Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Tell Me


__ADS_3

"Kenapa diam?!"


Kedua tangan Yuda terkepal kuat. Menahan amarah di relung hatinya sekarang. Sudah habis kesabarannya, dia bagaikan bom waktu yang siap meledak. Sejak semalaman dia dipusingkan dengan sikap Intan. Di tambah lagi tingkah Wulan di pagi ini semakin membuat emosinya meletup-letup.


Ketegangan masih terasa di ruangan, baik Wulan dan Bunda Ema tak berani menyahut Yuda. Bunda Ema jelas tahu perangai putra bungsunya yang jarang sekali marah namun jika meluapkan emosinya akan seperti gunung meletus. Wanita paruh baya itu hanya diam saja.


Sementara Wulan tampak salah tingkah. Melirik Intan sesekali dengan melayangkan tatapan dingin.


"Wulan!"


Wulan tersentak kala Yuda memanggil namanya seketika. "Apa?!" tanyanya ketus.


"Apa kau yang menghasut Intan, memintaku menikah lagi ha?!!" Nafas Yuda terdengar memburu.


Wulan melirik Intan lagi.


"Wulan! Kau tuli atau apa?! Apa kau yang meracuni istriku?!!!"


Sekali lagi Yuda bertanya, menanti jawaban dari wanita yang selama ini ia hormati. Tak pernah ia menaikan suaranya di hadapan Wulan tapi hari ini ia sangat marah ketika Wulan secara terang-terangan menyindir Intan. Tentu saja ia menebak jika Wulan lah yang menyuruh Intan, memintanya menikah tiba-tiba.


Sementara Bunda Ema, Intan dan Sinta mengelus dadanya saat mendengar suara Yuda begitu nyaring, memekakkan indera pendengaran mereka.


"Cukup Yuda! Kau membuat Mbak kecewa! Kau adikku tapi mengapa kau malah membela Intan! Intan benar-benar parasit di dalam hidupmu!!!" Mata Wulan terlihat berkaca-kaca. Tak menyangka adik yang ia sayangi semakin berani melawannya.


"Wulan!!!" Kali ini urat-urat muncul kuat di sekitar leher Yuda. Pria itu semakin meradang sebab Wulan sama sekali tak menjawab pertanyaannya dan malah melontarkan kalimat hinaan teruntuk istri tercintanya.


Intan amat tak enak hati karena dirinya Yuda dan Wulan bersitegang, secepat kilat ia mendekati Yuda kemudian mengelus punggung kokoh suaminya.


"Mas, Mbak Wulan tak pernah menghasutku, aku sendiri yang memintamu menikah lagi, sudahlah Mas, kasihan Mbak Wulan," ucap Intan lalu melihat Wulan terisak pelan saat ini.


Gemuruh di dada Yuda sirna dalam sekejap mata saat tangan kecil itu memegang tubuhnya. Yuda menoleh, menatap sendu istrinya kemudian tanpa aba-aba menarik tangan Intan dan menuntunnya berjalan ke ruangan lain.


Sinta menyaksikan semua pemandangan di depan matanya. Menahan cemburu yang membuncah di relung hatinya sekarang. Tanpa sengaja matanya bertubrukan langsung dengan mata Wulan yang tengah menghapus air matanya.

__ADS_1


Selepas kepergian Yuda dan Intan. Wulan menghampiri Sinta lalu duduk di sampingnya.


"Sinta, kau kenapa?" tanya Wulan basa-basi.


Sinta menggeleng cepat. "Ngak kenapa-kenapa Mbak."


"Ada apa? Sinta, kenapa Wulan?" Bunda Ema menautkan alis matanya.


"Sepertinya Sinta cemburu Bunda," ucap Wulan membuat Sinta semakin salah tingkah.


"Benarkah?" Bunda Ema sedikit penasaran dengan menantu mudanya itu. Pasalnya dia belum terlalu memahami karakter Sinta.


Sinta memegang tengkuk lalu menggeleng lagi. "Em enggak Bunda, Mbak Wulan salah paham, aku tak cemburu Bunda, hanya saja kagum dengan Mbak Intan yang bisa meredakan amarah Yuda."


"Kagum?" Wulan berdecih sebentar.


Sinta menautkan alis mata, saat melihat mimik muka Wulan seakan tak suka pada Intan.


"Maksud Mbak? Sifatnya yang bagaimana?" tanya Sinta penasaran.


