Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Nikmatilah


__ADS_3

Sinta menyentuh lengan Yuda. "Maafkan aku, Mas. Aku hanya kasihan sama Mbak Intan."


Yuda menautkan alis mata. "Kenapa kau kasihan padanya jelas-jelas dia sudah menipu kita semua Sinta. Di sini yang di tipunya bukan hanya diriku tapi kau juga, apa sebenarnya kau tahu kalau Intan memiliki pria lain?"


Sinta menggeleng cepat. "Tidak, Mas," ucapnya.


"Kalau begitu biarkan saja dia di gudang," dengus Yuda kemudian mengalihkan pandangan ke depan.


Sinta mengangguk pelan. Dalam hitungan detik ruangan itu sunyi dan senyap. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.


Yuda berkali-kali menyugar rambutnya ke atas sementara Sinta menatap suaminya dengan tatapan penuh arti.


Maafkan aku Mbak Intan, karena dirimu sendiri, aku menjadi jahat. Aku tak habis pikir mengapa kau dengan tega menduakan pria yang sangat aku cintai ini. Yuda tak pantas untukmu, hanya aku lah yang pantas! Sekarang saatnya aku mengambil hakku.


Sinta tersenyum tipis, membayangkan jikalau Yuda berpaling dari Intan. Sebab ia merasa sekarang suaminya kecewa terhadap Intan. Hal itu dapat terlihat dari perlakuan Yuda kepada Intan. Yaps, tadi Sinta sengaja mengendap-endap, memperhatikan Yuda tengah memperlakukan Intan dengan begitu kasar.


Teruslah seperti itu Mbak Intan. Sampai Mas Yuda menceraikanmu, aku masih ingat jelas kau memintaku membahagiakannya. Tanpa kau suruh, sekarang aku akan membahagiakan suamimu.


"Sinta."


Lamunan Sinta bayur ketika Yuda memanggil namanya.


"Iy–a, Mas," ucap Sinta sedikit gelagapan.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Yuda saat melihat Sinta tersenyum aneh.

__ADS_1


Sinta menggaruk kepalanya sejenak. "Maaf, Mas. Aku tengah teringat dengan video lucu yang di kirim abahku tadi," kilahnya.


Yuda nampak mangut-mangut. Lalu melihat arloji di pergelangan tangannya. "Sinta, aku harus kembali berkerja. Perkerjaan ku belum selesai, kemungkinan aku akan pulang malam. Aku meminta padamu, periksalah keadaan Intan. Tadi dia mengatakan kalau kepalanya sakit, entah dia berbohong atau tidak, aku tidak tahu, maka dari itu sebelum maghrib berilah dia makan dan minum."


"Baik, Mas, aku akan melakukan apa yang kau suruh, kabari aku Mas, kirimkan lah aku pesan jikalau kau sudah di tempat berkerja."


Yuda mengangguk kemudian mengelus lagi perut Sinta. "Bapak pergi dulu ya, Nak. Baik-baik jangan menyusahkan Ibumu."


Sinta melambung tinggi manakala sikap Yuda mulai sedikit romantis padanya meskipun dia tahu pria dihadapannya belum mencintainya, tapi Sinta akan berencana menggunakan anak yang bersemayam di rahimnya untuk menjerat Yuda.


"Hati-hati, Mas." Sinta segera mengambil tangan Yuda dan menyalaminya dengan takzim.


Selepas kepergian Yuda, Sinta memutuskan pergi ke dapur ingin minum jus apel. Dia teringat perkataan Yuda yang mengatakan memberi makan Intan.


Menjelang sore, Sinta mendapat pesan dari Yuda mengatakan bahwa suaminya itu tak dapat pulang hari ini dan memilih bermalam di tempat kerja. Tak lupa pula Yuda kembali mengingatkan Sinta untuk memeriksa keadaan Intan serta memberinya makanan dan minum.


Sinta mendengus karena Yuda terlihat masih mencintai Intan namun dia tak akan menyerah. Yakin jika sandiwaranya menjadi istri yang lembut seperti Intan bisa meluluhkan hati Yuda. Dengan terpaksa, ia pun mengambilkan nasi untuk Intan, kemudian bergegas ke gudang belakang.


Brak!


Sinta langsung membanting pintu gudang sembari menghempaskan piring berwarna silver itu hingga butiran nasi berserakan di atas lantai.


"Makanlah!" titah Sinta sambil menatap Intan baru saja terbangun dengan mukanya yang terlihat sangat pucat.


"Sinta, tolong Mbak, kepala Mbak sakit..." ucap Intan sambil menyeka jejak tangisnya.

__ADS_1


"Apa? Tidak usah berakting Mbak, cepat makanlah, makanan yang ku bawa itu! Aku tidak mau kau mati kelaparan!"


"Tapi, Sin–"


"Stop! Aku malas mendengarkan mu, Mbak! Sudahlah aku mau pergi," potong Sinta cepat.


"Sinta... Tunggu, Mbak..." Dengan tertatih-tatih Intan mengangkat tubuhnya hendak mengejar Sinta namun tenaganya sangat rapuh dan lemah.


Brak!


Sinta menutup pintu dengan sangat kuat lalu melenggang pergi dari gudang tersebut. Sehabis maghrib, dia pun bertandang ke rumah mertuanya. Menceritakan permasalahan antara Yuda dan Intan. Wulan mengatakan padanya agar pandai mengambil hati Yuda dan membuat Intan tak betah di rumah. Tentu saja, Sinta setuju. Ia akan melakukan apapun demi mendapatkan Yuda meski dengan cara yang kotor.


Keesokan harinya. Sinta bangun kesiangan dan teringat semalam Yuda mengiriminya pesan untuk mengeluarkan Intan dari gudang. Namun Sinta tak mengindahkan perkataan Yuda.


Sinta menolehkan mata ke jam weker di atas meja, yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Secepat kilat ia pergi ke gudang ingin membangunkan Intan sebelum Yuda pulang.


Byur!


"Bangun!!!" pekik Sinta sambil menyirami Intan dengan air bekas cucian piring.


"Ough, ough, ough, Sinta, mengapa kau memperlakukan Mbak seperti ini..." Intan berucap sambil menahan dingin sampai-sampai tubuhnya bergetar hebat di atas lantai.


"Tidak usah banyak bertanya, Mbak. Lebih baik sekarang kau keluar dari gudang ini, bersihkanlah badan mu itu dan beristirahat lah di kamar," titah Sinta lalu tersenyum sinis.


Rasakan itu, nikmatilah kesengsaraanmu, Mbak.

__ADS_1


__ADS_2