
Yuda enggan membalas ucapan Intan, melainkan melenggang pergi dari hadapannya. Melihat pergerakan suaminya, Sinta pun mengekorinya dari belakang.
"Mas! Tunggu aku! Aku perlu berbicara denganmu, meluruskan semua kesalahpahaman ini, Mas!" seru Intan dengan menggerakan kakinya namun Wulan mencekal tangan Intan seketika.
"Tidak usah kau berbicara dengan adikku, perempuan binal!" Wulan melototi Intan.
Intan menggeram rendah, lalu mengibaskan tangan Wulan. "Jangan ikut campur urusanku, Mbak. Berhenti memanggilku perempuan binal!" Kedua mata berwarna hitam legam membalas balik menatap Wulan.
"Kau!" Wulan mulai meradang. Ia mengangkat jari telunjuknya tepat di wajah Intan.
"Minggir Mbak! Aku malas berdebat denganmu!" Intan menyentak kasar pundak Wulan kemudian berlalu pergi.
Wulan dan Bunda Ema saling melemparkan pandangan sejenak, melihat perubahan sikap Intan.
"Bunda lihat sendiri kan? Intan adalah menantu yang tidak tahu diri!" umpat Wulan.
Bunda Ema terlihat enggan membalas. Hanya menghela nafas berat.
*
*
*
Lantai dua, tepatnya di kamar Sinta. Intan mengetuk-etuk kamar madunya sedari tadi, menunggu sang suami untuk keluar dari ruangan.
"Sinta, di mana Mas Yuda?" cecar Intan cepat. Begitu melihat pintu terbuka, memperlihatkan Sinta dengan wajah sinisnya.
__ADS_1
"Dia sedang tidur, kecapean berkerja karena ulah Mbak, dia sampai lembur semalam," ucap Sinta sembari melipat tangan di dada.
Intan menarik nafas panjang, mendengar jawaban Sinta.
"Mbak mau ngomong apa sama Mas Yuda?" tanya Intan penasaran.
"Mbak mau–" Perkataan Intan terhenti kala teringat sekarang sikap Sinta tak seperti dulu.
Aku tak boleh terlalu terbuka kepada Sinta. Aku yakin Sinta sudah di racuni oleh Mbak Wulan. Aku harus lebih berhati-hati. Sebaiknya aku bicara besok saja sama Mas Yuda.
"Mau apa Mbak?"
"Tak jadi, Sinta. Sudahlah Mbak mau ke dapur dulu memasak untuk makan siang nanti." Sebelum mendengar tanggapan Sinta, Intan melangkah pergi menuju tangga.
*
*
*
Intan tak menyerah. Bahkan mengirimkan pesan singkat kepada Yuda mengatakan bahwa Riko adalah dokter spesialis penyakit dalam yang merupakan temannya. Tak lupa ia mengajak Yuda berbicara hanya berdua, ingin memberitahu rahasianya selama ini.
Semula ia tak mau memberitahu Yuda tapi sebuah pesan dari Riko memberinya sedikit harapan kalau penyakit Intan bisa sembuh katanya jika ia mau melakukan pengobatan di Kota. Namun sudah seminggu pesan tersebut tak kunjung di balas Yuda padahal keduanya tinggal seatap serumah.
Usaha Intan tak hanya sampai di situ. Dia sudah mencegat Yuda tapi Sinta selalu saja berada di sekitar mereka. Wanita bertubuh ringkih itu sampai-sampai menaruh kertas kecil di kotak bekal yang ia beri untuk Yuda. Yang isinya tentang jati diri Riko. Namun hasilnya nihil, malah Yuda bersikap ketus, cuek, dan dingin padanya. Kini Intan menyerah dengan keadaan, menebak jikalau Yuda tak lagi mencintainya.
Bulan berganti bulan, tak terasa perut Sinta juga telah membesar. Kemarin Sinta mengalami pecah ketuban ketika sedang sarapan bersama. Sontak Yuda begitu panik kemudian segera membawa Sinta ke rumah sakit. Lantas semuanya pergi ingin melihat anggota baru datang, terkecuali Intan. Ia ditugaskan Yuda, menunggu di rumah saja.
__ADS_1
"Semoga saja anak Sinta lahir dengan selamat," gumamnya pelan sambil menulis di secarik kertas yang berisikan untaian kata-kata tentang penyakitnya.
Jari-jemarinya bergerak dengan sangat lincah di atas kertas putih itu. Terlihat tangan dan tubuhnya semakin kurus hingga hampir menampakkan tulang-tulangnya. Walau badannya terbungkus dengan pakaian besar dan tertutup rapi tapi jika diperhatikan lebih jeli, tubuh Intan amat sangat kecil dan rapuh.
Samar-samar terdengar suara seseorang saling berbicara satu sama lain dari luar rumah seketika. Bergegas Intan membukakan pintu, melihat kedatangan keluarga Yuda dan Sinta tengah membawa seorang bayi munggil yang terbungkus lampin di gendongannya.
Intan tersenyum sumringah, melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah suaminya.
"Kenapa kau senyum-senyum ha! Cepat ambilkan kami minuman!" pekik Wulan seketika.
Intan tersentak. Mengapa kakak iparnya secara terang-terangan memperlihatkan rasa tak sukanya di hadapan keluarga Sinta.
"Mbak! Bisakah kau tidak teriak-teriak, anakku nanti bangun!" Yuda berkata tegas. Membuat Wulan bungkam. Kemudia ia mengalihkan pandangan ke arah Intan.
"Tak apa Mas, aku akan mengambilkan kalian minuman, masuklah dulu," ucap Intan lalu mempersilahkan mereka masuk ke rumah.
Selang beberapa menit, Intan berjalan dengan sangat hati-hati seraya membawa nampan berisikan teko besar dan beberapa gelas kaca.
Deg.
Intan mematung di dekat pilar tiba-tiba tatkala melihat di ujung sana Yuda sedang menggendong putrinya sembari mengecup kening Sinta di hadapan semua anggota keluarga. Seketika suara tawa menggema di ruang tamu sebab kedatangan anggota baru membuat suasana rumah menjadi lebih hangat dan berwarna.
Entah mengapa cairan bening keluar dari pelupuk mata Intan. Secepat kilat ia bersembunyi di balik pilar sambil memegangi dadanya yang amat sangat menyesakan sekarang. Dia pun bingung pada dirinya sendiri mengapa tiba-tiba menangis.
Ada apa denganku? Apa ini air mata kebahagiaan?
Mas, maafkan aku tak bisa memberikan mu seorang anak. Semoga saja kau selalu bahagia dengan keluarga kecilmu.
__ADS_1
Intan terisak pelan sambil mengelus perutnya yang datar.