
Intan hanya diam, tak membalas perkataan Sinta. Badannya terasa amat sakit akibat perlakuan Yuda kemarin. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia bangkit berdiri.
"Cih! Sangat merepotkan!" ucap Sinta kemudian melengoskan muka dan berlalu pergi dari hadapan Intan.
Sementara Intan menatap nanar punggung Sinta menghilang dari penglihatannya. Sedetik kemudian kedua kaki yang mulai terlihat rapuh itu melangkah keluar.
Intan meringis pelan tatkala rasa lapar dan haus menderanya tiba-tiba. Apa lagi aroma masakan yang berasal dari rumah mertuanya, menyeruak ke indera penciumannya, membuat cacing-cacing di dalam perutnya berdemo. Lantas ia pun memutuskan pergi ke dapur.
Setelah selesai mengisi kampung tengah Intan bergegas ke kamarnya. Tak mau membuang banyak waktu, wanita itu langsung membersihkan diri.
Selang beberapa menit, Intan telah selesai mandi. Kini ia tengah berdiri di hadapan cermin sambil melilitkan pashmina dikepalanya. Suara seseorang yang amat ia kenali terdengar dari luar.
"Mas Yuda..." gumamnya pelan.
Secepat kilat Intan memakai pashmina kemudian keluar dari kamar ingin bertemu Yuda, bermaksud menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara ia dan Riko. Namun dia mengurungkan niatnya ketika Bunda Ema dan Wulan ternyata sedang bersama Yuda dan Sinta duduk di sofa sambil mengobrol satu sama lain.
Kedatangan Intan membuat keempatnya, mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Mbak Intan, kemarilah, bergabung lah bersama kami." Sinta tengah bersandiwara dihadapan Yuda, Bunda Ema dan Wulan.
Intan tak mengiyakan, tak pula duduk bersama mereka. Wanita itu hanya berdiri mematung dengan pandangan matanya ke arah Yuda yang sekarang malah membuang muka ke samping.
"Cih! Untuk apa kau menyuruhnya bergabung, Sinta! Dasar wanita tidak tahu diri! Membuat malu keluarga kita!" seru Wulan.
"Mbak Wulan, walau bagaimanapun dia istri adikmu," sergah Sinta sambil mengulas senyum tipis.
"Sudahlah, jangan berkelahi, aku baru saja pulang, Mbak, aku ingin beristirahat." Lerai Yuda, membuat Wulan mendengus sejenak.
"Mas, apa mau aku buatkan kopi." Akhirnya Intan membuka suara. Dia ingin mencairkan hati Yuda terlebih dahulu sebelum mengatakan sebenarnya tentang Riko nanti.
Intan menghela nafas kemudian melenggang pergi ke dapur. Tak sampai sepuluh menit ia membawa nampan berisi secangkir kopi dan roti kesukaan Yuda. Langkah kakinya terhenti saat mendengar sayup-sayup suara Bunda Ema dan Wulan berbicara pada Yuda.
"Yuda, bukannya Bunda ikut campur urusan rumah tanggamu, apa lebih baik Intan tidak usah kau suruh keluar rumah dulu. Gosip kemarin berhembus dengan sangat cepat Yuda, Bunda sangat malu memiliki menantu seperti Intan. Dia sama sekali tak bersyukur dengan kehidupannya sekarang, sekali-kali tegas lah padanya. Bunda mohon, Yuda."
Suara Bunda Ema terdengar tertahan dan menyesakan, karena ulah Intan, para tetangga menggunjing putranya yang tak becus mendidik istrinya. Tentu saja Bunda Ema amat sedih, mendengar cercaan tentang Yuda dan Intan.
__ADS_1
"Aku akan mempertimbangkannya, Bunda. Tapi aku juga meminta pada Bunda dan Mbak Wulan bersikaplah baik kepada Intan."
"Terimakasih, Yuda. Bunda juga meminta maaf padamu gara-gara sikap Bunda, Intan jadi tak betah."
"Untuk apa Bunda meminta maaf, Bunda tak salah! Tak ada pembenaran yang dilakukan Intan! Sekali salah, ya tetap saja salah!" sergah Wulan cepat.
"Sudahlah, Mbak. Aku malas berdebat denganmu," ucap Yuda lalu menghela nafas kasar.
Intan merasa bersalah akibat kesalahpahaman yang berkepanjangan. Membuat Bunda Ema malu. Semakin kuat tekadnya untuk berterus terang pada Yuda. Setelah cukup lama berdiri di dekat gorden, kedua kakinya kembali bergerak, menghampiri keempat orang dewasa tersebut.
Melihat kedatangan Intan, Wulan mendelikkan mata ke atas.
"Mas, ini kopinya." Intan membungkukkan badan sedikit lalu menaruh kopi di atas meja.
Yuda mengangguk. Tanpa banyak kata menyambar cangkir dan menyesap air berwarna hitam itu perlahan-lahan.
"Mas, bolehkah kita berbicara empat mata nanti," ucap Intan seketika.
__ADS_1
Yuda meletakkan cangkir di atas meja. Lalu menatap Intan, dengan tatapan yang sangat dingin dan tajam. Sementara Sinta tersenyum penuh kemenangan melihat gelagat suaminya.