
Kedatangan canti klewang yang di iringi oleh bebrapa orang serdadu belanda ke padepokan Macan putih membuat rasa penasaran para murid, mereka saling pandang satu sama lain.
" Ada apa serdadu datang kesini?, Apakah ada sesuatu hal yang terjadi dengan guru muda kita?" Tanya salah seorang murid pada kawannya.
" Saya tak tahu juga.." jawab kawannya itu.
Sementara, khamir memperhatikan kedatangan canti klewang dari bangku tempat ia duduk dibawah sebuah pohon rindang yang teduh di sudut halaman padepokan.
" Aku seperti ingat wajah orang itu. dialah seminggu lewat yang datang kesini dan dimaki oleh tuan guru sutan saluak. lantas kenapa ia datang lagi?, Aku harus mencari tahu.." gumam khamir.
Tarun limbano menyambut kedatangan canti klewang dengan hangat dan mempersilahkan masuk kedalam rumahnya. hal yang membuat khamir semakin penasaran, biasanya tamu selalu di layani di balai-balai khusus tamu, kenapa sekarang tarun mempersilahkan orang itu memasuki rumahnya?, dan anehnya lagi tarun menutup pintu setelah canti klewang masuk, sedangkan para serdadu menunggu di luar.
Khamir semakin curiga, ia merasakan ada sesuatu yang tak beres. Ia harus menyelidiki ini.
" Bagaimana kabarmu tuan tarun?" Tanya canti klewang setelah di persilahkan duduk.
" Sangat baik, tuan canti".
Canti klewang tersenyum, ia mengeluarkan sebuah Kantong berisi uang koin di balik bajunya.
" Tuan tarun, kapten dedrick berpesan salam dan ucapan selamat atas kepemimpinan tuan sebagai pimpipinan utama Macan putih. sekalian mengirimkan ini untuk tuan.."
Tarun menerima pemberian itu dengan wajahnya yang berbinar-binar.
" Sampaikan salam dan rasa terimakasih saya buat kapten dedrick.."
" Akan saya sampaikan.., oh ya.., beliau juga mengundang anda makan malam di kediamannya, kapanpun tuan sempat.."
"Oh ya..?, Akan saya penuhi undangan beliau. mungkin besok malam saya akan datang kesana." kata tarun limbano tersenyum senang.
" Sekalian kapten dedrick akan membicarakan sesuatu dengan tuan guru disana. sebab itulah ia ingin sekali kedatangan tuan di tempat kediamannya."
" Yaa.., Saya akan pasti datang.."
__ADS_1
" Kalau begitu saya permisi dulu, tuan. karna saya akan singgah-singgah keperguruan yang lain.." Kata canti klewang pamit.
" Waduuh.., kok cepetan?, saya belum bikinkan minuman nih.."
"Ohh,, tak apa-apa tuan.., Lain kali saya mampir kesini lagi.." Canti klewang berdiri dan menyalami tarun.
Tak lama kemudian canti klewang sudah berlalu keluar rumah. tarun kembali masuk setelah menutup kembali pintu rumahnya.
Ia memeriksa bingkisan berupa kantong dari kain renda yang masih di pegangnya. matanya terbelalak setelah melihat apa isi kantong tersebut..
" Waaah.., Banyak sekali koin emas..!, Aku bisa kaya kalau berlanjut seperti ini..!" tarun berteriak tertahan.
Sementara, di belakang rumah tempat tinggal tarun, seorang laki-laki muda mengintip dari balik celah-celah dinding yang terbuat dari bambu anyaman itu. Ternyata adalah khamir yang sepertinya sudah sedari tadi mendengar dan mengintip percakapan mereka. wajahnya merah padam menahan emosi dan geram melihat permainan si tarun limbano.
'Baru 3 hari tuan guru besar tewas, dia telah menghianati guru besar dengan mengabdi pada belanda, sesuatu hal yang sangat di benci oleh tuan guru besar..!' gumam khamir dalam hati. pria muda itu menggelengkan kepalanya berulangkali.
