Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
My Angel


__ADS_3

"Intan, mengapa diam? Katakan lah padaku."


Sedari tadi, Yuda menanti jawaban dari Intan. Dengan sabar ia menunggu, berharap istrinya dapat berkata jujur dan mengungkapkan apa alasan Intan menyuruhnya menikah lagi.


Sementara, Intan menatap manik mata Yuda dengan sangat dalam. Melihat pancaran mata Yuda menyiratkan kesedihan mendalam.


"Mas, aku hanya ingin kau bahagia, itu saja," kilah Intan semakin membuat Yuda mendesah kasar.


"Apa tidak ada alasan lain? Aku yakin kau berbohong padaku sekarang, Intan, jujurlah padaku, apa benar karena Mbak Wulan?"


Intan menggeleng cepat. "Tidak, Mas. Aku mengatakan yang sebenarnya, Mas."


Yuda menurunkan tangan seketika kemudian menyugar rambutnya ke atas.


"Intan, aku tak tahu apa yang di dalam pikiranmu, aku masih bingung, apa maumu? Aku tak tahu dengan kehidupan kita ke depannya. Terlebih lagi sekarang ada Sinta, aku tak mencintainya, di hatiku cuma ada namamu. Jangan heran, jika suatu saat nanti aku menceraikan Sinta, sudahlah, aku harus pergi berkerja." Yuda begitu kecewa terhadap Intan yang tak jujur padanya. Sebelum mendengar jawaban Intan, Yuda berlalu pergi dari hadapan Istrinya.


Tidak, jangan sampai Mas Yuda menceraikan Sinta, itu tidak boleh, aku harus membuat Mas Yuda jatuh cinta pada Sinta secepatnya. Intan melihat punggung Yuda menghilang di balik pintu.


*


*


*


Menjelang siang. Suasana di rumah sangat sepi. Biasanya Yuda akan makan siang di rumah, namun entah mengapa hari ini nampaknya Yuda tak beristirahat di rumah. Sepertinya pria itu sangat marah pada Intan.


Saat ini, Intan menatap nanar makanan yang telah ia masak tadi di atas meja makan.


Sedangkan Sinta baru saja tiba ke rumah. Dari pagi hingga siang hari dia bertandang ke rumah mertuanya. Wanita yang umurnya terbilang lebih muda dari Intan itu, menghampiri madunya.


"Mbak, Mas Yuda nggak istirahat di rumah?"


Intan menoleh. Mengukir senyum tipisnya sesaat.

__ADS_1


"Nggak, Sinta. Sepertinya kerjaan Mas Yuda masih banyak, kau sudah makan?" tanyanya.


Sinta nampak manggut-manggut. "Sudah Mbak, tadi makan di rumah Bunda, oh ya Mbak, ada yang mau aku bicarakan sama Mbak nanti," katanya.


Intan menautkan alis mata. "Mau bicara apa?"


"Nanti saja, Mbak makan siang lah dulu. Cuaca hari ini sangat panas Mbak. Aku ingin ke kamar, mau mandi sebentar," jawab Sinta cepat.


"Baiklah, Mbak makan dulu ya, selepas itu kita ke taman belakang saja," ujar Intan.


Sinta mengangguk pelan. Kemudian pamit pada Intan, hendak membersihkan badannya.


Selang beberapa menit. Intan sudah selesai makan, begitupula dengan Sinta sudah selesai mandi. Keduanya pun bergegas ke taman belakang.


Intan mengajak Sinta duduk di bangku kayu panjang, menghadap ke rumah mertuanya yang terlihat sepi sebab Bunda Ema dan Wulan pergi ke desa sebelah.


"Sinta, apa yang ingin kau bicarakan?" Intan memulai pembicaraan kala Sinta membisu sedari tadi.


Sinta begitu gamang, bingung apa yang harus dia lakukan. Apalagi saat berkunjung ke rumah mertuanya tadi. Sinta curhat mengenai kecemburuannya pada Wulan dan mengatakan Yuda belum mencintainya. Namun jawaban Wulan di luar perkiraannya. Mengatakan Yuda bisa kapanpun menceraikannya. Memikirkan hal itu, perasaan Sinta semakin kalut.