"Ish, kau ini, kau akan tahu sendiri nanti, itu lah mengapa aku menyuruhnya meminta Yuda menikah lagi, Intan gagal menjadi seorang istri, karena dia itu mandul!" Wulan keceplosan, langsung membekap mulutnya sendiri.


Mendengar hal itu, Bunda Ema menatap tak percaya pada putri sulungnya lah yang ternyata dalang di balik semua kemarahan Yuda. Sedangkan Sinta sedikit takut jikalau tak kunjung hamil maka Wulan mungkin bisa memintanya menyuruh Yuda berpoligami lagi. Perasaan kalut menderanya sejenak.


"Wulan," panggil Bunda Ema kala melihat Wulan memalingkan muka.


"Iya, Bunda," sahut Wulan pelan.


Bunda Ema menarik nafas panjang kemudian berkata,""Apa benar itu? Kau yang memintanya?"


Wulan mengangguk. "Tenanglah Bunda, aku tak memaksa, dia juga setuju dengan saranku itu, sebenarnya waktu itu aku hanya berceletuk sedikit dan besoknya ia langsung meminta Yuda menikah lagi, jadi bukan salahku sepenuhnya, bukan kah bagus Bunda, dengan begitu sebentar lagi Bunda akan memiliki cucu lagi." Dia membela diri meski sebenarnya tempo lalu setengah memaksa.


"Benar begitu?" Bunda Ema kembali bertanya.

__ADS_1


Wulan mengangguk cepat. "Aku benar-benar aneh, kenapa Yuda masih bertahan bersama Intan yang jelas-jelas mandul!"


"Mbak, maaf aku terlalu ikut campur, berarti Mas Yuda mencintai Mbak Intan apa adanya, meski mereka belum memiliki anak." Sinta menimpali obrolan ibu dan anak itu.


"Cih, kau masih saja membela madumu itu, perlu kau tahu Sinta kemarin aku mendengar dari salah seorang warga di desa sebelah, kalau Intan sering berjalan berduaan bersama seorang pria jika Yuda tengah berkerja," ucap Wulan cepat.


Sinta begitu terkejut. "Mbak, bisa saja mereka salah lihat, tak mungkin Mbak Intan berselingkuh."


Wulan mendengus. "Sinta, Sinta, Sinta, kenapa kau malah membela madumu, itu memang benar Sinta, bahkan pemuda-pemuda di desa ini, sering melihat Intan di antar menggunakan mobil," ucapnya kemudian melirik Bunda Ema terdiam membisu saat ini.


"Aku yakin itu hanya gosip, lagipula tak ada bukti yang menunjukkan kalau Mbak Intan berselingkuh," ucap Sinta masih dengan mimik muka tak percaya.


Wulan terkekeh sebentar. "Haha, maka dari itu Sinta, mengapa kau tak mencari bukti saja, dengan begitu Yuda akan menceraikan Intan dan menjadikanmu ratu dihatinya, kau tak usah naif, kau cemburu kan pada Intan."


Sinta mengedipkan cepat matanya, mendengar perkataan Wulan barusan.


*


*


*


Sementara itu di sisi lain. Di atas balkon kamar, Yuda dan Intan saling memeluk satu sama lain. Hembusan angin di sekitar menerpa jilbab Intan seketika. Wanita itu menelusupkan wajahnya di dada Yuda sambil menghirup aroma tubuh suaminya. Yuda pun melakukan hal serupa. Menaruh dagunya di pucuk kepala Intan.


Dalam sepersekian detik Yuda mengurai pelukan.


"Intan, jujur lah padaku, apa Mbak Wulan pernah menyakitimu?"


Intan menatap lekat Yuda. "Mas, Mbak Wulan tak pernah menyakitiku, dia selalu baik padaku," kilanya. Dia tak mau membuat hubungan kedua kakak beradik itu renggang.


"Lalu, apa alasanmu memintaku menikah lagi, kau wanita yang aneh, Intan, dimana-mana istri tak mau di madu tapi mengapa kau malah melakukan hal sebaliknya, bukankah dulu kau hanya ingin menjadi satu-satunya?" Yuda menangkup kedua pipi Intan sambil menatapnya dalam.


"Katakan padaku? Ada banyak cara mendapatkan pahala, Intan, tidak juga harus berpoligami." Sambungnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2