Ingin rasanya ia menghajar guru mudanya itu, tapi ia tak mau di anggap murid pembangkang. lagian ia juga sadar, keahlian beladiri tarun jauh lebih tinggi di atas keahlian yang ia pelajari di padepokkan ini.
...☆☆☆☆...
Malam itu Suto malin mengumpulkan semua Orang di dalam surau usai sholat isya. Pertemuan itu adalah membicarakan masalah persiapan dan penentuan kapan serangan itu akan di lancarkan dan kemana akan di arahkan terlebih dahulu.
" Kita minim senjata, malam besok kita akan menyelundup ke gudang senjata belanda." Kata suto malin.
"Apakah tak terlalu mengambil resiko, tuan suto?, Sudah pasti di gudang senjata mereka itu di jaga oleh begitu banyak serdadu.." Ucap kirun.
" Insya allah. kita tak menyerang secara terbuka,, Namun dengan secara menyelundup. saya sendiri yang akan menyusup duluan masuk kedalam.." terang suto malin.
" Tuan sudah merasa yakin?" tanya kancun.
" Insya allah,, tapi saya yakin tuhan akan membantu perjuangan kita.."
Kirun dan kancun saling pandang. mereka menilai perhitungan suto malin terlalu berani. apalagi kirun yang selama bekerja dengan belanda sudah bisa membaca bagaimana pertahanan serdadu di gudang belanda itu.
__ADS_1
" Maaf tuan.., selama bekerja pada orang belanda saya sudah tahu betul bagaimana pertahanan orang-orang belanda di gudang senjata tersebut. berkemungkinan lebih dari seratus orang serdadu menjaga gudang tersebut, sangat berbahaya tuan.." kirun menerangkan.
Suto malin menarik nafas dalam.
"Jangan hawatir, sayapun kemaren malam sudah mampir sampai di depan gudang tersebut secara menyelundup. saya sudah memperhatikan dan membaca pertahanan mereka. sangat banyak celah bagi kita masuk secara sembunyi-sembunyi, insya allah kita akan berhasil.."
" Jika tuan sudah merasa yakin, kami siap ikut menggayang mereka..!" Pintas salah seorang pemuda.
"Saya juga siap, bahkan tak sabar lagi menunggu malam besok..." pemuda yang lain ikutan menimpali.
Suto malin tersenyum. "kita akan berangkat menjelang subuh, ketika para serdadu sedang di serang rasa kantuk mereka".
" Siaap..!!" Jawab semua yang hadir.
Suto malin melebarkan senyumnya, ia sangat bangga dengan semangat perjuangan yang dimiliki para pemuda yang ia gembleng itu.
Semua yang hadir terlihat penuh ambisi, tak sabar menunggu malam esok. tapi entah mengapa seorang pemuda yang duduk di sudut ruangan surau tampak hanya diam, senyum sinis tersungging di bibirnya.
"Heh.., Kirman !. kenapa kamu tak terlalu bersemangat?" tanya salah seorang pemuda yang duduk di sampingnya.
Pemuda yang bernama kirman itu terkesiap. "Oh.., aku.., aku hanya ragu dan takut.., apakah mungkin gudang senjata belanda yang di jaga ketat itu bisa kita masuki??"
Mendengar ucapan kirman, kawannya itu tersenyum.
"Kau jangan takut. walaupun pada akhirnya kita akan mati dalam berjuang, akan lebih berharga daripada mati di bunuh sia-sia oleh para serdadu belanda."
Kirman manggut-manggut.
Malam kian merangkak, setelah diputuskan dan di rancang rencana maupun strategi, semua yang hadir dalam pertemuan itu segera bersiap-siap hendak beristirahat.
Sementara di luar sana, terdengar suara burung gagak hitam melengking nyaring. menurut mitos kepercayaan para tetua kampung, itulah suara tanda-tanda kematian, yang mana menandakan adanya Orang-orang yang akan meninggal beberapa hari kedepan, atau bisa juga di artikan sebagai penanda akan terjadinya sebuah tragedi berdarah yang tak di inginkan.
👨💻 Lanjut bab berikut ya..!!
__ADS_1