
Di Desa karang Tongga ada sebuah perguruan silat ( padepokan ) yang cukup besar. guru sekaligus pendirinya Bergelar ' Sutan Saluak Balingka' . perguruan silat itu bernama 'Perguruan Silat Macan Putih'
Perguruan silat macan putih cukup di kenal di pesisir bagian barat minangkabau, padepokan ini paling di buru oleh para pemuda dan pemudi yang ingin mempelajari ilmu beladiri.
Selain sutan sati saluak balingka, perguruan ini juga tak lepas dari bimbingan dua orang yang juga punya ilmu tingkat tinggi dan sangat berjasa pada padepokan, dialah yang bergelar Sidi Kurai Tajun Dan seorang pendekar muda yang masih belum berumah tangga, yaitu Tarun Limbano Ganjang. mereka Bertiga Satu perguruan yang kemudian di angkat oleh sutan saluak sebagai pengurus padepokan macan putih.
Sutan saluak balingka memiliki istri muda yang masih berusia 18 tahun, Beliau menikah lagi setelah dua tahun istri pertamanya meninggal dunia karna suatu penyakit yang tak bisa di obati lagi. dengan istri pertamanya itu sutan saluak memliki sepasang anak, yaitu Kaharudin berusia 6 tahun dan Rosiah berusia 4 tahun.
Istri muda beliau yang masih belia itu mempunyai paras ayu bernama Rosna, seorang gadis kembang desa yang sebelum di persunting Sutan saluak balingka sangat banyak di incar para lelaki.
Karna kedekatan orang tua rosna dengan sutan saluak balingka, maka rosna di jodohkan oleh orang tuanya untuk di nikahi guru besar padepokan Macan Putih itu, Walau sebenarnya rosna merasa sangat terpaksa..
Dan yang tak di ketahui oleh Sutan saluak balingka adalah, sebelum ia menikahi rosna, gadis itu telah lama menjalin hubungan cinta sembunyi-sembunyi dengan sahabat muda seperguruannya sekaligus yang membantunya di padepokan Macan putih, yaitu Tarun limbano Ganjang. Hubungan cinta mereka tak di restui oleh orang tua rosna dan memilih menjodohkan rosna dengan Sutan saluak balingka yang sudah duda, di jadikan ibu tiri untuk kaharudin dan Rosiah...
Canti klewang siang itu mendatangi perguruan macan putih dengan para bawahannya. tujuannya seperti apa yang telah di rencanakan, yakni mengajak kerjasama sutan saluak balingka buat menghalau dan memadamkan pemberontakan yang telah berkobar di perkampungan dan pelosok bumi pesisir barat minangkabau.
Harapan canti klewang berubah kekecewaaan, di tolak mentah-mentah oleh sutan saluak balingka. bahkan canti klewang di usir dan di maki-maki.
" Aku tak mau mengkhianati saudaraku sendiri. jangan kau ajak aku bekerjasama untuk membumi hanguskan negriku sendiri, canti..!" Kata sutan saluak balingka pedas.
" Maaf tuan guru, Bukankah membela hindia belanda sama halnya dengan membela tanah air kita..?!, mereka yang berkuasa saat ini !, sudah menjadi kewajiban bagi semua golongan masyarakat bersatu padu membantu pemerintah !, demi keutuhan pesatuan dan kesatuan, juga kedamaian di seluruh negeri minangkabau, dari luhak nan tuo hingga daerah rantau pesisirnya ini !" Ujar canti klewang.
" Kau telah gila canti !, cara berpikirmu tambah dangkal karna terlalu banyak makan uang haram dari belanda..!, jangan kau besarkan anak ular, karna suatu hari kelak kau sendiri yang bakalan di patoknya !!, Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini !!" Guru besar Macan putih itu marah besar. Ia begitu benci dengan penghianat yang mau di adu domba oleh belanda.
Canti klewang berserta anak buahnya segera berdiri.
" Kau akan menyesal tuan, karna telah menolak kerjasama dengan pemerintah !" Nada canti klewang mengancam sebelum pergi.
Sutan saluak balingka tertawa terbahak. " Jangan kalian coba ancam aku. aku tak pernah takut pada belanda walau aku harus meregang nyawa..!! bilang pada junjunganmu si belanda 'hongok' ( bodoh ) itu, Aku bukan bodoh seperti dirimu yang bisa di jadikan penjilat demi uang dan kedudukan Seperti kamu yang mau mengorbankan saudara seiman dan se tanah airmu demi kepuasan menjilat..!!"
Dengan wajah kecewa bercampur geram, Canti klewang segera berlalu dari tempat itu. Di hatinya terselip sedikit sakit hatu karna Sutan saluak balingka sudah berani mengusir, bahkan mengeluarkan kata-kata yang kasar..
Tak jauh meninggalkan gerbang masuk ke padepokan itu, tiba-tiba di tengah jalan ia di cegat oleh seorang pria muda. Dialah tarun limbano ganjang, Sudara muda seperguruan sutan saluak balingka, Yang juga pengurus perguruan Macan putih Pimpinan Sutan Saluak.
" Siapa Kamu..?!" tanya si canti klewang.
" Saya Tarun limbano janang.., Pengurus perguruan macan putih, bawahan sutan saluak balingka.
