
Dua puluh tiga tahun kemudian.
Di sebuah rumah sederhana, terlihat para kerumunan warga tengah bersiap-siap melakukan akad nikah. Yuda tersenyum senang, melihat sang putri akan dipersunting oleh pria pilihan anaknya hari ini. Pria itu sudah terlihat berkeriput, meskipun begitu, ketampanannya tak pernah luntur.
Kejadian beberapa tahun lalu silam membuat Yuda terpukul atas kepergian istri yang sangat ia cintai. Namun dia berusaha ikhlas menghadapi kenyataan yang telah terjadi. Memilih membesarkan anaknya seorang diri.
Setelah mengunjungi Intan, lantas Yuda membawa Yulia dan Bik Inem kembali ke kampung dan menanyakan kecurigaanya pada Sinta dan Wulan. Yuda sangat kecewa mendengar penjelasan keduanya, tak menyangka kalau Sinta berbohong padanya.
Ternyata Sintalah yang selama ini menghapus pesan dari Riko, Bik Inem dan Intan. Wanita itu sudah ditutupi rasa benci terhadap madunya sampai-sampai tak mempedulikan pesan dari Riko yang mengatakan kalau Intan sudah meninggal. Akhirnya tanpa banyak kata, Yuda pun menceraikan Sinta. Walau Sinta tidak terima akan keputusannya tapi Yuda sungguh tak peduli.
Yuda juga tak kalah kecewanya dengan Wulan yang memperlakukan Intan semena-mena dulu. Wanita itu memutar balikan fakta, menuduh Intan mencelakai Amirah, padahal tidak. Tanpa banyak pertimbangan, Yuda meminta Wulan angkat kaki dari rumah Bunda. Sementara Bunda Ema, Yuda tak banyak bertanya-tanya. Karena rasa kecewanya terhadap dua wanita itu teramat dalam.
"Mas?"
Yuda mengalihkan pandangan pada wanita yang pernah menjadi istri keduanya. Sinta hadir di acara pernikahan Yulia.
"Hm. Apa uangmu kurang?" tanyanya datar.
"Bukan, Mas. Aku mau berbicara denganmu sebentar." Sinta menatap nanar mantan suami.
"Tentang Amirah? Bukankah aku sudah memberikan kasih sayang padanya sama seperti Yulia."
Walau keduanya bercerai namun Yuda tak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah. Dia memberikan perhatian dan kasih sayang tanpa membedakan kedua anak-anaknya.
Sinta menghela nafas dalam. "Bukan, Mas, bukan itu, aku mohon..." Mohonnya dengan memelas.
"Tunggu sebentar." Yuda melangkahkan kakinya mendekati pak penghulu tengah bercengkrama dengan keluarga sang mempelai pria.
*
*
"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Yuda sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Saat ini keduanya berada di belakang rumah.
Sinta menatap nanar punggung Yuda lalu berkata,"Mas, apa kita tidak bisa rujuk kembali, aku mencintaimu, Mas."
Yuda terkekeh remeh lalu memutar tubuhnya.
"Rujuk? Kau bilang? Sinta bukankah sudah berulang kali aku katakan kalau aku tidak mencintaimu! Apa kau tak memiliki muka Sinta, meminta aku rujuk setelah kau menyakiti orang yang aku cintai!" seru Yuda.
"Tapi aku mencintaimu, Mas. Aku tak peduli kalau kau tidak mencintaiku! Lagipula Intan sudah pergi Mas! Dia memintaku membahagiakanmu! Apa kau lupa?" Sinta berseru lantang.
Membuat Yuda mendesah kasar. Bingung, mengapa Sinta begitu terobsesi padanya.
__ADS_1
"Sayangnya, aku tak bahagia bersamamu, mengertilah Sinta," ucap Yuda kemudian.
Mendengar hal itu, dada Sinta terasa sesak. Secara perlahan cairan bening menerpa kedua pipinya. "Mas, aku mohon, kembalilah padaku, mari kita hidup bersama hingga maut memisahkan, melihat cucu dan cicit kita nanti.
Yuda tak langsung menyahut, malah mendekatinya. Satu tangannya terulur memegang pundak Sinta.
"Sinta, aku tidak pantas menjadi suamimu, biarlah seperti ini, kau masih muda carilah pengganti yang lebih baik dariku, berbahagialah dengan orang yang mencintaimu," Yuda menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Kalaupun kita rujuk, kau hanya memiliki ragaku tapi tidak dengan jiwaku."
Deg
Sinta terhenyak, mendengar perkataan Yuda barusan, ada benarnya juga, ia memang bisa memiliki Yuda tapi tidak dengan hatinya. Semakin deraslah air matanya membasahi pipinya.
"Aku pergi," pungkas Yuda sambil berlalu pergi dari hadapan Sinta tengah berdiri mematung. Wanita itu meremas kuat dadanya yang sangat perih sekarang.
*
*
*
*
*
"Bima, hati-hati, Nak." Yulia menggeleng pelan, sang anak hampir saja terjatuh.
"Sudahlah, Yulia, sepertinya dia sangat merindukan kakeknya." Tio melemparkan senyum kepada Yulia kemudian menggengam erat tanggan istrinya.
