Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
This Is Your Reason


__ADS_3

Hampir sebulan Sinta melakukan aktivitasnya sebagai istri baru Yuda. Wanita itu begitu senang kala suaminya sama sekali tak menolak apapun yang ia lakukan seperti menyiapkan baju kerjanya, membuatkannya kopi dan sebagainya.


Sinta sempat kebingungan, bagaimana caranya memberi perhatian pada Yuda namun berkat bantuan Intan. Ia mulai paham.


Intan sudah dia anggap seperti kakak kandungnya. Intan mengajarinya memasak dan melakukan berbagai macam tugas seorang ibu rumah tangga. Sebenarnya Sinta bukan lah tipikal wanita yang beberes rumah, sebab ketika tinggal bersama orangtuanya. Sinta begitu di memanjakan. Namun demi Yuda, apapun akan ia lakukan.


Sekarang juga, Yuda tidur bersamanya setiap hari kamis sampai minggu. Dia yakin sekali, ada campur tangan Intan. Walau sekamar Yuda tak pernah menjamah tubuhnya, tapi Sinta tetap bersyukur, setidaknya ada kemajuan sedikit.


Seperti biasanya, di minggu pagi ini, Sinta akan pergi ke pasar bersama Bik Inem membeli kebutuhan di rumah. Sinta sedikit merengut kala Intan tak ikut karena katanya ada urusan mendadak di luar.


"Kenapa Non, kok mukanya cemberut?"


Bik Inem memberanikan diri bertanya, melihat Sinta lebih banyak diam.


Sinta menoleh, kemudian menghembuskan nafas kasar. "Mbak Intan, kok akhir-akhir ini sibuk banget ya, jadi nggak seru deh! Apa biasa Mbak Intan, selalu pergi pagi-pagi gitu setiap hari minggu. Sampai-sampai Mas Yuda juga nggak tahu dia pergi kemana?" cerocos Intan panjang lebar bak rel kereta api.


Sebelum pergi ke pasar tadi, Sinta sempat bertanya pada Yuda, kemanakah Intan pergi, namun Yuda sendiri pun tak tahu.


Bik Inem menggaruk kepala sesaat. "Hmm, nggak tahu Non, baru sebulanan ini Non Intan agak sibuk, sudahlah Non jangan pikirkan. Lebih baik sekarang kita bergegas ke pasar," ucapnya sambil merangkul lengan Sinta.


Sinta menghembuskan nafas panjang, mengikuti langkah kaki Bik Inem. Dia masih kesal, mengapa Intan seakan memberi jarak padanya pula akhir-akhir ini, ada apakah gerangan?


*


*


*


Pagi menjelang siang. Sinta dan Yuda tengah makan siang bersama tanpa kehadiran Intan. Sedari tadi Sinta takut-takut mengajak suaminya mengobrol.


Ketika pulang dari pasar, Sinta melihat Intan bersama seorang pria semobil dan pergi entah kemana. Tentu saja Sinta penasaran, siapakah itu? Tak mungkin keluarga Intan. Karena setahunya sanak saudara Intan tak tinggal di kampung.


Demi menjawab rasa penasarannya ia pun merekam Intan dan pria asing itu menggunakan ponselnya. Sesudah kembali ke rumah, setelah selesai masak dan membersihkan badan. Sinta pun langsung memperlihatkan video tersebut pada Yuda dan bertanya siapa lelaki itu?


Bukannya menjawab, Yuda malah mengeraskan rahang. Sinta jadi takut sendiri, mengira pria di dalam rekaman itu bukan keluarga Intan. Menebak gosip yang berhembus di desa, memang benar adanya, kalau Intan berselingkuh.


Jarum jam di dinding berdetak amat kencang. Menjadikan suasana di ruangan begitu mencekam. Sinta bergeming di posisi semula, duduk berhadapan dengan Yuda. Sesekali curi-curi pandang sambil memasukan makanan ke mulutnya.


"Yuda!" Wulan menyembul dari balik pintu. Mukanya terlihat kesal.

__ADS_1


Yuda dan Sinta serempak menoleh.


"Ada apa?" Suara Yuda terdengar dingin membuat bulu kuduk Sinta dan Wulan berdiri sejenak.


"Bagaimana kau ini?! Istri tuamu itu berduaan bersama seorang pria! Sungguh memalukan! Intan menjadi buah bibir di kampung kita! Tetangga sebelah mengatakan kau tak becus mendidiknya! Mengapa tak kau ceraikan saja, istri tuamu itu ha?!" seru Wulan.


Yuda meletakkan sendok di atas piring dengan sangat kuat kemudian bangkit berdiri. "Diam kau! Ini urusan rumah tanggaku! Tak usah ikut campur! Lebih baik kau pergi!" serunya sembari menunjuk ke arah pintu.


Tangan Wulan terkepal kuat, menahan gemuruh di dalam dadanya saat Yuda mengusirnya seketika.


"Intan!" teriak Yuda ketika mendengar Intan mengucapkan salam dari balik pintu. Secepat kilat ia melangkah, melewati Wulan yang tersenyum sinis melihat kedatangan Intan.


