Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Hug


__ADS_3

Semenjak mengetahui perselingkuhan Intan. Yuda seakan memberi jarak dengan istri pertamanya itu. Jika Intan mengajaknya berbicara. Yuda hanya membalas sepatah dua kata. Dia terlanjur kecewa pada istrinya. Karena Intan sama sekali tak menyangkal tuduhan yang diberikan Wulan kemarin.


Sementara Intan, menahan diri untuk tidak mengatakan siapa Riko. Dia tak mau Yuda mencari identitas Riko. Sedari kemarin memilih bungkam. Beruntung saat ini Riko tak berada di kampung, jadi Yuda tak ada kesempatan bertemu temannya itu.


Kini tak ada lagi canda tawa di dalam rumah Yuda. Pria tersebut berubah 180 derajat. Terkesan dingin dan cuek. Tidak hanya pada Intan tapi pada semua orang termasuk, Sinta, Bunda Ema dan Wulan.


Setiap malam Yuda memilih tidur di kamar Sinta. Berniat membuat Intan cemburu tapi nyatanya Intan malah terlihat biasa-biasa saja. Walaupun tidur di kamar Sinta, namun Yuda tidur di atas Sofa.


Sedangkan Sinta menahan sebal karena perbuatan Intan membuat ia tak bisa bercengkrama dengan Yuda. Sekarang Sinta menabuh genderang perang kepada Intan. Merasa telah dibodohi selama ini dan menganggap Intan adalah wanita yang licik.


Di hari selasa ini, biasanya Yuda off berkerja, hendak beristirahat sejenak dari perkerjaannya namun ia malah masuk kerja.


Intan yang sedang mengepel lantai. Menghentikan gerakan tangannya melihat Yuda berpakaian rapi.


"Mau kemana Mas?" tanya Intan sambil menyeka keringat di dahinya.


"Kerja!" jawab Yuda dengan ketus.


Intan menghela nafas sesaat, melihat Yuda menjawab tanpa menatap lawan bicaranya.


"Bukankah hari ini Mas off kerja?"


"Tidak, aku pergi dulu," pungkas Yuda melirik pantulan Intan di jendela kaca yang nampak sedih.


Kau yang membuatku seperti ini, Intan. Mengapa kau hancurkan kepercayaanku.


"Iya mas, hati-hati." Intan melihat Yuda berjalan cepat menuju pintu utama.


Brugh!


"Awh!" desis Intan pelan ketika bahunya di senggol Sinta seketika.


"Maaf Mbak nggak sengaja, habisnya mbak halangin jalan aku!" Sinta melengoskan muka kemudian meninggalkan Intan terpaku di tempat.


Bersabarlah Intan, inilah hasil perbuatanmu, tak apa, setidaknya kalau aku pergi nanti, Mas Yuda benci padaku.


Monolog Intan di dalam hati sambil memandangi Yuda dan Sinta saling berbicara satu sama lain di luar sana. Entah apa yang mereka bicarakan tapi yang jelas Sinta memberikan sekotak bekal pada Yuda.


Intan memegang dadanya yang terasa perih kala Yuda mencium kening Sinta di depan matanya. Secepat kilat ia mengalihkan pandangan kemudian melanjutkan kegiatannya.


"Mbak, Bik Inem kemana? Dari kemarin aku tidak melihatnya?" tanya Sinta sesampainya di dalam rumah.


Intan menoleh. "Bik Inem sudah tidak berkerja lagi, Sinta."


Alis Sinta bertautan. "Loh kenapa?"


"Bik Inem mengundurkan diri. Karena anaknya mau baru saja melahirkan, jadi dia mengurus cucunya," jawab Intan.

__ADS_1


Sinta nampak mangut-mangut. Kemudian memandangi sinis Intan. "Jadi di rumah tak ada lagi yang mencuci baju?"


"Tak ada Sinta, kenapa? Apa kau ingin mencuci baju?"


