Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Yulia...


__ADS_3

Kendaraan roda empat milik Yuda melesat laju, membelah jalanan menuju desa yang disebutkan Riko barusan.


Saat ini pikiran Yuda berkecamuk, mencoba menerka-nerka sesuatu yang janggal. Riko mengatakan padanya kalau sudah mengirim pesan dan menghubunginya, tapi sejak beberapa tahun silam ia tak pernah mendapatkan pesan dari siapapun itu. Apalagi kabar mengejutkan dari Riko berhasil membuatnya merasa menjadi pria tak becus sebab tak mengetahui kalau Intan ternyata hamil saat ia talak.


Pria itu semakin mempercepat mobilnya. Tak sabaran ingin bertemu Intan dan buah hatinya. Yuda melirik sekilas ponsel miliknya di atas dashboard mobil bergetar kuat menampilkan nama Sinta.


Rasa curiga menyelimuti relung hati Yuda sekarang. Menebak Sinta melakukan sesuatu yang membuatnya ia dan Intan saling menjauh.


Yuda tak menghiraukan panggilan tersebut, memilih mematikan ponselnya. Persetan dengan Bunda-nya yang mungkin saja akan memarahinya nanti. Kini tujuan utamanya adalah bertemu Intan dan anaknya.


Brak!


Dengan langkah tergesa-gesa Yuda keluar kemudian menutup pintu mobil dengan sangat kuat. Kepalanya celingak-celinguk ke segala arah, melihat papan bertuliskan sebuah nama kampung yang ia tuju.


Yuda memutuskan berjalan kaki karena desa yang ia kunjungi, tak bisa dimasuki mobil. Sesampainya di dalam desa yang dipenuhi hutan. Ia terus melangkahkan kakinya meski tak tahu akan ke mana. Secara kebetulan Yuda begitu terkejut saat melihat seorang wanita paruh baya yang amat sangat ia kenali, berdiri mematung di pelataran warung sambil melayangkan tatapan terkejut.


"Bik Inem!" Yuda mendekat kemudian langsung memeluk Bik Inem.


"Den Yuda..." Bik Inem mengurai pelukan lalu meraba-raba wajah Yuda sejenak. "Ternyata benar Den Yuda, bibik pikir ini mimpi."


"Nggak bik, kenapa bibik bisa ada di sini? Apa bibik tahu Intan ada di mana?" tanyanya seketika.


Mendengar nama Intan di sebut, Bik Inem menatap Yuda dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Den Yuda, ayo kita duduk dulu." Bik Inem meminta izin pada pemilik warung duduk di teras kemudian menuntun Yuda.


"Bik katakan padaku kenapa bibik ada di sini? Apa benar Intan memiliki anak? Dan apa benar Intan terkena kanker otak?" tanya Yuda sangat tak sabaran.


Bik Inem menghela nafas dalam. "Iya, Non Intan terkena kanker otak, dia juga hamil ketika Den Yuda sudah menalaknya waktu itu, ceritanya panjang, Den. Yang jelas–"


"Nenek!!!" Suara seorang anak kecil membuat perkataan Bik Inem terhenti.


Yuda terpaku mendengar suara cempreng tersebut bergema ditelinganya. Secepat kilat mengalihkan pandangan ke samping. Kedua matanya terbelalak, melihat gadis munggil berwajah sangat mirip Intan sedang menatapnya.


"Yulia." Bik Inem melemparkan pandangan ke arah Yuda sejenak. "Itu anakmu."

__ADS_1


"Nenek enapa lama cekali? Yulia cali-cali nenek tadi. Om-om ini ciapa?" Yulia menghampiri keduanya.


Yuda bangkit berdiri lalu berjongkok dihadapan Yulia. Menatap nanar sang anak yang terlihat kebingungan.


"Yulia, aku ayahmu." Yuda langsung merengkuh Yulia lalu mengecup pucuk kepalanya bertubi-tubi. "Aku ayahmu, Nak.


Yulia mendorong pelan dada Yuda kemudian menggapai kedua pipinya. "Ayah? Adi Yulia benalan unya Ayah?"


"Iya, aku ayahmu, Nak." Meleleh juga akhirnya air mata Yuda.


"Yei!! Yulia telnyata unya ayah! Unya Ayah! Eman-eman Yulia ahat, meleka bilang Yulia nggak unya Ayah, tapi cekalang Yulia ica pamel sama eman-eman Yulia!" Yulia melompat-lompat kegirangan lalu memeluk Yuda seketika.


Yuda terenyuh mendengar perkataan anaknya. Ada perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya saat ini.


Yulia menjauhkan tubuhnya tiba-tiba. "Kenapa Ayah angis?" tanyanya keheranan melihat kedua mata pria dewasa dihadapannya berembun.


Yuda menghapus cepat tangisnya. "Hm, kelilipan, Nak, Ibu di mana? Ayah mau bertemu Ibu."


"Ibu?" Yulia mengalihkan pandangan pada Bik Inem.


Meninggalkan Yulia yang terdiam di tempat. Sementara Yuda tersenyum senang.


