
"Orang-orang seperti kalian adalah sampah!. pengkhinat!, pemberontak!" umpat kapten dedrick.
"Kami berhak mempertahankan hak kami!" Jawab kancun.
"Mana hak kalian?, Semua yang ada di bumi minang sudah menjadi hak pemerintahan kolonial belanda!" kapten dedrick menatap tajam pada kancun.
Kancun tersenyum sinis. "Tak tahu malu!. kalian adalah penjarah tanah leluhur kami!"
Kapten derick menyeringai. "Siapa yang kuat dialah penguasa!."
"Kami tak sendiri, masih banyak pejuang-pejuang seperti kami yang akan mengusir anda dari dari negeri kami!" Pintas Suto malin yang sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan kancun dan kapten dedrick.
Kapten dedrick tertawa. "Ha..ha..ha...ha, jika aku mau aku bisa menghabisi kalian dengan mudah. mana mungkin beberapa ekor kambing akan bisa melawan ribuan singa???!!!.. ha..ha..ha..ha.."
Suto malin dan kancun tersenyum sinis.
"Kalian itu bukan singa, tapi Srigala berbulu domba." ketus kancun.
Kapten dedrick kembali menyeringai. "Kalian akan di hukum gantung siang besok di lapangan terbuka. dihadapan para penduduk."
Kancun dan suto malin tertawa mengejek tampa gentar mendengar ancaman dari kapten dedrick.
"Kau kira kami takut?" tantang suto malin.
"Kamu harus hati-hati dedrick!!, Kami bukan sendiri, Dua nyawa melayang ribuan yang akan meneruskan perjuangan kami!!" kata kancun menatap tajam mata kapten dedrick.
"Hahahahaha..." Kapten dedrick tertawa lebar. "Kalian mengancam pemerintah?,, Kalian ini hanya sampah!!"
"Cuih!!, Kalian lah yang jadi sampah di negri kami!!, Jauh-jauh berlayar ke negri kami hanya untuk merampok!!" umpat kancun.
Plaak..!!
Sebuah tamparan di layangkan kapten dedrick di pipi kancun yang membuatnya meringis. kemudian perwira belanda itu kembali tertawa.
"Ha..ha..ha.., kau masih bisa merasa sakit kalau di tampar rupanya.., Besok kau akan merasakan kesakitan yang luar biasa di saat tubuhmu tergantung menjelang ajal!, ha..ha..ha.."
Usai mengeluarkan ancaman, kapten dedrick berjalan berlalu dari ruangan itu, di ikuti para anak buahnya. pintu kembali di tutup.
*****
Di tengah keramaian pasar ' sungai sariak ' yang berada di kaki bukit selasih kecamatan 'tujuh koto'.
Lima orang serdadu tengah memasuki area pasar. kemudian mereka mengintruksikan orang-orang yang ada di pasar untuk berkumpul.
__ADS_1
"Pengumuman..!!, Di harapakan kehadiran masyarakat besok pagi di lapangan terbuka kantor wilayah tugas kapten dedrick. untuk menyaksikan hukuman mati dua orang pemimpin pemberontakan atau pembangkang yang berhasil di ringkus tadi malam.!!." Sorak salah seorang serdadu.
Masyarakat saling pandang satu sama lain.
"Kasihan,, kira-kira siapa ya?" tanya seorang pemuda pelan pada orang yang berdiri di sampingnya.
"Aku tak tahu.. yang namanya penghianat memang pantas di hukum!" jawab temannya itu.
"Dia itu saudara kita juga, yung!!. tak pantas kamu ngomong kayak itu!!" sanggah si pemuda.
"Yaah,, saudara sih saudara, tapi dia tetap penghianat negara, maik!!"
Pemuda yang bernama si amaik itu menggelengkan kepalanya.
"Yung.., kau dengar ya..! kita itu adalah pribumi. sedangkan mereka adalah pendatang yang ingin merampas hak milik kita!. sebenarnya kita memang pantas untuk melawan." tutur amaik.
"Ah, sudahlah!, jangan berdebat masalah itu. nanti kedengaran mereka, kau bisa kena tangkap juga!"
Amaik menarik nafas dalam.