"Tidak! Aku alergi detergent Mbak, makanya aku mau menyuruh Bik Inem mencucikan bajuku," kilah Sinta. Nyatanya ia tak ada alergi sama sekali.


Intan mengulas senyum. "Ada mesin cuci Sinta. Biar Mbak saja yang mencuci bajumu," ucapnya.


"Hm, tapi aku tak suka bajuku di cuci menggunakan mesin cuci Mbak. Baju yang ku pakai kemarin pemberian Ayah dan Ibuku, kalau di cuci pakai mesin cuci, bahannya cepat rusak Mbak."


Intan sekali lagi menarik nafas. "Ya sudah, taruh saja bajumu di ember di dekat dapur, nanti mbak akan mencuci pakai tangan saja."


"Kenapa nanti Mbak? Besok aku ada acara bersama Bunda dan Mbak Wulan. Takutnya nggak kering."


"Sebentar lagi, Sinta. Bersabarlah," Intan berkata sambil menahan sakit yang menyerang kepalanya tiba-tiba.


Sinta mendelikkan mata ke atas kemudian mendengus pelan. "Hm, baiklah, aku mau ke atas," ucapnya dengan melenggang pergi dari hadapan Intan.


Selepas kepergian Sinta, Intan memegang kepalanya yang berdenyut kuat. Ruang tamu itu terasa berputar-putar. Intan menahan tubuhnya agar tak terjatuh sampai-sampai ember yang berisi air pel di dekatnya keluar sedikit.


Ya Allah, kuatkan lah hambamu ini.


*


*


Seketika suara menggelegar dari lantai satu mengusik ketenangannya. Intan memutar kepalanya lalu mendengar lagi seseorang memanggil namanya.


"Intan!!!"


Secepat kilat Intan keluar dari kamar dan melangkah ke sumber suara.


"Wow, wow, enak sekali kau ya! Menyuruh-nyuruh Sinta memasak! Kau ini istri tidak tahu di untung! Sinta itu bisa saja tengah hamil sekarang! Seharusnya kau yang mengerjakan semua perkerjaan rumah ha!!" pekik Wulan.


Intan tersentak, baru saja ia tiba namun sudah diteriaki kakak iparnya itu.


"Maaf Mbak, aku tak menyuruhnya, tadi aku sudah menyuruh Sinta istirahat saja." Intan menerangkan karena memang benar sesudah mencuci pakaian. Dia menyuruh Sinta tak melakukan apa-apa.


"Benar begitu Sinta?" Wulan mengalihkan pandangan kepada Sinta.


Sinta menggeleng. "Nggak, Mbak Intan nggak bilang sama aku untuk istirahat, sudahlah Mbak Wulan, aku ingin memasak untuk Mas Yuda juga." Dia berbohong sengaja ingin membuat Intan tak betah tinggal di rumah.


"Ckckck, lihat ini menantu pertama Bunda, bisa-bisanya dia mengarang cerita!" Wulan beralih menatap Bunda sedari tadi duduk dengan tenang di atas sofa.


"Wulan, sudahlah, jangan di besar-besarkan, Sinta mulai dari sekarang jangan melakukan tugas rumah dan kau, Intan, duduklah, ada yang mau Bunda bicarakan."


Intan menurut lalu duduk di hadapan Bunda, Wulan dan Sinta.

__ADS_1


"Ada apa Bunda?" tanyanya penasaran.


"Intan, sebenarnya dari kemarin Bunda mau berbicara denganmu, tapi Yuda ada di rumah. Jadi begini, ini menyangkut nama keluarga Bunda, Intan. Bunda mohon dengan sangat, bisakah kau tidak bertemu lagi dengan selingkuhanmu itu? Gosip tentang dirimu sudah merembet ke semua desa, Intan." Bunda Ema menjeda kalimatnya sesaat.


Intan mengangguk pelan. "Bisa Bunda, maafkan semua kesalahanku, nama keluarga Bunda jadi tercoreng karena ulahku."


