
Kehadiran Amirah membuat suasana di rumah semakin bertambah hangat. Kini tak terasa sudah 3 bulan ia beranjak. Pipinya begitu bulat dan menggemaskan, bagi siapapun yang melihatnya pasti akan geram sendiri.
Yuda dan Sinta berganti-gantian menimang putri pertamanya. Keduanya sangat menikmati peran baru mereka sebagai ayah dan ibu. Lantas setiap hari, sebelum berangkat berkerja Yuda pasti akan menggendong terus putrinya dan tak lupa mengajak Amirah berbicara sejenak.
Begitupula dengan Wulan dan Bunda Ema sekarang lebih banyak menghabiskan waktu mereka di rumah Yuda. Kebahagian terpancar jelas dari wajah Yuda, Sinta, Bunda Ema dan juga Wulan. Namun berbanding terbalik dengan Intan. Semenjak kejadian ia bersetubuh bersama sang suami. Hubungan keduanya semakin renggang. Yuda menciptakan benteng yang sangat tinggi. Pria itu tak mempercayai perkataan Intan tempo lalu.
Di rumah Intan diperlakukan seperti seorang pembantu. Dia berusaha ikhlas menjalani kehidupannya. Dan sekarang pula Yuda tak pernah lagi sekamar dengannya. Intan begitu nelangsa, ketika teringat rencana awalnya yang ingin membuat Yuda tak merasa sedih jikalau ia pergi suatu saat nanti. Namun bukan hubungan seperti ini yang ia harapkan. Tapi Intan berusaha menerima apa yang telah terjadi saat ini.
Bias mentari mengenai gorden kamar Intan, membuat ia mau tak mau harus membuka matanya. Sepasang mata berwarna hitam itu terbuka perlahan, memandangi jendela sejenak, tatapannya menyiratkan sebuah kekosongan. Tarikan nafas pelan terdengar dari indera penciumannya, Intan langsung duduk di tepi ranjang sambil menatap lurus ke depan.
"Hampir saja kesiangan," gumamnya pelan sembari merapikan rambut panjang yang terlihat agak berantakan. Kemudian dia beranjak dari pembaringan hendak melakukan rutinitas seperti biasa.
Tepat pukul 5.30 Intan sudah berada di pasar, membeli beberapa sayur dan kebutuhan untuk di rumah. Sembari memilih-milih sayur, Intan mematung sejenak kala rasa sakit dikepalanya semakin menjadi-jadi. Kali ini tubuhnya juga sesekali mati rasa, rasa mual, muntah dan penglihatannya mulai kabur.
Intan meraih tangan seorang ibu-ibu di sampingnya ketika kakinya terasa tak mampu menopang.
"Kenapa Nduk?" tanya wanita paruh baya tersebut sambil mengerutkan dahi.
Intan menarik nafas panjang. "Maaf, bu, saya lagi sakit kepala, saya boleh minta tolong antarin saya ke warung di sana," ucapnya seketika.Sang Ibu nampak panik, dengan sigap segera menuntun Intan ke warung yang di maksud Intan.
Sekitar 30 menit, Intan beristirahat di warung dengan ditemani wanita yang membantunya tadi.
"Sakit apa toh Nduk? Mukanya sampai pucat gitu? Lebih baik ke puskesmas saja, nanti ibu antar ya?" Sang Ibu menawarkan diri manakala mengamati wajah Intan sangat pucat seperti kapas.
Intan menggeleng lemah. "Cuma sakit kepala biasa bu, sebentar lagi juga baikkan, obatnya lagi bereaksi." Beberapa menit yang lalu Intan minum obat yang diberi Riko tempo lalu, sejak sering sakit kepala dia selalu membawa obat tersebut.
"Yakin?" Sang Ibu menghela nafas kasar.
Intan mengangguk. "Yakin, bu, terimakasih sebelumnya sudah mau menemani saya di sini bu."