Intan tersentak, reflek mengelus dada."Ada apa Mas?"


"Ikut aku!!!"


Yuda langsung menarik tangan Intan dan menuntunnya ke ruangan lain. Meninggalkan Sinta dan Wulan yang melemparkan pandangan satu sama lain.


"Benar kata Mbak Wulan, sepertinya Mbak Intan berselingkuh," kata Sinta.


"Bukan sepertinya lagi, Sinta! Intan memang berselingkuh!" Wulan mendengus kemudian mendelikkan mata. Mulai jenggah dengan sikap Sinta yang terlalu polos. "Karena kau sudah tahu kebusukan Intan, apa kau masih mengaguminya?!" tanyanya seketika.


"Cih, kalau kau masih mengaguminya! Berarti kau wanita paling bodoh yang pernah aku temui!" seru Wulan.


Sinta menatap seksama kakak iparnya itu. Sedikit tersinggung dengan ucapan Wulan.


"Kalau kau tak mau di bilang bodoh! Susunlah rencana untuk menyingkirkan Intan! Aku tak mau adikku di bodohi wanita itu! Karena adikku sudah dibutakan matanya oleh Intan! Kau pernah bilang sama Mbak, kalau Intan memiliki alasan sendiri, meminta Yuda berpoligami kan?! Bisa jadi karena ingin menutupi aibnya itu!"


Sekali lagi Sinta tak menyahut. Nampak berpikir, ada benarnya juga perkataan Wulan.


Mbak Intan, kau membuat aku kecewa. Aku tak menyangka ternyata kau menduakan Mas Yuda. Kasihan Mas Yuda, aku akan membahagiakannya, seperti yang kau katakan padaku waktu itu.


Di sisi lain tepatnya di lantai dua, balkon. Intan berdiri sambil menundukkan wajahnya. Sementara Yuda berdiri membelakanginya. Sedari tadi, tak ada yang membuka suara sama sekali. Hening, ruangan begitu sepi bagai tak berpenghuni.


Yuda memandangi hamparan sawah yang membentang luas di bawah sana. Tengah mengatur emosinya yang meledak-ledak akibat ulah Intan. Tak menyangka desas-desus yang beredar di desa, ternyata benar dengan adanya bukti video dari Sinta.


Selama ini Yuda memang pernah mendengar gosip tentang Intan tapi ia tak mengubris sama sekali. Mengira kabar burung itu di karang oleh segelintir orang yang iri pada istrinya.


Cukup lama, Yuda menatap para warga yang tengah menggarap sawah di bawah sana. Setelah emosinya stabil, Yuda memutar tubuhnya, melihat Intan masih bergeming di tempat semula. Dia mendekat, mengangkat dagu Intan seketika.

__ADS_1


"Siapa pria itu?" tanya Yuda pelan.


Intan membisu. Menatap dalam sang suami.


Yuda menghela nafas kasar, melihat tak ada tanda-tanda bibir Intan akan bergerak.


"Intan, jujurlah padaku? Siapa pria itu?" tanyanya lagi dengan nada bergetar sedikit.


Sunyi, tak ada sahutan sama sekali dari Intan. Wanita itu tak berniat sedikitpun menjawab pertanyaan suaminya.


Yuda memejamkan sesaat matanya, kemudian menangkup kedua pipi Intan, menatap lebih dalam, mencari jawaban atas kegundahan hatinya selama ini dan berharap praduganya salah.


"Intan, apa dia selingkuhanmu?"


Mata Intan terlihat berembun. Secepat kilat dia mengalihkan pandangan matanya. Menjadikan nafas Yuda kembali memburu.


"Intan!!! Kau tuli atau apa?! Apa dia selingkuhanmu?! Cepat jawab!" Yuda langsung mencengkram kedua bahu Intan


Intan malah menutup mata kemudian meneteskan air matanya tiba-tiba.


"Berarti benar dia selingkuhanmu, Intan?!"


"Mengapa kau menduakanku, apa salahku Intan?"


"Aku minta maaf kalau aku melakukan kesalahan tanpa sadar."


"Intan aku mencintaimu, apa kau tak mencintaiku lagi?"


"Mengapa kau tega padaku? Apa ini alasanmu memintaku menikah lagi!?"


Cecar Yuda beruntun dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Intan hanya terisak pelan, tak menyangkal, tak pula mengiyakan. Lama keduanya menangis tanpa bersuara. Pasangan suami istri itu hanyut dalam pikirannya masing-masing.


"Aku kecewa padamu, Intan," ucap Yuda sambil menghapus cepat air matanya kemudian berlalu pergi dari hadapan Intan.


Bruk!


Intan menjatuhkan tubuhnya, terduduk lemas di atas lantai dengan terisak kuat.


"Aku juga mencintaimu, Mas. Sangat mencintaimu," Sinta bergumam lirih sambil memegangi dadanya yang begitu sesak.

__ADS_1


__ADS_2