Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Good News


__ADS_3

Hari datang silih berganti, sudah tiga bulan lamanya, Intan menyandang status sebagai istri pertama. Selama tinggal serumah dengan madunya, Intan baru bisa memahami karakter Sinta. Mungkin karena merasa di tipu olehnya, sikap Sinta berubah. Jikalau di depan Yuda, Sinta akan bersikap baik padanya namun kalau suaminya tak ada di rumah, Sinta akan menganggap dirinya hanya angin lalu saja, bersikap semena-mena, namun Intan memakluminya.


Seperti selasa ini, Yuda off kerja. Intan terlihat senang, mungkin karena nasehatnya tempo lalu kepada Yuda, tentang bersikap adil pada kedua istrinya. Perlahan tapi pasti Yuda mulai menerima Sinta, hal itu dapat di lihat. Suaminya tak pernah berkata ketus lagi kepada Sinta.


[Ruang makan]


"Mas, mau aku ambilkan sayuran yang mana?" tanya Sinta seketika.


Yuda menoleh. "Aku mau sayur capcai buatan istriku,"jawabnya cepat.


"Tapi Mas, aku tak memasak sayur capcai, aku memasak tumis kangkung tadi," sergah Sinta kebingungan.


"Maksudku, sayur capcai buatan istri pertamaku," ucap Yuda tanpa memikirkan perasaan Sinta.


Mendengar perkataan Yuda, Sinta langsung cemberut.


"Mas, cobalah masakan Sinta, tadi dia bersusah payah memasaknya." Intan menimpali tatkala melihat mimik muka Sinta.


Yuda menghela nafas sejenak. "Baiklah, aku akan memakan masakan kedua istriku," ucapnya final.


Ekspresi wajah Sinta berubah drastis. Dengan semangat ia langsung mengambil tumis kangkung dan sayur capcai kemudian menaruh kedua jenis makanan itu di atas piring Yuda.


"Cobalah Mas, masakanku tak kalah enaknya dari masakan Mbak Intan, maaf, aku tidak menambahkan terasi, karena aku tak mampu mencium bau terasi tadi, Mas," ucap Sinta kemudian duduk kembali.


"Hm, tak apa-apa," jawabnya lalu Yuda memimpin doa makan setelah selesai mereka pun langsung melahap makanan yang disuguhkan di atas meja.


"Hoek." Sinta membekap mulutnya tiba-tiba lalu berlarian cepat ke arah dapur.


Melihat hal itu, Intan bangkit berdiri sembari melemparkan pandangan pada Yuda yang terlihat keheranan dengan tingkah Sinta.

__ADS_1


"Mas, aku menyusul Sinta dulu," ucap Intan kemudian.


Yuda membalas dengan mengangguk pelan. Setelah itu, Intan melangkahkan kakinya ke ruang belakang.


"Pelan-pelan, Sinta." Intan memijit tengkuk Sinta yang tengah muntah di wastafel.


"Hoek, hoek, hoek!!!" Dada Sinta naik dan turun menyemburkan makanannya yang baru dia kunyah barusan. Secepat kilat ia membasuh mulutnya lalu beralih menatap Intan.


"Sinta, apa kau telat datang bulan?" tanya Intan seketika.


"Mbak Intan, gimana sih! Aku lagi muntah malah di tanyain datang bulanku telat atau apa?!" protes Sinta.


"Sinta, Mbak menanyakan hal itu, siapa tahu saja kau tengah hamil."


Perkataan Intan, membuat Sinta tertegun sejenak. Dia pun mengingat-ingat kapan terakhir menstruasi. Matanya membulat ketika menyadari sejak bulan lalu ia sudah tak datang bulan.


Melihat wajah Sinta, Intan menyentuh bahu madunya.


"Tapi apa benar aku hamil, Mbak, lagipula Mas Yuda jarang tidur bersamaku, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Mbak!" kata Sinta ketus.


Intan menghela nafas, harus banyak bersabar, meladeni Sinta. "Maka dari itu, periksalah, walaupun kalian jarang tidur bersama, tak menutup kemungkinan kau bisa hamil."


Sinta terdiam. Ada benarnya juga perkataan Intan.


"Hm, baiklah. Mbak bisakan membelikan aku testpack?"


Intan mengangguk. "Bisa, Sinta."


*

__ADS_1


*


*


Esok harinya, Intan sudah sibuk dengan aktivitasnya seperti biasa. Selesai mandi, dia langsung memasak.


Selesai memasak, Intan menaruh masakannya di ruang makan lalu menyusun piring untuk Yuda dan madunya itu.


Intan terkejut ketika seseorang memeluknya tiba-tiba dari belakang. Aroma parfum yang menyeruak di indera penciumannya membuat Intan menggeleng pelan. Siapa lagi kalau bukan Yuda.


"Mas, ini masih pagi,"ucapnya sembari menurunkan tangan Yuda.


"Aku tak peduli, bi–"


"Mas Yuda!!!" jerit Sinta dari lantai dua.


Lantas Yuda dan Intan menoleh, melihat Sinta berlarian dengan begitu semangat menuju ke arah mereka, sambil membawa sesuatu.


"Mas Yuda!Aku hamil!!!" Sinta menyodorkan testpack kepada Yuda.


Yuda mengedipkan matanya cepat kemudian menyambar benda pipih tersebut dan mengamati dengan seksama, yang menunjukkan testpack bergaris dua.


"Kau–kau ha-mil?" Seakan tak percaya, Yuda mendekati dan memegang kedua pundak Sinta.


Sinta mengangguk cepat. "Iya, Mas, aku hamil, sebentar lagi kita akan memiliki anak."


Yuda tersenyum sumringah, kemudian langsung memeluknya lalu mengecup-ecup kening Sinta tanpa sadar.


"Terimakasih, Sinta," ucap Yuda tanpa mengetahui sekarang Intan tersenyum getir, melihat suaminya begitu senang atas kehamilan Sinta.

__ADS_1


Berbahagialah Mas, aku berharap setelah kepergianku nanti, kau akan selalu bahagia bersama keluarga kecilmu.


__ADS_2