
Sontak beberapa pengunjung pasar segera mengangkat tubuh Intan. Kemudian membawanya ke rumah salah seorang warga yang dekat dengan pasar.
Bik Inem nampak cemas, melihat keadaan Intan sekarang. Wanita paruh baya itu segera meminta minyak kayu putih untuk menyadarkan mantan majikannya itu.
Bik Inem dapat merasakan badan Intan begitu dingin. Dengan telaten ia memijit dan mengurut-urut kepala Intan. Tak lupa pula Bik Inem membersihkan bekas darah yang menempel di hidungnya.
Lima menit kemudian. Intan meringis sembari membuka matanya perlahan. Melihat Bik Inem tengah memegang tangannya.
"Bik Inem..." Intan berucap lirih.
"Non." Bik Inem menatap sendu Intan.
Intan ling-lung. Merasa dirinya di tempat asing sekarang, bukankah tadi dia berada di pasar sayur lalu mengapa sekarang di rumah yang tidak dia ketahui.
"Bik, aku di mana? Kenapa aku di sini?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke rumah berdinding kayu tersebut.
Bik Inem menghela nafas. "Non, ada di rumah salah satu warga, Tadi Non pingsan."
Intan terkejut sedikit. Namun tiba-tiba baru saja teringat saat membeli cemilan tadi, kepalanya sakit. Untuk sesaat dia terdiam sejenak.
"Non, kalau sakit kenapa dipaksakan ke pasar? Mengapa tidak menyuruh Non Sinta saja, sudah tahu kepalanya sakit tapi masih ngeyel," cerocos Bik Inem seperti seorang Ibu yang sedang mengomeli anaknya.
Intan tersentak. Mengapa Bik Inem bisa mengetahui kalau dia mengalami sakit luar biasa di bagian kepalanya.
"Bik Inem, mengapa bisa tahu kalau aku sakit kepala."
Bik Inem mengulas senyum. "Non, selama berkerja bibik tanpa sengaja melihat Non sering memegangi kepala. Sekarang jujurlah sama bibik, Non sakit apa?"
Sebuah pertanyaan dari orang yang pernah membantunya dulu, membuat Intan harap-harap cemas. Padahal dia sudah mewanti-wanti orang disekitarnya tak menyadari gelagatnya.
"Non, maaf kalau bibik ikut campur, Bibik sudah menganggap Non sebagai anak bibik, percayalah bibik tak akan membocorkan apa sakit Non," ucap Bik Inem kemudian kala melihat Intan tak menanggapi pertanyaannya.
Intan mengubah posisi tubuhnya seketika. Dengan gesit Bik Inem membantu Intan.
Intan menyenderkan kepala di dinding, kemudian memegang lengan kanan Bik Inem yang terlihat berkeriput.
"Bik, Intan mohon, jangan pernah beri tahu siapapun, cukup Bik Inem saja yang tahu," ucapnya pelan.
Bik Inem mengangguk cepat, tak sabaran mendengar jawaban mantan majikannya itu. "Iya Non, Bik Inem janji."
Sebelum mengatakan penyakitnya. Intan meraup udara di sekitarnya.
__ADS_1
"Aku di vonis dokter terkena kanker otak, stadium akhir, Bik," ucapnya lalu menundukkan kepala.
"Astagfirullah!" Bik Inem memeluk Intan seketika. "Non, Bibik tidak menyangka kalau Non terkena penyakit mematikan itu, Non yang sabar ya, Bibik yakin penyakit tersebut akan sembuh," katanya sambil mengusap punggung Intan saat merasakan tubuhnya bergetar kini.
"Apa ini alasan Non meminta Den Yuda menikah lagi?"
Bik Inem kembali bertanya. Dia pun kurang setuju dengan keputusan Intan menyuruh Yuda berpoligami. Tentu saja Bik Inem penasaran, apa yang membuat Intan begitu ngotot ingin Yuda menikah lagi. Padahal menurutnya, kedua mantan majikannya itu sangatlah mesra dan jarang sekali bertengkar seperti pasangan pada umumnya.
"Iya, Bik," ucap Intan dengan deraian air mata semakin mengalir deras.
Bik Inem terdiam, bingung apa yang harus di lakukan untuk menenangkan Intan. Dan sekarang mengerti maksud dan tujuan Intan meminta Yuda berpoligami.
Untuk sejenak, ruangan kecil berlapis kayu tersebut, dipenuhi dengan isakan tangis Intan yang menyayat hati.
Bik Inem membiarkan Intan melampiaskan semua kesedihannya. Wanita itu hanya mampu mengusap-usap pelan punggung Intan.
