Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Aku Mencintaimu, Mas...


__ADS_3

"Riko..." Intan bergumam pelan, tak menyangka temannya itu berada di sini. Dengan tertatih-tertatih ia bangkit berdiri lalu memandangi Riko.


"Kenapa kau ada di sini, Riko?" tanya Intan penasaran.


"Kau tidak perlu mengapa aku ada di sini, justru aku mau bertanya denganmu, siapa yang mengatakan kalau tak ada orang yang menginginkanmu?"


Riko menatap Intan dengan tatapan tak bisa terbaca. Pria berperawakan tinggi, besar itu, memperhatikan mata Intan terlihat sembab dan bibir munggilnya bergetar amat kuat saat ini.


Intan tak menyahut, malah menundukkan langsung wajahnya kala menyadari sepertinya Riko mengetahui ia sedang menangis tadi.


"Intan, lebih baik kita berteduh di pondok sekarang, apa kau tidak kasihan denganku basah kuyup begini." Riko mengulas senyum sembari menyilangkan kedua tangannya di dada, menunjukkan bahwa ia tengah kedinginan.


Tanpa banyak bantah, Intan mengangguk kecil kemudian mengekori Riko dari belakang menuju pondok yang berada tak jauh dari mereka.


"Intan, di mana suamimu?" tanya Riko seketika.


Sekarang keduanya telah sampai di gubuk kecil yang di dalamnya ada seorang pria tua, penjaga makam. Tadi Riko sudah meminta izin untuk berteduh sejenak.


Intan masih menundukkan muka. Tak mau Riko mengetahui kegamangan hatinya sekarang terhadap suaminya.


Riko menghela nafas. "Baiklah, kalau kau tidak mau bercerita, aku yang akan bercerita." Melirik Intan di sampingnya sekilas lalu mengalihkan pandangan ke depan, melihat air menetes dengan sangat deras membasahi tanah.


"Intan, tadi kau bertanya kan mengapa aku ada di sini, sebenarnya aku tidak sengaja melihatmu di perjalanan ke sini, tadi aku baru saja pulang dari puskesmas mengambil berkas-berkas yang ketinggalan. Tentu saja aku penasaran dan mulai mengikutimu, ternyata kau mengunjungi makam kedua orangtuamu."


Hening, tak ada tanggapan dari Intan, gemercik air dan hembusan angin di sekitar, membuat keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Percayalah hujan yang turun deras ke bumi saat ini adalah air mata kedua orangtuamu. Apa kau tahu mengapa mereka menangis?" tanya Riko tiba-tiba.


Intan menggeleng.


Riko menarik nafas pelan. "Karena putri mereka yang cantik ini, berkata yang tidak-tidak dan tanpa sadar melukai perasaan mereka."


Intan tersenyum getir menanggapi perkataan Riko.


"Intan, apa kau lupa dengan pesan yang aku kirim kemarin? Kau harus percaya padaku. Kau pasti sembuh, aku berjanji akan membantumu menghadapi penyakitmu itu, tapi dengan satu syarat kau dan suamimu harus ikut aku besok pergi ke Kota, di sana ada banyak pengobatan alternatif."


"Tapi–"

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapi, Intan, aku tidak tahu permasalahan apa yang terjadi di antara kau dan Yuda karena itu urusan rumah tanggamu, lebih baik berkata jujur walau akhirnya menyakitkan, bicarakan baik-baik dengan suamimu, Intan," sela Riko cepat.


Intan dilanda resah dan gelisah, ada benarnya juga perkataan Riko namun permasalahannya sekarang adalah ia sangat sulit berbicara berdua bersama suaminya.


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Riko seketika.


"Jangan Riko! Orang-orang di kampung akan salah paham lagi," sergah Intan.


Riko mendesah kasar lalu tanpa sadar menyentuh pundak Intan. Intan tersentak, secepat kilat menurunkan tangan Riko.


"Maaf, Riko, kita harus menjaga jarak," ucap Intan sambil mundur satu langkah.


"Maafkan aku juga." Riko mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sesaat. "Karena kau tidak mau pulang bersamaku, maka dari itu aku akan menemanimu sampai hujan reda."


"Tak apa, Riko, pulanglah kau pasti kecapean," ucap Intan tak enak hati.


