
Intan bersimpuh di atas lantai, memandangi kepergian Yuda di ujung sana. Cairan bening yang menetes di pelupuk matanya, mengalir dengan deras.
Intan memegangi dadanya yang bergetar naik dan turun. Menandakan ia masih menangis. Ingin sekali Intan mengatakan semuanya tadi tapi semua tertahan di benaknya. Sebuah rahasia yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Intan mengigit bibir bawahnya, berharap tangisnya dapat mereda. Namun bukannya berhenti, malah semakin menjadi-jadi.
Selang beberapa menit kemudian, Intan menyeka air matanya kemudian beranjak dan melangkahkan kakinya ke kamar.
Sesampainya di kamar. Intan mengambil sesuatu di dalam tasnya. Terlihat sebotol obat berukuran besar bertengker di tangan kanannya. Intan membuka tutup botol itu kemudian memasukan sebutir pil berwarna putih ke mulutnya lalu meneguk air putih hingga tandas. Setelah itu dia menaruh obat tersebut di dalam laci yang selalu dia kunci.
"Walaupun aku tahu penyakitku tidak akan sembuh, tapi aku akan berusaha minum obat ini."
"Mas, setelah aku pergi nanti, aku berharap kau bahagia bersama Sinta," Intan berbicara pada sendiri sambil duduk di tepi ranjang. Melamunkan kejadian tadi pagi. Saat Riko, teman lamanya di bangku SD, berprofesi sebagai dokter spesialis bedah, memintanya bertemu minggu ini.
"Intan, penyakitmu mulai memasuki stadium akhir, apa kau tidak mau di operasi?" tanya Riko, pria berperawakan semampai yang berkerja sebagai dokter spesialis terkenal di kota XXX.
Riko sangat geram mengapa Intan sengaja mengulur-ulur waktu sebab penyakit kanker otak yang menggerogoti tubuh Intan semakin parah. Hal itu dapat terlihat dari tubuh Intan yang kurus.
Sudah beberapa bulan ini Riko ditugaskan di desa, tempat Intan tinggal. Sewaktu itu ia yang baru saja dipindah tugaskan. Begitu terkejut bertemu Intan di klinik sebagai pasiennya.
"Iya, aku tahu itu, jangan dulu Riko, tunggu waktunya tiba, aku pasti akan meminta bantuanmu nanti," ucap Intan.
"Tapi, sampai kapan Intan, maaf kalau aku terlalu ikut campur, apa suamimu sudah mengetahui penyakitmu, karena selama kau meminta obat padaku kau tak pernah mengajaknya," tanya Riko penasaran. Dia ingin berkerjasama dengan Yuda, memintanya membujuk Intan untul segera melakukan operasi.
Intan menggeleng.
__ADS_1
Riko menghembuskan nafas kasar. "Intan, sebaiknya kau mengatakan penyakitmu pada Yuda. Ini obatmu, makanlah dengan rutin, jika kepalamu sakit lagi, kabari aku," ucapnya sambil menyodorkan botol berisi pil obat.
Intan mengambar obat tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. "Iya, Riko. Aku akan memberitahunya nanti, tidak sekarang, aku tak mau menyakitinya."
"Menyakiti? Aku benar-benar tak mengerti dengan pikiran para wanita." Riko menggelengkan kepala sesaat.
"Kau memang tak akan bisa mengerti pemikiranku, Riko. Karena aku tahu penyakit ini susah sembuh, apalagi penyakit ini sudah memasuki stadium akhir," katanya lemah.
"Intan, siapa yang bilang penyakit ini susah sembuh, bisa sembuh! Percayalah padaku!" Riko menyemangati Intan meski di dalam dunia medis, kemungkinan kecil penyakit kanker otak stadium akhir, susah sembuh jikalau tak ada keajaiban. Tapi sebagai tenaga kesehatan dia pasti akan memberi dukungan pada pasien sekaligus temannya itu agar lekas pulih dan membaik.
Intan membalas dengan merekahkan senyuman. Selama kurang lebih setahun ini, Intan mencari informasi tentang penyakitnya sendiri.
Intan baru menyadari mengidap penyakit kanker setahun yang lalu. Tahun-tahun sebelumnya, ia mengabaikan rasa sakit yang mendera kepalanya, namun semakin dihiraukan semakin parah sakitnya. Dia pun pergi ke klinik terdekat, hendak memeriksakan diri dan terkejut dokter mendiagnosa ia menderita kanker otak stadium tiga.
Intan begitu nelangsa mendapati dirinya sakit keras. Ujian di dalam hidupnya teramat banyak, di tambah lagi sampai sekarang dia dan Yuda belum di karunia anak.
Sebelum dia pergi dari dunia fana ini. Mencarikan Yuda pendamping, agar suaminya itu tak kesepian dan ada yang menemaninya. Dengan terpaksa Intan merelakan suaminya untuk Sinta.
"Sebelumnya terimakasih Riko, memberiku kan obat ini secara gratis, apa kau tidak rugi?" tanyanya.
"Tak apa Intan, aku tak rugi, setidaknya obat itu bisa membantumu mengurangi rasa sakit di kepalamu." Riko melirik arloji di pergelangan tangannya sejenak.
Intan mengulas senyum. Teman kelasnya itu sikapnya sama sekali tak berubah, hanya wajahnya saja yang berubah.
"Sekali lagi terimakasih, Riko."
__ADS_1
Riko mengangguk. "Intan, sebelum aku kembali ke kota, bagaimana kalau kita sarapan dulu, aku sangat lapar, Intan."
Crang!
Lamunan Intan buyar kala bingkai foto pernikahan yang berada di atas meja, tak sengaja tersenggol lengannya. Reflek Intan bangkit berdiri, ingin mengambil pecahan kaca. Namun tiba-tiba kepalanya di hantam batu besar menjadikan tubuhnya jatuh ke atas beling.
"Shftt, ah..." Intan meringis saat telapak tangannya tertancap beling kaca. Nampak darah segar mengalir perlahan dari tangannya. Dengan setengah sadar Intan menggeser tubuhnya, menjauhi retakan kaca tersebut. Kemudian menyederkan kepalanya di dinding sambil memejamkan matanya. Tengah berusaha menenangkan diri.
Ya Allah, kuatkan lah hambamu ini sampai Mas Yuda benar-benar mencintai Sinta.
Intan menangis lagi sambil menahan sakit di kepala dan tangannya sekarang.
*
*
Ruang Keluarga.
"Wah, wah lihat ini, wanita binal tak tahu diri ini keluar-keluar dari kamar malah akting di perban segala tangannya! Haha itu lah karma berselingkuh dari Yuda!" teriak Wulan, manakala melihat Intan turun dari lantai dua kamar dengan keadaan tangannya di balut kasa putih.
Yuda melirik Intan sekilas, kemudian melengoskan muka dan melenggang pergi ke ruang kerja.
"Sinta, kau lihat itu, wanita yang selalu kau kagumi itu, bermuka dua!!!" Wulan melemparkan pandangan pada Sinta yang duduk di atas sofa. Memandangi Intan dengan sejuta makna.
Sinta enggan menimpali. Hanya melayangkan tatapan kecewa kepada Intan.
__ADS_1
Mbak, ternyata kau tak lebih dari seorang penipu! Kau menipu ku dan Mas Yuda!
Fyi : Besok atau lusa, novel ini akan di ganti judulnya menjadi Madulah aku, Suamiku