"Nah itu kakek!" Bima kegirangan saat melihat Yuda menyembul dari balik gorden sambil menggerakan kursi rodanya dengan tangan. Akibat sakit stroke tahun lalu membuat tubuhnya lumpuh sebagian.
"Wah cucu kakek sudah datang. Mana abangmu?" Yuda merentangkan kedua tangannya lalu menyambut sang cucu hendak melompat ke pangkuannya.
"Hehe, tentu saja aku datang, huu kak Bimo lagi weekend sama pacarnya," celetuk Bima sambil melipat tangan di dada.
Yulia dan Tio dikarunia dua orang anak laki-laki. Yang sulung, namanya Bimo sudah duduk di bangku SMA, sementara si bungsu, namanya Bima masih kecil baru berumur tujuh tahun hendak memasuki sekolah dasar.
Pasangan suami istri itu akan bertandang ke rumah Yuda setiap hari weekend, ingin melihat keadaan ayahnya. Yulia pernah mengajak ayahnya tinggal bersamanya di Kota tapi Yuda tak mau, beralasan tak mau berjauhan dari Intan.
"Wah, kalau Bima sudah punya pacar belum?" Yuda mengapit hidung mancung sang cucu.
Bima menggeleng cepat. "Untuk apa pacaran! Tidak ada gunanya!" ucapnya sambil mengerucutkan bibir dengan sangat tajam.
Gelak tawa terdengar seketika saat bocah laki-laki itu mulai bertingkah menggemaskan.
__ADS_1
Menjelang sore, Yulia sibuk memasak untuk orang rumah. Dengan cekatan ia memotong-motong sayur mayur. Berbeda dengan Tio dan Bima sedang bermain kelereng di halaman rumah. Sementara itu Yuda tengah duduk di kursi roda, memperhatikan cucu dan menantunya dari jendela rumah.
"Intan, lihat itu cucu kita, dia sangatlah tampan dan tenggil seperti diriku dulu." Yuda melihat sejenak foto Intan yang berada di tangannya kemudian beralih menatap Bima tengah beradu mulut dengan Tio. Dan dari arah samping rumah, Yulia datang membawa spatula, sepertinya ingin melerai perdebatan ayah dan anak itu.
Cukup lama Yuda memperhatikan ketiga orang tersebut di luar sana sedang berlarian. Namun entah mengapa kedua matanya tiba-tiba terasa amat berat. Secara perlahan matanya menutup sempurna. Dalam hitungan detik, terdengar hembusan pelan dari hidung Yuda.
*
*
"Intan kau kah itu?" Yuda menyipitkan matanya saat melihat Intan memakai pakaian serba putih, berdiri membelakanginya.
Ia mengedarkan pandangan sejenak, melihat di sekitarnya dipenuhi cahaya terang. Dan terlihat pula hamparan bunga luas membentang serta angin sepoi-sepoi menerpa rambut putihnya saat ini.
Intan berbalik, melemparkan senyum tipis pada sang suami.
"Yuda." Intan merentangkan kedua tangganya seketika.
Melihat sang istri dihadapannya, Yuda berlari kencang menghampiri.
"Aku sangat merindukanmu, mengapa kau tega meninggalkanku, Intan." Yuda langsung merengkuh sang istri kemudian tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Aku juga merindukanmu, Mas, maafkan aku." Intan ikut terisak pelan sambil memeluk erat Yuda. Keduanya saling melepaskan kerinduan satu sama lain.
Yuda mengurai pelukan seketika. Kemudian mengapai pipi Intan. "Kau semakin cantik saja," ucapnya melihat Intan tak berkeriput sama sekali.
Intan mengulas senyum lebar."Benarkah? Dan kau juga semakin tampan."
Yuda menggeleng cepat. "Tidak, aku sudah tua, lihatlah–" Dia meraba-raba wajahnya sejenak, lalu melihat kulit tanggannya tak berkeriput.
"Wow, aku tak menyangka ternyata di sini aku bisa menjadi lebih muda," celetuk Yuda senang.
Intan terkekeh melihat tingkah Yuda.
Yuda menarik pinggangnya seketika. Kemudian menangkup pipi Intan. "Aku mencintaimu, Intan. Sampai mati aku tetap mencintaimu," ucapnya lalu melabuhkan kecupan di bibir dan kening Intan.
Intan tersenyum sumringah. "Aku juga mencintaimu, Mas. Ayo kita ke sana, aku punya banyak pertanyaan untukmu,"sahutnya sambil menggengam tangan Yuda.
"Tentu saja, ayo kita ke sana." Yuda merekahkan senyuman, melihat Intan tengah menuntunnya menuju pohon lebat di tengah-tengah sana.
...----------------...
Saya ucapkan terimakasih kepada para pembaca. Kisah Intan dan Yuda sudah selesai, maaf kalau ada salah-salah kata. Dan endingnya mungkin mengecewakan bagi sebagian pembaca. Di dunia nyata penyakit kanker otak stadium akhir susah sembuhnya. Kecuali masih stadium awal (1 dan 2)
__ADS_1
Author mau operasi besok, doakan semoga operasinya besok berjalan lancar dan bisa kembali menulis lagi 🙏. Author akan kembali lagi dengan novel terbaru. Sehat-sehat untuk kalian semua ya 😇❤