"Tidak, ini memang tugasku menemani pasienku yang keras kepala ini," kata Riko sambil tersenyum tipis.


Intan membalas dengan tersenyum juga.


"Tunggu sebentar." Riko melirik Intan sekilas kemudian memutar tubuhnya ke belakang, menghampiri pria paruh baya tengah duduk sambil menyesap kopi hitam.


Intan sedikit terkejut, lalu menolehkan mata ke arah Riko. "Terimakasih, Riko."


"Hm, duduklah," titah Riko sambil mengambilkan bangku plastik untuk Intan.


Intan mengangguk, lalu duduk menghadap keluar pondok, memperhatikan hujan tak kunjung berhenti.


Sekitar tiga puluh menit, hujan benar-benar sudah reda. Intan pun berpamitan bersama Riko, kala melihat langit mulai berubah warna menjadi gelap gulita.


*


*


*


Sesampainya di rumah, Intan langsung masuk namun tiba-tiba Yuda menghadangnya tiba-tiba.

__ADS_1


"Mas Yuda! Lepaskan aku!" teriak Intan saat Yuda mencekal tangannya.


"Berani-beraninya kau bertemu selingkuhanmu itu ha?! Kau semakin membuat aku malu!" pekik Yuda menggelegar.


Satu jam yang lalu seseorang mengirimkannya foto-foto Intan dan Riko tengah berada di pondok makam, memperlihatkan keduanya tersenyum satu sama lain seperti sepasang kekasih.


"Apa maksudmu, Mas? Aku tidak mengerti?"


"Diam kau! Dasar wanita tak tahu diri!" Yuda menyentak kasar tubuh Intan ke lantai kemudian menyeret paksa istrinya ke lantai dua. Suara teriakan Intan memohon ampun dan meminta dilepaskan terdengar nyaring. Namun seakan tuli Yuda mengindahkan permintaan Intan.


Sesampainya di kamar, Yuda menghempas tubuh Intan sampai terjembab ke atas kasur lalu berjalan cepat mendekati pintu.


"Mas! Apa salahku? Tadi aku pergi ke makam orangtuaku, tak sengaja bertemu Riko, dia bukan selingkuhanku, Mas, percayalah padaku. Dia temanku semasa sekolah dulu, aku sering berobat dengannya, karena aku sakit keras, Mas," jelas Intan cepat sambil terisak pelan.


Brak!


"Bohong!!!" pekik Yuda sambil membanting pintu kamar lalu menghampiri Intan di tempat tidur. Kedua matanya berkilat menyala hingga muncul urat-urat di lehernya. Pria itu bagai orang kesetanan sekarang.


"Di mana dia menyentuhmu ha?!!!" murka Yuda sambil membuka paksa pakaian Intan.


Intan menjerit histeris kala Yuda memperlakukannya dengan amat kasar.


"Argh! Mas, jangan seperti ini, aku dan Riko hanya teman...." Intan menangis tersedu-sedu, menatap nanar sang suami.


"Teman? Cih! Dasar pembohong!" Yuda mengukung Intan kemudian mencium kasar istrinya yang sudah polos tanpa sehelai benangpun.


Detik selanjutnya, kamar bernuasa putih gading tersebut dipenuhi dengan suara rintihan. Yuda menyetubuhi istri pertamanya dengan sangat kasar sampai Intan terisak kuat.


Pria itu tak peduli, amat tak peduli dengan keadaan Intan sekarang. Dia melampiaskan kemarahannya, karena merasa gagal menjadi seorang suami, sebab Intan tak menghormatinya lagi. Apalagi Bunda Ema menyuruhnya menceraikan Intan, karena membuat malu keluarganya.


Cukup lama Yuda berada di atas tubuh Intan hingga akhirnya dia kelelahan dan ambruk tepat di atas dada istrinya kemudian langsung terlelap tidur.


Sementara Intan, memandangi langit-langit kamar dengan mata yang masih berkabut sambil satu tangannya mengelus kepala Yuda.


"Mengapa kau tak percaya padaku, Mas, aku tidak mungkin berselingkuh darimu, apa kau tidak mencintaiku lagi..." lirih Intan pelan.


Hening sejenak, hanya terdengar suara dengkuran dari hidung Yuda.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Mas..." gumamnya seketika sambil mengecup kening sang suami yang terlihat berkeringat.


__ADS_2