
Seiring berjalannya waktu, Amirah sudah bisa berjalan dan berceloteh kecil. Minggu depan adalah hari ulangtahunnya. Sinta meminta pada Yuda untuk merayakan hari lahir putrinya di rumah dengan menggundang sanak saudara dan keluarga. Lantas Yuda pun mengiyakan.
"Mas, bisa tidak hari ini menjemput keluargaku dari sebelah Abah di Kota, mereka baru berangkat tadi pagi menggunakan pesawat," ucap Sinta hati-hati. Melihat Yuda tengah mengetik sesuatu di laptop.
Yuda menghentikan gerakan jari-jemarinya kemudian menoleh. "Jam berapa mereka datang?" tanyanya to the point.
"Hm, kemungkinan sore, Mas." Sinta mengedarkan pandangan di sekitar kamar Intan. Menahan sebal karena sejak dua tahun lalu, Yuda tidur di kamar Intan.
"Hm, baiklah, apa yang kau lihat?" Suara Yuda terdengar dingin.
Sinta terlihat salah tingkah. Lalu memberanikan diri bertanya pada Yuda. "Ti-dak, tidak, Mas, aku hanya sedikit bingung, kenapa kau malah tidur di sini, inikan kamar mantanmu, apa kau masih mencintainya? Bukankah dia telah mengkhianatimu?"
"Walaupun Intan sudah menduakanku, sampai kapanpun aku tetap mencintainya, namanya selalu terukir di hatiku. Memangnya kenapa?" Yuda menatap datar Sinta.
Mendengar hal itu, mencelos hati Sinta. Dengan nafas memburu bertanya lagi. "Lalu bagaimana dengan diriku, apa tak ada namaku di hatimu?!"
Yuda menyipitkan mata, tersenyum sinis."Sinta, sadarlah, bukankah dari awal aku mengatakan padamu, kalau aku tidak bisa mencintaimu. Aku terpaksa melakukan apa yang di suruh Intan dan perlu kau tahu lagi, aku bersikap romantis terhadapmu agar Intan cemburu! Dan satu hal lagi aku hanya bersandiwara di depan Bunda dan kakakku, apa kau tak menyadari hal itu?"
Sinta meremas pakaiannya seketika. Menyadari semua perlakuan Yuda tak lebih dari sebuah pencitraan selama ini.
"Tapi Mas–"
"Stop! Sudahlah aku malas berdebat, lebih baik kau keluar, aku harus bersiap-siap untuk menjemput keluargamu." Final Yuda sambil memberi kode Sinta untuk keluar dari kamar.
Menjelang siang, Yuda pun berangkat ke Kota hendak menjemput keluarga Sinta. Ternyata ia datang lebih awal dari perkiraan. Yuda memutuskan berjalan-jalan di pusat Kota, lalu beristirahat sebentar di salah satu rumah makan ingin mengisi perutnya yang sudah keroncong. Yuda pun menepikan mobil di parkiran kemudian masuk ke dalam. Dan langsung memesan makanan.
Selang beberapa menit, makanan telah tiba, Yuda meneguk air ludahnya saat aroma makanan menyeruak ke indera penciumannya.
"Ayam goreng mentega adalah makanan kesukaanmu, Intan. Kau ada di mana sekarang?" Yuda bergumam pelan, teringat Intan menyukai makanan yang ia pesan sekarang.
__ADS_1
Seketika kedua mata Yuda terbelalak saat melihat seseorang yang sangat amat ia kenali hendak keluar dari rumah makan.
"Bedebah itu!" Yuda menggeram rendah sambil beranjak dari tempat duduk, kemudian melangkahkan kaki mendekati orang tersebut yang sudah di pelataran rumah makan.
"Berhenti kau!" seru Yuda begitu sampai di parkiran.
"Riko!!" teriaknya lagi.
Riko menghentikan gerakan kedua tungkai kaki kemudian memutar badannya.
Bugh!
Riko terkesiap saat Yuda meninju rahangnya seketika menjadikan ia terhuyung ke belakang sesaat.
"Apa apaan kau ha?!" murka Riko sambil menahan tangan Yuda yang mencengkram kerah bajunya saat ini.
"Di mana Intan?!" Yuda melototi Riko dengan sangat tajam.
"Aku suaminya!" Kedua tangan Yuda terkepal kuat.
Riko terkekeh kecil lalu berkata,"Suami? Apa aku salah mendengar? Bukankah kau sudah menalak dia dua tahun yang lalu!"
Yuda terdiam sesaat. "Aku tak peduli! Dia tetap istriku! Sekarang di mana dia? Kau sembunyikan di mana dia?"
Riko mengerutkan dahi, mendengar perkataan Yuda. "Apa maksudmu? Aku tak pernah menyembunyikannya, seharusnya aku yang marah denganmu, Tuan Yuda, kemana saja kau selama ini, kenapa kau tak mengunjungi Intan ha?! Dia sudah lama menderita karena ulahmu dan keluargamu!" serunya sambil menahan sebal saat mendengar cerita Intan tentang perlakuan keluarga Yuda padanya.
Kali ini Yuda yang kebingungan. "Mengunjungi? Apa maksudmu?"
Riko menyipitkan mata seperti ada yang tidak beres di sini. Lantas ia pun mengendurkan sedikit rahangnya yang mengeras barusan.
__ADS_1
"Kau tak tahu? Atau pura-pura tak tahu? Kalau 2 tahun lalu Intan melahirkan anakmu."
Yuda tersentak. Gurat keterkejutan tergambar jelas di benaknya sekarang.
"Melahirkan? Bukankah?"
"Yuda apa kau tak membaca pesanku dua tahun lalu kalau Intan melahirkan anakmu, setelah kau menalaknya waktu itu, dia hamil, sekian lamanya akhirnya apa yang ia inginkan di kabulkan Allah."
"Aku tak mendapatkan pesan apapun darimu, Riko. Apa kau tengah berbohong?"
Riko tersenyum sinis. "Lihatlah dirimu sama sekali tak berubah, pantas saja Intan mengatakan kalau kau tidak mempercayai perkataannya. Kalau kau tak percaya datanglah ke desa XXX, di sana kau akan bertemu Intan dan anakmu," ucapnya.
Yuda menatap Riko, mencari kebohongan namun nyatanya tak ada kebohongan yang terpancar dari mata pria berjas putih itu.
"Dan aku mau meluruskan semua kesalahpahaman selama ini, aku dan Intan hanyalah sebatas dokter dan pasien."
"Apa maksudmu?" tanya Yuda yang terlihat bertambah heran.
Riko menarik nafas panjang. "Apa Intan tidak memberitahumu kalau dia mengidap kanker otak stadium akhir waktu itu?"
Yuda mengingat-ingat kejadian beberapa tahun silam kala Intan berkata bahwa ia sakit keras.
Deg.
Jantung Yuda serasa di hujam oleh ribuan pedang, mendapati kebodohannya tempo lalu yang menyangkal penjelasan Intan.
"Yuda, Intan sudah lama sakit, tapi dia tak pernah mengatakan padamu karena dia tidak mau kau sedih dan..."
Riko tak melanjutkan perkataanya ketika Yuda berlalu cepat dari hadapannya. Riko menatap nanar kepergian Yuda.
__ADS_1
"Intan, kau salah besar, ternyata Yuda masih mencintaimu," Riko bergumam pelan sambil mendongakkan kepalanya ke atas.