
Kalau bisa selesai membaca di setiap babnya tekan like ya ☺🤗 tombol like itu sudah lebih dari cukup bagi author terimakasih.
...----------------...
Sudah dua hari, Yuda dan Sinta menikmati bulan madunya di Bali.
Intan tersenyum karena Yuda memperlakukan Sinta dengan sangat baik. Berharap Sinta agar cepat hamil. Tanpa Intan ketahui jikalau suaminya sengaja membuatnya cemburu. Tapi sebisa mungkin, Intan meredam kecemburuannya.
Sekarang Sinta mengerti mengapa Yuda bersikap manis padanya sewaktu-waktu karena sengaja ingin membuat Intan sakit hati. Walau tahu ini hanyalah sandiwara namun Sinta tak peduli lagi. Dia pun menikmati, dengan perhatian Yuda.
Kini Sinta berencana akan merubah dirinya menjadi Intan, lebih bersikap dewasa dan bertutur kata lemah lembut. Berbeda dengan Yuda. Dia menahan sebal sebab Intan sama sekali tak cemburu.
Saat ini, ketiganya sedang makan siang di salah satu restaurant. Yuda dan Sinta makan dengan begitu lahap, berbeda dengan Intan. Wanita itu tengah menahan rasa sakit yang mendera kepalanya tiba-tiba.
Yuda mengernyitkan dahi, melihat Intan terdiam sedari tadi, memandangi steak di hadapannya.
"Intan, kenapa tidak kau makan? Makanlah," ucap Yuda kemudian.
Intan menoleh. "Hm, aku sudah kenyang, Mas. Bolehkah aku pulang dulu, hari ini aku tak bisa ikut kalian berjalan-jalan."
"Kenyang? Dari tadi kau belum menyentuh makananmu, Intan. Dan mengapa harus pulang, ikutlah bersama kami, kau akan kehilangan kesempatan melihat pertunjukan tari kecak," ungkap Yuda. Berharap Intan juga dapat ikut bersama mereka nantinya.
__ADS_1
Intan tergugu, bingung harus menjawab apa.
"Sudahlah, Mas. Biarkan saja Mbak Intan pulang, mungkin dia kecapean." Seakan mendapat angin segar, Sinta menimpali. Tak menyangka Intan sepertinya ingin memberinya waktunya untuk berdua bersama Yuda.
Yuda menghela nafas kasar sejenak. "Kau kecapean?" tanyanya kepada Intan.
Intan mengangguk pelan."Iya, Mas. Karena kemarin naik banana boat, aku jadi tak enak badan."
Mendengar hal itu, Yuda mulai panik dan cemas kalau Intan sakit karena ulahnya kemarin yang menyuruh Intan, bermain banana boat. Namun dia menyembunyikan kekhawatirannya tersebut dari Intan.
"Hm, baiklah, mungkin aku dan Sinta pulang malam, kalau lapar, pesanlah makanan di resort," ujar Yuda.
'Iya, Mas. Aku permisi dulu, Mas. Bersenang-senanglah kalian," tutur Intan kemudian bangkit berdiri.
Sinta berdecak kesal di dalam hati kala melihat Yuda tak melepaskan pandangan matanya dari Intan. Namun demi meluluhkan hati Yuda, dia tak mau berdebat lagi bersama suaminya itu.
"Mas, kasihan Mbak Intan, malam ini kita tak usah terlalu lama keluarnya," ucap Sinta kemudian.
Tak ada angin, tak ada hujan, Yuda keheranan, mendengar penuturan istri mudanya. Mengapa suara Sinta begitu lembut di pendengarannya. Tak seperti biasanya, sebelumnya Yuda tak pernah mendengar Sinta bertutur kata lemah lembut, ada apakah gerangan? Pikirnya.
"Mas?" Sinta mengulas senyum sambil menyentuh punggung tangan kiri Yuda yang berada di atas meja.
__ADS_1
Yuda segera tersadar. "Hm, iya, ayo cepat habiskan makanmu," titahnya.
Sinta mengangguk lalu melanjutkan makan siangnya.
Sesuai rencana, Yuda dan Sinta pun menghabiskan waktunya di Bali. Kalau bukan karena Bundanya, ia tak akan mau menyenangkan hati Sinta. Bagaimana tidak, hampir setiap jam Bunda Ema pasti videocall, ingin mengetahui aktivitas yang mereka lakukan.
Setelah puas berjalan-jalan dan menikmati, menonton tari pecak. Akhirnya Yuda dan Sinta kembali ke resort. Sesampainya di sana, Sinta mengajak Yuda menjenguk Intan.
Yuda semakin heran, bukankah kemarin sikap Sinta seakan tak suka pada Intan namun mengapa sekarang teramat berbeda.
"Mbak, bagaimana keadaannya?" tanya Sinta sambil menyodorkan air putih kepada Intan yang duduk di atas tempat tidur.
Intan menerima gelas tersebut."Alhamdulilah, Mbak sudah sehat, Sinta,"jawabnya lalu meneguk air putih itu sampai habis.
Sinta mangut-mangut. Dalam sepersekian detik, mimik mukanya berubah.
"Lipstiknya kok tebal banget, Mbak, tumben, bukannya Mas Yuda tak memperbolehkan kita berdandan menor."
Yuda langsung mengamati wajah Intan yang terlihat berbeda. "Intan, cepat hapus lipstikmu itu, aku tak suka," ucapnya seketika. Kemudian mengangkat tangannya ke udara hendak menghapus lipstik tersebut di bibir Intan.
Aduh, bagaimana ini?
__ADS_1
Intan kalang kabut, sengaja menutupi bibirnya dengan lipstik warna merah, yang terlihat sangat pucat tadi, agar Yuda dan Sinta tak curiga padanya.