"Sama-sama, Nduk, anggap saja saya ibu kamu," balas wanita itu sambil mengulas senyum.
Selang beberapa menit, setelah sakit dikepalanya sedikit mereda. Intan bergegas pulang ke rumah. Sesampainya di sana, dia mengerutkan dahi saat mendapati rumah dalam keadaan kosong. Lantas ia pun mengambil handphonenya, ingin menghubungi Yuda. Namun sebuah pesan dari Sinta mengurungkan niatnya.
...Mbak, tak usah masak, kami berkunjung ke rumah Abah, mereka rindu sama cucunya. Sepertinya kami akan pulang agak sore, tolong pakaian Bunda Ema dan Mbak Wulan di angkat jemurannya....
Intan menarik nafas panjang, membaca pesan singkat dari Sinta. Kemudian ia menaruh kembali benda pipih itu.
*
*
*
Menjelang sore, Intan menyibukkan diri membuat kue cake untuk Yuda. Entah mengapa ia teringat sudah lama tak memasak kue kesukaan suaminya. Setelah selesai, Intan bergegas mengangkat pakaian milik Bunda Ema dan Wulan ketika melihat langit diluar mulai nampak mendung.
__ADS_1
"Intan, kaukah itu?" Bunda Ema melihat seorang wanita kurus tengah membelakanginya, sedang mengambil pakaian di gantungan miliknya.
Intan memutar kepala. "Iya, Bunda. Ini aku."
Bunda Ema mengangkat satu alis mata."Bunda pikir siapa? Tubuhmu sangat kurus, seperti orang kelaparan saja! Sudahlah, Bunda mau ke dalam," katanya ketus.
Intan tersenyum getir. "Iya Bunda, Mas Yuda sama Sinta sudah di rumah ya?"
"Sudah!" Bunda Ema menatap sinis Intan lalu melenggang pergi masuk dalam rumah.
Selesai menaruh pakaian di ruang tamu Bunda Ema. Intan berlarian ke rumahnya, ingin mengambil lagi pakaian miliknya, Yuda, dan Sinta. Sebelum ke lantai paling atas. Langkah kaki Intan terhenti, kala mendengar suara tangisan Amirah di ruang tamu. Tanpa banyak kata ia menuju sumber suara.
"Kemana Yuda dan Sinta?" Intan celingukan ke sana kemari, saat melihat Amirah di troli bayi seorang diri.
"Oek, oek, oek, oek, oek, oek! Oek, oek!" Amirah menangis kejer sambil menggerakan tangannya.
"Bagaimana ini?" Intan ingin sekali menggendong Amirah, namun saat teringat Sinta tak mengizinkannya menyentuh Amirah sama sekali, dia diterpa kebingungan.
"Oek, oek, oek!!!" Amirah semakin menangis ketika suara guntur terdengar lagi di luar sana.
Tanpa banyak Intan mengambil Amirah dari troli lalu mengelus perlahan perutnya namun tiba-tiba kepala Intan begitu sakit sampai-sampai ia meringis sejenak.
"Ahk..." Tangannya tiba-tiba mati rasa, membuat Amirah yang berada di dalam gendongannya terlepas.
"Intan!!!" teriak Wulan sambil menangkap Amirah agar tak jatuh ke lantai.
"Ada apa ini?" Yuda melebarkan mata, mendengar Amirah menangis tak seperti biasa. Dia melihat Intan berdiri di dekat troli anaknya sambil memegangi kepala.
"Intan ingin mencelakai Amirah, Yuda! Perempuan ini benar-benar tak tahu diri!" seru Wulan berapi-api.
"Amirah!" Sinta baru saja tiba dari dapur. Terkejut saat mendengar suara teriakan Wulan barusan. Dia pun mendekati Wulan dan menanyakan apa yang terjadi.
"Kau mau tahu, Sinta, tadi aku melihat Intan ingin membanting Amirah ke lantai!" Wulan memutar balikkan fakta.
