Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Unconscious


__ADS_3

Secepat kilat Intan beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.


"Maaf, Mas. Biar aku saja yang menghapusnya, akan aku bersihkan di toilet, sekaligus aku mau mandi, Mas," kilah Intan. Kemudian berlalu pergi dari hadapan Yuda yang terpaku di tempat.


Ada apa dengan Intan? Mengapa akhir-akhir ini, dia sangat aneh.


Yuda melihat punggung Intan menghilang dari balik pintu.


"Mas, bagaimana kalau kita ke kamar dulu? Aku mau mandi juga Mas. Biarkan Mbak Intan beristirahat," kata Sinta seketika.


Yuda menoleh kemudian mengangguk pelan. Keduanya pun memutuskan kembali ke kamar.


*


*


*


Keesokan harinya. Yuda mengajak Intan dan Sinta pulang ke kampung halaman karena dia mendapat kabar ada masalah sedikit di tempat kerjanya.


Menjelang petang, ketiganya baru sampai di desa, karena tak mau membuang waktu, Yuda langsung pergi ke kepeternakan ikan miliknya, katanya ada keributan yang di lakukan oleh beberapa karyawannya.


Sementara Sinta, selesai membersihkan diri. Ia ingin berkunjung ke rumah mertuanya, mau memberikan mereka oleh-oleh. Sedangkan Intan meminta izin pada Sinta untuk tak ikut.


"Sinta, Mbak tak bisa ikut denganmu, titip salam ya sama Bunda dan Mbak Wulan," ucap Intan.


Sinta mendelikkan mata ke atas "Iya, lagian aku juga tidak mengajak Mbak," katanya ketus lalu melenggang pergi dari hadapan Intan yang membeku di tempat melihat reaksi Sinta.


Astagfirullah, ada apa dengan Sinta? Sudahlah Intan, lebih kau beristirahat.


Monolog Intan di dalam hati, merasa heran dengan perubahan sikap Sinta. Bagaimana tidak, ketika di Bali, Sinta sangat baik padanya tapi mengapa sekarang berbeda.


Tak mau memikirkan yang tidak-tidak, Intan memutuskan pergi ke kamarnya, hendak beristirahat karena rasa sakit dikepalanya semakin menjadi-jadi saat ini.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, suasana di rumah Yuda begitu sunyi dan senyap. Sepertinya para penghuni sudah tertidur pulas. Namun di sebuah kamar di dominasi cat berwarna putih, Yuda mengendap-endap masuk ke dalam kamar Intan, melihat istri pertamanya tengah tertidur gelisah.


Yuda mulai panik, kemudian mendekati Intan, melihat kening istrinya berkeringat banyak. Sepertinya Intan tengah bermimpi buruk. Secepat kilat ia merebahkan diri di samping Intan lalu menepuk-nepuk pelan pipi istrinya.


"Intan, bangunlah," desis Yuda sambil menyeka peluh di dahi Intan.


Bukannya bangun, Intan malah merubah posisi tubuhnya setelah itu memeluk Yuda. Yuda tersentak namun secepat kilat membalas pelukan seraya menyentuh pipi tirus istrinya.


"Mas, aku mencintaimu, aku berharap kau akan selalu bahagia," Intan bergumam pelan dengan mata terpejam.

__ADS_1


Yuda tersenyum lebar, mendengar perkataan Intan yang tengah mengigau. "Aku juga mencintaimu, Intan. Tapi mengapa kau malah berselingkuh dariku, kau membuatku bingung?" balasnya pelan sembari memandangi wajah Intan dengan seksama.


Hening sejenak.


Yuda melabuhkan kecupan di kening dan bibir Intan seketika. Kemudian mengeratkan pelukannya.


"Maafkan kesalahanku selama ini Mas," ucap Intan lirih dengan air mata mengalir pelan di pelupuk matanya.


Hati Yuda mencelos, melihat Intan menangis dalam tidurnya. Pria itu tak mengucapkan satu patah katapun, bibirnya seakan terkunci, walau Intan sedang tidur, tapi percakapan mereka seakan menyambung.


"Meski kau mengecewakanku, aku akan selalu memaafkanmu, Intan. Tapi satu pintaku jangan pernah pergi meninggalkanku." Tanpa terasa Yuda meneteskan air matanya kemudian menutup matanya perlahan dan ikut tidur di samping Intan.


***


Kicauan burung membangunkan tidur Intan. Dia melenguh sejenak kala seseorang menimpa tubuhnya. Secara perlahan ia membuka matanya, mengedipkan mata sesaat, tengah melihat Yuda tidur di sampingnya.