Sementara itu, tak jauh dari tempat itu, seorang laki-laki mengamati kerumunan para warga. dari jauh ia mendengar maklumat yang di sampaikan oleh para serdadu itu. laki-laki itu adalah Sutan sati dasman.
"Aku harus mencari cara untuk menyelamatkan Suto malin.." Gumam sutan sati dasman pelan. Kemudian ia berlalu dari tempat itu menuju kepadepokannya, secepatnya ia harus memberi tahu pada kirun.
"Kita harus secepatnya bertindak sebelum suto malin dan kancun digantung." Ucap sutan sati dasman.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya kirun.
"Aku terpaksa melibatkan para murid-murid senior untuk membantu kita besok. kita akan datang beramai-ramai ke lapangan itu besok. disaat yang tepat kita langsung beraksi..." terang sutan sati dasman.
Kirun manggut-manggut.
"Inilah akibatnya kalian terlalu gegabah dalam bertindak. seharusnya bukan di tempat terbuka itu kalian membangun front, sehingga dengan begitu mudah tercium oleh serdadu belanda.." Sutan sati dasman menarik nafas dalam.
"Entahlah.., Namun saya yakin kalau ada mata-mata yang bergabung bersama kami. dengan berpura-pura berjuang bersama kami.."
Sutan sati dasman dan kirun sama-sama kembali menghela nafas.
"Aku akan menemui 'tuan sutan saluak balingka' di padepokan Macan Putih sore ini juga. aku ingin beliau juga berpatisipasi dalam membantu perjuangan kita besok. yang kita hadapi adalah orang-orang belanda, mungkin sangat banyak sekali para serdadu yang berjaga-jaga besok di lapangan tempat penghukuman gantung itu.." ucap tuan sati dasman.
"Sebaiknya jangan, tuan.." tahan kirun.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Saya tak begitu yakin dengan padepokan Macan Putih, bagaimana kalau nanti merekalah yang akan membocorkan rencana kita pada belanda?"
Tuan sati dasman tersenyum. "Kirun,, anda tak perlu hawatir. Sutan saluak balingka adalah teman saya semenjak lama. beliau memiliki jiwa patriot yang menentang keras penjajahan. jadi, saya tak meragukan siapa sutan saluak balingka."
Kirun manggut-manggut. "Jika memang tuan sudah yakin, yaaah.. baguslah.., semoga kita bisa menyelamatkan tuan suto malin dan kancun.."
*****
Sebelum sang mentari tenggelam di ufuk barat, tuan sati dasman susah sampai di padepokan Macan Putih. 'Tarun limbano' dan Rosna melayani bincang-bincang tamunya di pelataran khusus tamu.
Tuan sati dasman sangat kaget mendengar keterangan tarun limbano, bahwasanya sutan saluak balingka dan Sidi kurai tajun sudah tiada, yang menurut penuturan tarun tewas dalam menghadapi pasukan belanda yang mencegatnya.
"Belanda terkutuk...!!, Kenapa aku tak diberitahu berita duka ini sebelumnya?" kata tuan sati dasman nada sesalan.
Tarun limbano ganjang menoleh ke rosna dengan senyuman penuh arti. Namun, di saat keduanya saliang senyum tuan sati dasman melihat, beliau telah mencium aroma kelicikan. namun tuan sati dasman pura-pura tak mengetahui.
"Kalau boleh tahu,, Ada apa gerangan tuan guru sudi berkunjung ketempat kami ini?" tanya tarun.
"Oooh,, tak ada apa-apa.., Hanya sekedar rindu sama almarhum.." jawab tuan sati dasman tak mu menceritakan tujuan kedatangannya.
"Ooh,,, yaaah.., bagaimana lagi, kita doakan saja semoga pendahulu kita itu tenang di alam sana..."
"Aamiin."
Kemudian tuan sati dasman melirik ke arah rosna.
"Anda istrinya Sutan saluak?" tanya tuan sati dasman kemudian.
Rosna mengangguk.
"Sekarang suaminya adalah saya." Timpal kirun.
Sutan sati dasman sedikit kaget.
"Oh, ya..?"
"Iya, tuan guru."
Sutan sati dasman manggut-manggut.
'Belum lagi seratus hari sutan saluak tewas, mereka langsung menikah??!!' Bathin tuan sati dasman dalam hati.
Nex bab Berikut ya....!!
__ADS_1