
Intan duduk di tepi ranjang sambil menarik nafas panjang, menetralisir rasa sakit dikepalanya. Selang beberapa menit, rasa sakitnya mulai mereda. Wanita itu memutuskan untuk makan saja, berharap setelah perutnya terisi, sakit dikepalanya tak kan timbul lagi.
Intan sedikit heran, bukankah jika sudah menjalani pengobatan biasanya rasa sakit akan hilang perlahan-lahan tapi mengapa yang ada, kepalanya terus-menerus sakit meskipun begitu Intan berusaha melawan penyakitnya dengan sekuat tenaga agar penyakitnya tak membahayakan anaknya.
Intan mengambil piring di atas nampan, lalu mulai menyantap makannya. Tak butuh waktu lama, piring sudah terlihat kosong. Dia sedikit bersyukur, buah hatinya tak pernah menyusahkannya. Malahan di kehamilan pertamanya, ia lebih banyak makan walaupun tubuhnya tak juga membesar.
Intan kerap kali menanyakan pada Riko, semua keanehan yang terjadi pada tubuhnya. Riko menjelaskan itu hal yang normal bagi Intan. Pria itu juga mengatakan padanya untuk selalu semangat dan tak boleh banyak pikiran.
Sekitar dua puluh menit kemudian, putri Bik Inem telah datang. Wanita yang sepantaran dengan Sinta itu membawa buah-buahan untuk Intan. Hampir setiap hari ia berkunjung ke rumah, beruntung sekarang wanita itu tinggal bersama suaminya yang rumah tak jauh pula dari tempat tinggal Intan. Keduanya pun menghabiskan waktu di rumah mini itu dengan bersenda gurau bersama. Menjelang sore, Bik Inem pun pulang ke rumah. Melihat kedatangan Ibunya, putri Bik Inem pamit undur diri.
"Nduk, Bibik siapin air mandi buat kau mandi ya," ucap Bik Inem sambil mengelap keringat di dahi.
Intan mengangguk cepat. "Iya, terimakasih Bik."
****
Dengan perlahan Intan mengguyur tubuhnya dengan air kemudian menggosok tangan dan dadanya dengan spons yang sudah di beri sabun. Saat hendak mengosok perutnya, ia merasa sesuatu mengalir dari kedua pahanya.
Intan menoleh ke bawah dan sangat terkejut saat melihat air ketubannya pecah.
"Bik, aku mau melahirkan!" teriak Intan seketika membuat Bik Inem yang sedang memasak mematikan kompor.
"Bik, tolong aku!" pekik Intan lagi.
***
"Bik Inem, kita berdoa dan serahkan sama Allah agar Intan dan anaknya selamat." Riko baru saja tiba dan langsung menenangkan Bik Inem yang tengah duduk di bangku tunggu, tengah mencemaskan keadaan Intan yang sekarang sedang bertarung nyawa di dalam ruang persalinan.
"Tapi Nak, itu darahnya banyak tadi." Bik Inem terlihat grasak-grusuk.
__ADS_1
Riko menghela nafas kasar. Bingung harus menjawab apa, berharap adanya mukjizat untuk Intan dan juga anaknya.
Meninggalkan Riko dan Bik Inem, Intan menarik nafas panjang sambil menahan sakit dikepalanya tiba-tiba. Saat ini wanita itu berbaring di atas brangkar tanpa ditemani Yuda.
"Ahkkk!! Kepalaku sakit..." Lirihnya sambil menutup mata, kemudian menarik dan menghembuskan nafas.
Sontak para medis kelimpungan saat melihat wajah Intan terlihat pucat pasi.
"Bu, bagaimana ini?" Salah seorang perawat bertanya pada Bidan.
"Bu Intan, ayo semangat pasti bisa, lihat dedeknya sudah mau keluar kepalanya," ucap Bidan seketika, menyemangati Intan.
"Argh! Kepala saya sakit, bu." Kini rasa sakit tidak hanya menjalar di bagian bawah badannya tapi juga di kepalanya. Intan merasakan tubuhnya sangat remuk seakan tulang-tulang pun ikut terlepas.
"Mas Yuda!" teriak Intan tiba-tiba dengan berderai air mata.
"Ayo, bu, sedikit lagi ya." Sang perawat menyeka air mata dan keringat di dahi Intan.
"Tenang bu, kami yakin ibu pasti bisa! Sekarang ambil nafas dalam-dalam, buang perlahan lalu dorong ya bu." Kedua orang perawat langsung menggengam tangan Intan di sisi kanan dan kiri.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam......" Sang Bidan mulai berhitung memberi aba-aba kepada Intan untuk mengejan.
Intan pun langsung melakukan sesuai perintah sang Bidan.
"Oek, oek, oek, oek!!!" Suara tangisan bayi menggema di ruangan seketika. Bayi munggil yang masih memerah itu menggerakan tangan dan kakinya ke segala arah.
Intan menatap anaknya yang masih di tangan Bidan dengan tatapan yang tak bisa terbaca.
"Selamat bu, anak ibu perempuan." Sang Bidan mengulas senyum.
__ADS_1
"Yulia, namanya Yulia..." Intan berucap lirih sembari menutup matanya perlahan. Terlihat cairan bening itu kembali mengalir di pelupuk matanya.
Mas Yuda, anak kita sudah lahir, aku mencintaimu, Mas.
*
*
*
"Intan!!!" Yuda terduduk lemas dari tempat tidur. Nafas pria itu tak beraturan. Nampak peluh keringat membasahi sekujur tubuhnya. Entah mengapa cairan bening menerpa kedua pipinya seketika.
"Mas, kau kenapa?" tanya Sinta yang baru terbangun karena mendengar teriakan Yuda barusan.
Yuda langsung menghapus air matanya kemudian tanpa banyak kata beranjak dari atas ranjang.
Sinta keheranan, melihat sikap Yuda."Mas! Kau mau ke mana?" tanyanya penasaran.
Brak!
Sinta terperanjat kaget, saat Yuda membanting pintu.
Di luar sana Yuda langsung pergi ke kamar Intan, mimpi buruk yang ia alami barusan membuatnya ketakutan. Yuda masuk perlahan ke dalam ke kamar dan memutuskan tidur di kasur ia dan Intan dulu tempati.
Pukul dini hari, Yuda terbangun saat merasakan tenggorokannya begitu kering.
"Intan, kau kah itu?" Yuda mengucek matanya sejenak, saat melihat Intan berdiri tegap di dekat gorden, tengah membelakanginya.
"Apa aku sedang bermimpi?" gumam Yuda pelan. Lalu beranjak, mendekatinya kemudian menyibak rambutnya dan melingkarkan tangan di pinggang Intan, yang nampak terdiam.
__ADS_1
"Intan, maafkan aku, aku tak sanggup hidup tanpamu, aku yang salah, seharusnya aku lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu, gara-gara aku, kau berselingkuh, kau jangan pergi lagi ya, aku mohon..." Yuda mencium leher Intan dari belakang sambil menitihkan air matanya. Saat ini pria itu tak peduli, walaupun wanita yang dipeluknya kini hanyalah halusinasi tapi dia merasa kerinduannya sedikit terobati.