"Mas Yuda? Apa aku masih bermimpi?" Intan menyentuh rahang Yuda lalu memandangi bulu mata suaminya yang begitu lentik.


Deg.


Intan membeku tatkala sepasang bola mata itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Yuda mengulas senyum tipis. "Sudah bangun?" Suaranya terdengar berat dan serak, ciri khas orang baru bangun tidur.


Yuda menarik dagu Intan sampai-sampai hidung keduanya hampir bersentuhan.


"Aku di sini, bukan di sana, suamimu yang tampan ini baru saja di ganggu tidurnya oleh bidadari," kelakarnya tanpa memudarkan senyuman yang terukir diwajahnya sedari tadi.


Blush


Sejak permintaannya beberapa bulan lalu. Untuk pertama kalinya, Yuda mau bergurau dengannya. Mendengar rayuan suaminya, Intan tersipu malu. Sekarang kedua pipinya terlihat merah merona.


"Mas, sudah pagi, aku harus ke pasar," ucap Intan menggerakan matanya ke segala arah. Karena tak mampu menatap mata Yuda.


"Hm, ke pasar? Nanti saja, lagipula ini masih pagi? Aku merindukanmu," ucap Yuda lalu merengkuh tubuh Intan tiba-tiba.


"Mas!" Intan terlonjak kaget karena Yuda mulai melepas pakaian tidurnya.


"Kenapa?" tanya Yuda tanpa menghentikan tangannya yang sudah menjalar kemana-mana.


"Hm, itu, itu, Mas," jawab Intan gelagapan.


"Apa bidadariku?" Yuda mengecup bibir Intan seketika.

__ADS_1


Intan mendorong pelan dada Yuda. "Mas, aku sedang datang bulan," jawabnya jujur.


Tarikan nafas yang panjang dan berat, terdengar dari hidung Yuda. Kini raut muka masam tergambar jelas di wajahnya.


"Kau tak berbohong Kan?"


Intan menggeleng. "Nggak Mas, aku minta maaf," ucapnya merasa bersalah karena halangan ia tak bisa memenuhi keinginan Yuda.


Yuda mendesah. Lalu menetralisir rasa kesalnya, lagipula itu bukan salah Intan sepenuhnya. Dengan senyum terpaksa, ia berkata,"Baiklah, tapi kalau sudah selesai cepat katakan padaku, kau tidak akan ku beri ampun."


Intan meneguk saliva dengan berat melihat tatapan Yuda yang membuatnya merinding disko.


"Sudahlah jangan takut, lebih sekarang kita kepasar, aku akan menemanimu."


"Tidak usah Mas, biar aku saja, kau pasti kecapean karena semalam mengurus perkerjaanmu, lebih baik kau tidurlah kembali, lagipula ini masih jam 5 pagi." Intan melirik sekilas jam di dinding.


Yuda tak langsung menyahut, tengah berpikir.


"Hm, baiklah, kau berhati-hatilah, bilaperlu ajaklah Sinta membeli sayur," ucapnya kemudian.


"Iya, Mas. Tak apa Mas, biar aku sendiri saja, Sinta harus banyak beristirahat agar kalian berdua secepatnya di beri anak," balas Intan.


Yuda mendengus, mendengar Intan seakan senang jikalau ia memiliki anak bersama Sinta.


"Aku akan lebih bahagia, kalau memiliki anak darimu," desisnya.


Intan meraup udara di sekitarnya. Lalu menatap Yuda dengan sendu.


Maafkan aku Mas, tapi Allah belum mengabulkan doa kita, lagipula sebentar lagi aku akan pergi jauh darimu.


.


.


Saat ini Intan sudah berada di pasar terdekat. Wanita itu sangat antusias membeli kebutuhan dapur dari sayur, lauk dan bumbu-bumbu di dapue yang mulai habis. Dengan cekatan ia memilih-milih sayur mayur yang terpampang di hadapannya.


Setelah puas berbelanja, Intan memutuskan membeli gorengan dan cemilan yang di jajakan para pedagang makanan.


Intan mengambil beberapa singkong goreng, lalu memasukannya ke dalam kantong namun tiba-tiba tangannya berhenti bergerak tatkala kepalanya sakit dan mengalir darah dari hidungnya. Dalam sekian detik pandangan Intan kabur.


Bruk!


"Astagfirullah, Non Intan!" pekik seseorang dari belakang. Sontak semua pengunjung pasar langsung mengerubungi Intan yang tergolek tak berdaya di atas tanah sekarang.

__ADS_1


"Non Intan! Bangun Non!" Bik Inem berjongkok di hadapan Intan sembari mengecek nadi Intan.


__ADS_2