"Apa?" Dengan nafas yang memburu, Sinta menatap tajam Intan. Begitupula Yuda, kedua tangannya terkepal kuat.
"Kalau Mbak tidak suka denganku, jangan sakiti Amirah, Mbak, dia tidak bersalah sama sekali."
"Tidak, Sinta. Apa yang diucapkan Mbak Wulan bohong. Dia memutar balikan fakta, Sinta. Tadi Mbak mau nenangin Amirah yang lagi nan–"
"Dasar pembohong!" Wulan membela diri, menatap tajam Intan.
Sebisa mungkin Intan menahan rasa sakitnya sekarang lalu menatap balik Wulan dengan sengit.
"Aku tidak bohong, Mbak! Mengapa Mbak suka sekali mencari gara-gara denganku! Kalau ada cctv di sini, kalian bisa mengeceknya!"
__ADS_1
"Kau! Dasar perempuan mandul! Ceraikan saja wanita ini, Yuda." Wulan melayangkan pukulan di pipi Intan.
Plak!
Intan tersentak, begitupula dengan Sinta dan Yuda. Amirah pun belum bisa tenang. Bayi itu masih menangis dalam gendongan Wulan.
Secepat kilat Intan mengangkat tangannya ke udara.
Plak!!
Suara tamparan terdengar sangat nyaring hingga membuat darah mengalir dari bibir Wulan.
"Intan! Stop!" Yuda berlarian menghampiri mereka kemudian menyentak kasar tubuh Intan hingga terjembab ke atas lantai.
Bugh!
"Ahkk!" Intan mengaduh kesakitan ketika tubuh ringkihnya menerpa lantai keras tersebut.
"Jangan sekali-kali kau menyentuh keluargaku!" murka Yuda.
"Yuda, talaklah Intan, Mbak memohon padamu, lihatlah dia sudah berani menampar Mbak!" Wulan menimpali sambil menangis tersedu-sedu.
Jedar!
Suara guntur dari luar membuat suasana semakin mencekam sekarang. Yuda menatap Intan sangat tajam. Pria itu tak melepaskan pandangan dari Intan yang tengah bangkit berdiri dengan tertatih-tatih sekarang.
"Yuda! Mbak mohon! Ceraikan Intan, dia bisa saja membahayakan keluarga kita. Lihatlah anakmu saja hampir terluka gara-gara dia." Wulan semakin terisak kuat dengan kedua matanya sudah menganak sungai.
Yuda dan Intan saling menatap sama lain. Jika Intan menatap sendu sang suami, tapi tidak dengan Yuda. Jejak kemarahan teramat jelas tergambar dimatanya.
"Intan Nawangsari, mulai detik ini aku jatuhkan talak pada dirimu!" Yuda berseru lantang, beriringan pula suara guntur kembali terdengar.
Jedar!!!
Intan mematung di tempat, nafasnya tiba-tiba tercekat. Sekarang dadanya bagai di tusuk ribuan belati. Rasanya kalimat itu membuat kepalanya berputar-putar. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Pergi kau dari sini!!!" teriak Yuda lagi.
Intan langsung menangis sambil menatap nanar sang suami dan berkata pelan,"Iya, Mas, terimakasih atas semuanya, maafkan atas semua kesalahanku, aku belum bisa menjadi istri yang baik. Berbahagialah Mas dengan keluarga kecilmu, aku mencintaimu, Mas."
Deg.
Mendengar kalimat tersebut, jantung Yuda terasa di remas oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tanpa terasa cairan bening mengalir perlahan di kedua pipinya. Yuda tertegun, melihat Intan menangis sambil tersenyum padanya.
"Pergi kau dari sini! Perempuan mandul!!!" Wulan berteriak sambil menunjuk ke arah pintu utama.
__ADS_1
"Aku pergi...." Intan memutar badannya kemudian berlari ke daun pintu, menerobos hujan yang saat ini semakin bertambah lebat.