Selang beberapa menit, Intan sudah terlihat tenang. Lantas Bik Inem mengurai pelukan kemudian mengusap jejak air mata Intan.
"Non, apa Den Yuda sudah tahu mengenai penyakit Non?" tanya Bik Inem penasaran.
Intan sesengukkan sejenak. "Jangan sampai Yuda tahu, Bik. Aku tak mau dia sedih, kepergian almarhum ayahnya membuat Mas Yuda trauma, Bik."
Bik Inem menarik nafas pelan. "Maaf, kalau Bibik terlalu ikut campur, Non. Tapi alangkah lebih baiknya Den Yuda tahu, terlepas dari traumanya di masa lalu, lagipula siapa yang akan pergi, Bibik yakin Non akan sembuh!" serunya semangat.
"Terimakasih Bik, sudah menyemangati ku, aku punya alasan sendiri tak memberitahu Mas Yuda," ungkap Intan lalu tersenyum getir.
Bik Inem tak bisa berkata apa-apa lagi dengan keputusan Intan.
"Baiklah, kalau begitu, Bik Inem berharap Non Intan lekas sembuh dan kalau bisa jangan terlalu kelelahan, sekarang Bibik akan mengantar Non ke rumah, oke?"
Intan mengangguk pelan sambil mengukir senyuman di wajahnya. "Iya, Bik, terimakasih Bik, tolong jangan beritahu siapapun tentang penyakitku, Bik, bahkan Sinta, mertua dan kakak iparku, mereka tak boleh tahu."
"Iya, Non, Bibik akan menyimpan rahasia ini."
Jawaban Bik Inem, membuat Intan merasa lega.
*
*
*
__ADS_1
Sesampainya di rumah. Bik Inem tak serta-merta langsung pulang. Ia pun membantu sebentar perkerjaan Intan. Yuda merasa heran, melihat Bik Inem tengah memasak di dapur.
"Bik, kenapa ada di sini? Intan di mana?" tanya Yuda sambil menelisik keberadaan Intan.
Bik Inem menoleh. "Tadi Bibik nggak sengaja ketemu Non Intan di pasar, ini sekarang lagi bantu Non Intan sebentar, kasihan dia karena datang bulan jadi kurang enak badan. Non Intan ada di ruang tengah Den," ucapnya.
Mendengar hal itu, Yuda begitu mulai gelisah.
"Oh begitu, terimakasih Bik sudah mau membantu kami, nanti akan saya bayar. Saya permisi dulu mau ke ruang tengah," ucap Yuda kemudian berlalu pergi dari hadapan Bik Inem.
"Intan," panggil Yuda. Melihat Intan tengah menselonjorkan kakinya di atas sofa.
"Mas."
"Apa perutmu keram?" tanya Yuda sambil duduk di samping Intan lalu mengelus pelan perutnya yang rata.
Intan tersenyum tipis. "Sedikit, Mas."
"Apa lebih baik kita ke puskesmas saja? Hari ini Mas tak masuk kerja, Mas akan menemanimu ya," ucap Yuda.
"Tak usah Mas, nanti juga akan sembuh sendiri, apa tak apa-apa Mas tak berkerja?"
"Tak apa-apa, lagipula suamimu yang tampan ini bosnya," ucapnya lalu mengecup kening Intan sekilas.
Intan menyenderkan langsung kepalanya di bahu Yuda. Entah mengapa jika sedang menstruasi ia sedikit manja.
"Hmm!!" Dehaman kuat dari belakang, membuat Yuda dan Intan menoleh ke sumber suara.
"Apa aku menganggu kalian, Mas?" tanya Sinta sambil menghampiri keduanya.
"Tidak, Sinta." Bukan Yuda yang menjawab melainkan Intan.
"Mengapa kau baru bangun sekarang?" Kali ini Yuda bertanya ketus sebab Sinta tak membantu Intan dan malah bangun kesiangan.
Sinta terhenyak, menahan gemuruh dadanya saat ini, ketika Yuda kembali membentaknya di hadapan Intan.
"Maaf, Mas, tengah malam aku muntah-muntah alhasil aku bangun kesiangan Mas," ucap Sinta apa adanya.
Yuda mendengus, sementara Intan menyipitkan matanya, mendengar penuturan Sinta.
"Sinta, kau sakit?"
__ADS_1
"Nggak, Mbak. Hanya saja kalau cium bau yang aneh, mual-mual Mbak," jawab Sinta.
Apa Sinta hamil? Monolog Intan di dalam hati.