari balik pohon satu kepohon yang lain.
Benar sekali, para serdadu itu memasuki gerbang padepokan macan putih. sutan sati dasman semakin curiga, apalagi ketika di lihatnya dari kejauahan tarun limbano jangang menyambut para serdadu itu dengan sangat ramah, sangat berbeda dengan karakter sutan sati dasman yang sangat benci pada serdadu..
Sutan sati dasman manggut-manggut.. ia telah paham dengan kejadian yang menimpa sutan saluak balingka. berarti padepokan macan putih yang sekarang ini bukan seperti yang dulu lagi. sutan sati dasman berjanji dalam hatinya, suatu saat nanti ia akan berusaha memyelidiki dan kasus kematian sahabatnya itu. ia sudah sepenuhnya curiga jika kematian beliau ada kaitannya dengan tarun limbano dan istri muda beliau, rosna..
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan disini?"
Sutan sati dasman terkesiap, sebuah suara laki-laki telah mengejutkannya dari arah belakanb ia menoleh, menemukan seorang pemuda yang telah berdiri di belakangnya.
"Siapa kamu?"tanya sutan sati dasman.
Pemuda itu tersenyum. "Saya murid perguruan macan putih, tapi terus terang saya tak suka pada belanda, sama dengan tuan guru sendiri.."
"Kamu mengenal saya?" tanya sutan sati dasman.
Pemuda itu tersenyum. "tentu saja, Tuan guru adalah guru besar padepokan harimau cakrawala. salah seorang penentang pemerintahan belanda."
Sutan sati dasman tersenyum. "Apakah kamu mau menjelasakan pada saya kenapa gurumu sutan saluak balingka sampai tewas di tangan belanda?, bagaimana ceritanya?"
Pemuda itu melirik kanan kiri. "kita tak aman berbicara disini.., bagaimana kalau malam ini aku menginap di padepokan tuan guru saja?, sangat banyak yang ingin saya ceritakan."
Sutan sati dasman berpikir sejenak. "Baiklah.., ayo kita berangkat sekarang.."
Sementara itu di dalam padepokan, Tarun limbano dan istrinya tengah berbincang-bincang dengan para tamunya berbangsa eropa itu. ia bahagia dengan kedatangan para tamunya itu.
"Biasanya tuan-tuan kesini bareng tuan canti klewang, kemana beliau?" tanya tarun pada para tamunya.
"Tuan canti klewang tengah mempersiapkan hukuman mati yang akan di lakasanakan besok buat dua orang penghianat yang telah kami tangkap.." jawab salah seorang serdadu.
Tarun terkesiap. "Siapa yang telah tertangkap?"
"Suto malin dan seorang temannya."
Mata tarun berbinar-binar mendengar suto malin telah di ringkus. "Bagus.., orang itu sangat berbahaya, tuan. memang harus di jatuhi hukuman mati."
"Ya.., sebab itulah kami di utus kesini. kami di perintahkan untuk memberi kabar pada tuan guru, bahwasanya kapten dedrick meminta para murid perguruan macan putih ikut mengamankan acara hukuman tersebut besok di lapangan. karna bisa saja kawan-kawan mereka yang hebat-hebat akan datang menyelamatkan nyawa kedua orang itu besok. tuan dedrick percaya yang bisa mengatasinya hanya para pesilat macan putih.."
__ADS_1
Tarun tertawa lebar. "Pasti,, kami pasti datang. tenang saja, kami akan kawal upacara penghukuman para penghianat itu sampai mereka berdua mati terkapar.., sehingga satu persatu para penghianat negara lenyap di bumi minang ini.."
Para serdadu itu terlihat senang mendengar jawaban dari tarun limbano.
"Baiklah tuan guru, jika begitu kami permisi dulu."
"Ooh,, baiklah. sampaikan rasa terimakasih saya pada tuan dedrick, karna telah mempercayakan pada kami untuk mengamankan acara hukuman besok..." tarun limbano begitu bangga bisa membantu belanda dalam menghabisi saudara sebangsanya.
"Ya, tuan.." jawab salah seorang serdadu itu. kemudian merekapun berlalu.
Selepas itu juga, tarun limbano mengumpulkan para murid² seniornya di halaman padepokan yang jumlahnya sekitar 200 orang.
Setelah mereka berkumpul, tarun limbano berdiri di depan memulai mengemukakan maksudnya mengumpulkan mereka..
"Para murid senior.., sengaja saya mengumpulkan kalian yang sudah menguasai semua jurus yang kami ajarkan di padepokan ini... karna saya akan memberikan tugas penting buat kalian, yaitu tugas suci untuk menjaga keutuhan negara kita.."
Para murid saling pandang, penasaran dengan tugas apa yang akan di berikan guru mudanya.
"Besok kalian akan di tugaskan membantu para serdadu dalam mengamankan jalannya acara penghukuman pada dua orang penghianat negara yang sering membuat kekacauan di negeri ini..." lanjut tarun limbano.
Beberapa murid kaget, mereka bingung kenapa sekarang perguruan membela pihak belanda?!, padahal mereka tahu kalau guru tua mereka sangat tak suka pada para penjajah.., bahkan tarun limbano sendiri tahu kalau guru tuanya itu sangat anti penjajahan belanda..
Walau kebingungan dan penasaran, juga merasa berat untuk menerima, ini adalah perintah gurunya. tampa membantah sedikitpun mereka mesti mematuhi apa yang di perintahkan guru.
"Ini adalah pekerjaan yang sangat mulia, kita melindungi keutuhan negara kita, ******* mesti kita lenyapkan..!" lanjut tarun limbano.. "Apa kalian siap?"
"Siap tuan guru..!!" semua murid yang berkumpul memberi jawaban serentak., yah,, siap tak siap harus siap, ini perintah guru yang bagi murid-murid macan putih pantang untuk di bantah..
"Bagus..!, besok pagi kita akan berangkat."
Selesai memberikan penjelasan, mereka kemudian bubar. para murid saling berbisik satu sama yang lain. mereka bertanya-tanya kenapa sekarang mereka di perintahkan berpihak pada belanda?, padahal selama bertahun tahun mereka di ajarkan oleh guru tuanya agar tak membelot pada belanda, apakah yang sekarang membelot adalah guru mudanya ini ?, jika begitu apakah ada hubungannya dengan kematian guru tuanya?
__ADS_1
Berbagai pertanyaan tersebut hanya bisa mereka ajukan pada kawan-kawan sperguruannya, mereka tak berani bertanya langsung pada guru mudanya.