Mendengar pengakuan dari Tarun limbano ganjang itu, si canti klewang jadi geram.., hatinya yang sakit akibat perlakuan sutan saluak balingka barusan, ingin ia balaskan kepada pemuda itu.
__ADS_1
Tarun limbano ganjang menyadari itu, sebelum Si canti klewang menyarangnya, ia berusaha menahan.
" Sabar ki sanak.., saya memang dari perguruan macan putih, tapi saya tak sepaham dengan pendapat sutan saluak balingka.." Kata Tarun limbano ganjang.
Sicanti klewang mengernyitkan dahinya. " Jadi maksudmu ?"
" Aku bisa membantu tuan, asal tuan juga bantu saya.." Tarun limbano ganjang menyeringai.
" Maksud anda bantu bagaimana..?"
Tarun limbano ganjang mendekat ke canti klewang, kemudian ia membisikkan sesuatu.
Canti klewang manggut-manggut,, bibirnya kemudian merekah.
" Jangan hawatir.., Saya bisa minta bantuan kapten Dedrick.." Kata canti klewang menyeringai. ia seperti menemukan harapan baru yang begitu menjanjikan, Seolah kemenangan sudah di tangannya...
Mata tarun limbano ganjang berbinar-binar. dibibirnya tersungging senyuman kecil...
" Inilah saatnya..." gumamnya pelan.
...☆☆☆☆☆☆...
Sutan saluak balingka akan segera berangkat pagi ini ke luhak nan bungsu menggunakan Kereta kudanya. segala sesuatu keperluan suaminya sudah di persiapkan oleh Rosna.
" Aku mungkin 4 hari ini berada di sana. Tolong jaga anak-anak ya..?!" ucap Sutan Saluak.
" Baik Bang..., Hati-hati di jalan. semoga selamat pulang pergi.." jawab rosna.
" Hati-hati di jalan Ayah.." Kaharudin, putranya menimpali sembari memeluk kaki kanan ayahnya.
Sementara itu putrinya, Rosiah memeluk kaki kirinya.
Sutan saluak menunduk dan menggendong kedua anaknya.
" Insya allah,, Takkan terjadi apa-apa dengan ayah.." Kata sutan saluak menenangkan kekhawatiran anak-anaknya.
Sutan saluak menurunkan kedua anaknya dari gendongan. ia menatap rosna.
" Rosna,, Aku pergi dulu ya.., Kahar, rossiah.." Sutan saluak pamit pada istri dan anak-anaknya.
__ADS_1
" Ya,, Hati-hati.." jawab mereka hampir berbarengan.
Kemudian, sutan saluak segera bergegas pergi keluar ruangan. Menuruni tangga rumah anjungan, menuju kereta kudanya yang markir di halaman. tak lama kemudian ringkikan kuda terdengar di iringi berlalunya kereta tersebut membawa sutan saluak balingka menuju Luhak nan bungsu.
" Bunda.., Kami main di halaman dulu ya.." pamit Kaharudin.
" Iya.., Jangan jauh-jauh ya.."
" Iya, bun.." Jawab kaharudin sembari menggandeng adiknya turun tangga.
Ketika anak-anak itu sampai di halaman, Tarun limbano ganjang melangkah menaiki tangga rumah. ia tersenyum memandang ke arah rosna. ternyata sedari tadi dia sudah tak sabar menunggu kepergian sutan saluak.
Rosna mengulum senyumnya sembari menundukan wajahnya yang tersipu.
" Sayang.." Sapa Tarun limbano dengan Lembut.
" Ya, bang."
" Rencana kita 5 hari depan akan kita laksanakan, satu hari setelah suamimu pulang dari pertemuan di luhak nan tigo. Adik Sudah Siap ?" Tarun limbano berkata pelan sembari Mengenggam Jemari rosna.
" Adik masih ragu, bang.." Rosna terlihat gusar.
Tarun limbano tersenyum. " Jangan ragu dik.., bayangkan masa depan kita yang cerah.,, berdua kita akan bersama. kau akan jadi pendamping dari satu-satunya pemimpin perguruan Macan putih yang besar ini.."
" Adik kasihan dengan anak-anak.." Ucap rosna sembari melihat kaharudin dan rosiah sedang asyik bermain di halaman.
Tarun limbano tersenyum sinis. " Mereka juga kita bunuh..!, karana jikalau di biarkan hidup maka suatu hari nanti mereka akan menuntut balas atas kematian orang tuanya. sudahlah.., untuk apa adik merawat anak yang bukan darah daging adik sendiri. .?!"
" Adik takut, bang.."
Tarun limbano memeluk rosna. " Jangan takut, kita akan berhasil karna nanti pasukan belanda akan membantu.."
Tarun limbano mengecup pelan kening rosna, pipi, hingga kemudian ia mengulum bibir rosna yang indah. sementara tangannya berkeliaran, menyusuri setiap lekuk tubuh rosna yang di tutupi kebaya.
Jemari Tarun limbano menyelip kedaerah pusat sensitif perempuan muda itu. Rosna mendesah berulangkali, nafasnya tersengal naik turun di Iringi gemuruh birahi yang kian tinggi.
Tarun limbano memopong rosna kekamar tidur pribadinya. kamar yang semestinya hanya bisa di tiduri Rosna dan suaminya.
Sementara itu, Kaharudin dan rosiah masih asyik bermain di halaman..
__ADS_1