Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Angry


__ADS_3

"Maafkan aku, Mas," ucap Intan ketika berada di ruang tengah. Wanita berhijab hitam itu menyentuh pundak Yuda, hendak menenangkan suaminya.


Yuda menatap lekat Intan. "Untuk apa kau meminta maaf, Intan? Sudah berapa lama Mbak Wulan seperti itu padamu? Apa ini alasanmu memintaku menikah lagi? Karena kakakku memperlakukan mu tidak baik," tanyanya dengan menggebu-gebu.


Intan menghela nafas kasar. "Sebenarnya sudah lama, tapi aku tak mau membuat hubungan kalian rusak karena ulahku." Dia menggeleng pelan. "Tidak, Mas, bukan itu alasanku memintamu berpoligami."


"Rusak?" Yuda bertanya ulang, seakan tak mengerti isi pikiran istrinya. Dia semakin bertambah bingung, lalu apa motif di balik Intan ingin di madu. "Intan, kau tak perlu meminta maaf padaku, karena nyatanya Mbak Wulan lah yang bersalah, sekarang aku mau bertanya padamu. Apa dia sering mengatakan dirimu mandul?" Pria yang memiliki warna mata hitam legam itu, menangkup kedua pipi Intan.


Mendapat pertanyaan dari Yuda. Membuat Intan di terpa dilema. Takut jika hubungan kakak beradik itu semakin renggang. Dia pun tak menyangka hari ini berani melawan Wulan.


"Intan, cepat katakan padaku?" Yuda sangat tak sabaran saat Intan tak langsung menyahut.


"Tidak, Mas, hanya sekali dua kali saja," kilah Intan. Nyatanya Wulan selama beberapa tahun belakang melontarkan kata-kata pedas yang membuatnya sakit hati.


"Walaupun hanya sekali dua kali, sama saja bagiku! Mbak Wulan benar-benar keterlaluan!" Yuda murka, secepat kilat menurunkan tangannya kemudian melangkah pergi dari hadapan Intan.


"Mas!" Intan terkejut melihat pergerakan Yuda. Dia pun hendak mengejar, namun rasa sakit di kepalanya tiba-tiba muncul.


"Shft, ah..." Intan memegang kepalanya yang rasanya di hantam ribuan bebatuan. Setengah sadar, dia menyenderkan kepalanya ke dinding, menarik nafas panjang, berusaha meredakan rasa sakit yang menderanya sekarang.


Sekitar lima menit, Intan berdiri sambil menarik dan menghembuskan nafas, berharap rasa sakitnya segera hilang namun tak kunjung pula reda.


Intan memutuskan pergi ke kamarnya, ingin mengambil obat. Dia pun berjalan tertatih-tatih dengan tangannya menumpu di setiap sudut tembok.

__ADS_1


Sesampainya, di dalam kamar. Intan langsung mengambil obat di dalam laci dan menelan obat pahit itu bulat-bulat tanpa air putih. Setelah itu dia merebahkan dirinya di atas kasur, lalu melihat isi botol yang terlihat kosong melompong alias obatnya sudah habis.


"Riko belum pulang, bagaimana ini, kepalaku semakin sakit, Ya Allah bantulah hambamu, hilangkan lah rasa sakit di kepalaku ini," gumam Intan pelan. Dia menatap langit-langit kamar, tengah mencari cara agar sakit dikepalanya tak kembali datang.


Ting.


Bunyi pesan masuk terdengar dari ponsel Intan yang berada di atas nakas. Secara perlahan ia meraih benda mini tersebut, lalu menggeser layar sejenak, melihat nama Riko menghiasi ponselnya.


...Intan, aku sudah di kampung tapi aku tak bisa lama, karena aku harus kembali ke Kota, mari kita bertemu sebentar di tempat biasa, ada yang mau aku bicarakan....


Sebuah pesan singkat, membuat Intan tersenyum tipis, sebab sepertinya Allah mendengar doanya barusan. Secepat kilat dia membalas pesan Riko, mengatakan berjumpa nanti nanti dan memintanya membawa obat.


Intan terlonjak kala Yuda menyelonong masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Tak mau menimbulkan kecurigaan dia langsung menyembunyikan botol obat di bawah bantal, kemudian memainkan sesaat ponselnya.


"Intan, kenapa mukamu pucat, kau sakit?" tanya Yuda panik, melihat wajah istrinya sangat pucat.


Yuda mendekat, lalu berbaring di sebelah Intan.


"Yakin? Apa lebih baik kita ke puskesmas?" ucapnya sambil menempelkan punggung tangannya di kening Intan yang terasa hangat saat ini.


"Tidak usah, Mas, ini demam biasa. Tadi aku sudah minum obat." Kekeh Intan.


Yuda menghela nafas berat. "Baiklah, kalau kau masih demam, aku akan memanggil dokter atau mantri untuk ke rumah."

__ADS_1


Intan mengangguk saja. "Iya, Mas, kau tak berkelahi kan dengan Mbak Wulan?" tanyanya penasaran.


"Tidak usah kau pikirkan Intan, sekarang kau tidur lah," Yuda mengalihkan topik pembicaraan. Dia tak mau Intan merasa bersalah, sebab dirinya barusan memang beradu mulut dengan Wulan.


Intan menatap dalam suaminya. Menebak jika Yuda dan Wulan berkelahi. "Baiklah, aku hanya tak mau menjadi istri perusak hubungan kakak dan adiknya, Mas."


"Intan, sudah jangan di bahas lagi, kau tidur lah, aku harus kembali berkerja, sepertinya aku akan pulang malam," ucap Yuda sambil mengecup kening Intan.


"Iya, Mas. Berhati-hatilah, maaf aku tak bisa mengantarmu ke depan."


"Tak apa," pungkas Yuda kemudian mencium lagi pipi Intan.


*


*


*


Menjelang sore, Intan terbangun dari tidurnya. Sesuai rencana ia akan bertemu Riko. Beruntung Sinta tak ada di rumah, sepertinya wanita itu pergi ke rumah Bunda Ema. Intan pun bergegas ke desa sebelah menggunakan motor matic-nya.


"Intan, ini obatmu." Riko langsung menyodorkan sebotol obat pada Intan.


Intan mengambil obat tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. "Terimakasih, Riko, jadi apa yang mau kau bicarakan."

__ADS_1


"Begini– awh!" Riko mengaduh kesakitan kala seseorang tiba-tiba memukul punggungnya.


"Mas Yuda!" Intan membekap mulutnya sambil bangkit berdiri, melihat Yuda berdiri tegap dihadapannya dengan tangan terkepal kuat.


__ADS_2