"Sekarang kita ke tempat Ibu ya, sini Ayah gendong."


"Nggak mau! Yulia ica jalan sendili, ayo cini cepatan! Ayah engen ketemu Ibu kan? Ibu pasti cenang ada Ayah datang, hehe." Yulia langsung menggengam tangan Yuda lalu berjalan cepat mengekori Bik Inem yang sudah menunggu mereka dari tadi.


"Kenapa Ayah lama datang kecini?"


"Ayah tahu nggak kalau Yulia linduuuu sama Ayah."


"Yulia nggak ada eman main, gala-gala Yulia gak unya Ayah, tapi sekalang Yulia unya Ayah, yei! Pasti sebental lagi Yulia unya eman-eman!"


Di sepanjang jalan, Yulia berceloteh kecil tanpa melepaskan genggaman tangannya. Sementara Yuda merekahkan senyuman, tak menyangka Intan benar-benar hamil, menyesal pula ia menalak Intan waktu itu. Dan berharap Intan mau kembali padanya.


"Bik, apa masih jauh?" Yuda keheranan mengapa rumah mereka sangatlah jauh. Apalagi sekarang tak ada rumah lagi di sekitaran. Hanya ada pepohonan-pepohonan dan jalan setapak.

__ADS_1


"Tidak Den, sebentar lagi." Bik Inem berada di paling depan sebagai pemimpin jalan.


Yuda mengerutkan dahi, mendengar suara Bik Inem bergetar pelan.


"Cabal Ayah, sebental lagi sampai kok!" Yulia dan Yuda mempercepat langkah kakinya.


"Bik, kenapa kita ke sini?" tanya Yuda kemudian dengan perasaan yang tak menentu.


"Loh katanya Ayah mau ketemu Ibu, ya di cini, ayo sebental lagi." Bukan Bik Inem yang menjawab tapi Yulia. Gadis kecil itu menarik tangan Yuda berjalan cepat.


"Bik!! Aku mau bertemu Intan, kenapa bibik malah membawaku ke sini?!" bentak Yuda sambil menghentikan langkah kakinya kemudian mengedarkan pandangan di sekitar.


Bik memutar tubuhnya ke belakang, menatap sendu Yuda dan Yulia secara bergantian.


"Den Yuda katanya mau bertemu Non Intan kan, ya di sini."


"Di sini apanya bik?!" tanya Yuda dengan dada bergemuruh kuat.


"Ayah, angan bentak-bentak nenek, nah itu ibu." Yulia menuntun Yuda kemudian berhenti seketika.


"Ibu, lihat Ayah udah datang, benal kata Ibu, Ayah pasti nanti atang emput Yulia, hihi." Yulia berjongkok lalu mengelus nisan yang bertuliskan nama Intan NawangSari.


Yuda mematung di tempat, kedua matanya berkaca-kaca, melihat makam istri yang ia cintai. Membuat dadanya terasa begitu sakit.


"Penyakit kanker Non sudah stadium akhir dan tidak dapat tertolongkan lagi, Den. Meski sudah dilakukan pengobatan rutin tapi sel-sel kanker di dalam otaknya sudah menyebar luas. Riko sudah melakukan berbagai macam cara agar Intan bisa sembuh tapi..." Bik Inem menarik nafas dalam, memandangi Yulia tengah memeluk nisan ibunya.


"Non Intan menghembuskan nafas terakhir ketika melahirkan Yulia. Riko mengatakan Non Intan adalah wanita tangguh bisa melahirkan Yulia. Dia bertarung nyawa demi anaknya." Cairan bening itu jatuh juga walau sudah di tahan dengan sekuat tenaga.


"Tahu kah Den, setiap malam Non Intan selalu menyebut nama Den Yuda. Dia berharap suatu saat nanti Den Yuda akan menemuinya, tapi nyatanya itu semua hanyalah angan-angannya saja, Bibik sudah berusaha menghubungi Den Yuda termasuk Riko, tapi nomor Den Yuda selalu tidak aktif." Bik Inem kembali menambahkan.


Yuda merosot perlahan-lahan ke bawah. Kedua lutut kakinya menumpu tanah. Air mata kini membanjiri pipinya. Dadanya terlihat naik dan turun, mendapati kenyataan bahwa sang istri telah pergi darinya untuk selama-lamanya. Dia terisak pelan sambil memegangi dadanya yang berdenyut nyeri sekarang.


"Ayah, kenapa diam? Kenapa tidak peluk Ibu?" Yulia berlarian mendekati Yuda yang nampak menahan sesak. "Ayah, kenapa angis?" Yulia menangkup kedua pipi Yuda, menatapnya heran.


Yuda memandangi putrinya dengan sendu, lalu mendekapnya seketika. Perih, itulah yang ia rasakan saat ini, saat teringat tak dapat mendampingi Intan ketika ia tengah bertarung nyawa. Semua sudah terlambat. Keinginannya untuk bersama Intan, sirna dalam sekejap. Kini ia hanya dapat menyesali apa yang telah terjadi. Tangis Yuda pun pecah dalam pelukan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2