"Sin, mengapa diam?" Intan menyentuh punggung tangan Sinta.


"Mbak, apa mbak mencintai Mas Yuda?" tanya Sinta.


Intan mengulas senyum. "Tentu saja aku mencintainya, ada apa Sinta?"


Helaan berat berhembus pelan dari hidung Sinta.


"Tidak Mbak, aku hanya penasaran, Mbak apa benar alasan Mbak mengizinkan Mas Yuda menikah lagi, karena Mbak belum memiliki anak sampai sekarang," Sinta bertanya dengan sangat hati-hati.


Intan menoleh. "Sinta, sebenarnya bukan itu alasan utamaku meminta Mas Yuda menikah lagi."


Dahi Sinta berkerut kuat sekarang. "Lalu apa Mbak? Katakan padaku Mbak, jangan sampai aku mundur Mbak," ucapnya lalu menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


Intan menyambar tangan Sinta kemudian menggenggam tangan munggil itu dengan erat."Maaf, Sinta. Ini urusan pribadi Mbak, Mbak mohon jangan pergi, temani Mas Yuda hingga menjelang tua nanti, lahirkanlah anak untuknya Sinta."


Jawaban Intan terdengar ambigu di telinganya. Sinta keheranan. "Memangnya Mbak nggak mau nemanin Mas Yuda sampai tua," celetuknya tanpa sadar.


Intan membalas dengan tersenyum tipis. "Tentu saja Mbak akan menemaninya. Maksud Mbak, kita akan menemaninya," ucapnya lalu mengalihkan pandangan ke depan.


"Hm, tapi Mas Yuda tidak mencintaiku Mbak," ucap Sinta lesu.


"Bersabarlah Sinta, Mas Yuda bukanlah pria yang mudah jatuh cinta, bagaimana kalau besok kau melakukan apa yang Mbak kerjakan di rumah."


Sinta mengangkat wajahnya. Melihat wanita yang sudah memasuki umur kepala empat itu, begitu cantik meskipun tubuhnya kini begitu kurus tak seperti pertama kali ia berjumpa.


"Maksudnya, Mbak?"


"Sinta, besok kau harus mulai memasak setiap jam 5 pagi, Mbak akan membantumu, seperti membuatkannya kopi, menyiapkan pakaian kerjanya dan lain-lainnya," ujar Intan lembut.


Sinta terenyuh. Mengapa madunya itu sangatlah baik. Sempat terlintas di benaknya ingin menyingkirkan Intan namun Sinta mengusir pikiran jahatnya seketika.


"Apa dengan begitu, Mas Yuda akan mencintaiku Mbak?" tanyanya penasaran.


"Serahkan semua pada Allah, mulailah dulu dari hal-hal kecil, pria akan jatuh cinta pada wanita yang perhatian padanya, bersabarlah Sinta, percaya sama Mbak, jika kau bersabar, namamu akan terukir di hati Yuda," kata Intan menenangkan Sinta.


"Terimakasih Mbak." Reflek Sinta langsung memeluk Intan.


Ya Allah, usirlah semua pikiran kotormu ini, jangan sampai terhasut oleh bisikan setan.


Sinta bermonolog di dalam hati. Teringat penuturan Wulan, mengatakan jika Intan, wanita bermuka dua dan tukang selingkuh.


Tak mungkin pula Mbak Intan berselingkuh, lihatlah hatinya begitu luas, jika aku di posisi Mbak Intan tidak kan sanggup berbagi suami, tapi sekarang aku tak boleh serakah. Aku harus mengikuti saran Mbak Intan dan membantunya membahagiakan Mas Yuda.


Sementara itu, dari kejauhan Yuda yang hendak makan siang di rumah Bunda Ema. Terkejut, melihat kedua istrinya saling berpelukan satu sama lain di bawah pohon rindang nan besar.


Ya Allah, mengapa beban di pundakku sangat lah berat. Semalam aku begitu jahat pada Sinta, tapi mau bagaimana lagi, aku tak mencintainya, hanya Intan lah bidadariku.

__ADS_1


__ADS_2