"Hm, sebenarnya Bunda tak tahu apa yang ada dipikiranmu, Intan. Mengapa kau begitu tega berselingkuh dari putraku, padahal dia menerimamu apa adanya." Suara Bunda terdengar bergetar.


"Maaf, Bunda. Aku tidak akan berselingkuh lagi." Hanya kata itu yang terlintas di benak Intan. Meminta maaf pada Bunda Ema atas kesalahan yang sama sekali tidak dia lakukan.


"Cih, maaf saja dari tadi, dasar wanita binal! Aku heran sama Yuda, mengapa tak menceraikan mu!" seru Wulan kemudian melipat tangan di dada.


"Wulan! Sudahlah." Bunda Ema memegang punggung Wulan, menenangkan emosi putrinya yang meledak-ledak.


Wulan mendengus. Sementara Sinta menghela nafas kasar karena kakak iparnya sangat tempramen.


"Intan, bisakah kau membuatkan kami teh es, cuaca hari ini sedikit panas."


"Bisa Bunda." Intan bangkit berdiri namun baru saja selangkah, kepalanya tiba-tiba berdenyut lagi, membuat ia hampir saja terjatuh. Secepat kilat ia menahan tubuhnya dengan memegang sofa.


"Ckck! Tidak usah berakting, Intan! Pergi kau ke dapur sana, buatkan kami minuman!" titah Wulan.


Intan menarik nafas panjang, menetralisir rasa sakit yang mendera kepalanya kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Bunda Ema dan Sinta yang keheranan melihat tingkah Intan.


Malam harinya. Tepat pukul sembilan malam, Yuda baru saja pulang ke rumah. Dia pun bergegas ke kamar Sinta hendak mandi dan beristirahat. Namun langkah kakinya terhenti kala melihat Intan duduk termenung di ruang tengah.


Yuda menatap sendu ke arah Intan. Dia begitu rindu pada istrinya itu, ingin sekali ia memeluk Intan. Tapi karena rasa marah dan kecewanya masih menyelimuti hatinya. Yuda mengurungkan niatnya lalu kembali meneruskan langkah kakinya.


"Mas, kau harus tahu, Mbak Intan ternyata pandai berakting ya, tadi pagi ketika Bunda Ema menyuruhnya membuatkan kami teh es. Mbak Intan pura-pura sakit di depan Bunda, mengapa Mas tidak menceraikannya?" Sinta merentangkan tangannya hendak memeluk Yuda.


"Jaga jarak, Sinta!" Yuda menepis tangan Sinta kemudian melayangkan tatapan tajam.


Sinta tersentak. Mengapa sikap Yuda teramat berbeda, tak seperti tadi pagi.


"Coba kau ulangi perkataanmu tadi?!" tanya Yuda.


Sinta nampak kikuk. "Hm, itu Bunda menyuruh Mbak Intan membuatkan kami teh es!"


"Berani-beraninya kalian menjadikan Intan babu!" pekik Yuda kemudian berjalan cepat ke kamar mandi. Meninggalkan Sinta terdiam seperti patung.


Si@lan! Benar kata Mbak Wulan, Mas Yuda benar-benar buta! Walaupun Intan berselingkuh, Mas Yuda masih mencintainya! Sinta mendengus sejenak


Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Sedari tadi Yuda tak bisa tidur. Dia begitu gelisah, saat mendapat kabar dari Sinta kalau Intan sakit. Yuda mendesah kasar, lalu memutuskan untuk pergi ke kamar Intan, hendak memeriksa keadaan istrinya.


Sesampainya di kamar. Tanpa pikir panjang Yuda langsung merebahkan tubuhnya di samping Intan kemudian memeluknya dengan sangat erat.


Sedangkan Intan, sangking merindukan suaminya, ia bermimpi di peluk Yuda. Padahal nyatanya Yuda benar-benar memeluknya. Dua insan itu saling memeluk satu sama lain, menyalurkan semua kerinduan yang terpendam di relung hatinya.

__ADS_1


__ADS_2