Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Pergi Ke Kota


__ADS_3

Jedar!!!


Suara guntur bersahut-sahut di atas sana. Langit di sore itu berwarna hitam pekat, membuat sebagian orang mengira hari sudah malam. Para masyarakat di kampung tak berani keluar dari rumah kala petir sekarang memunculkan kilatan berwarna merah menyala.


Intan masih saja terus berlari di bawah guyuran hujan. Tubuhnya basah kuyup, cairan bening yang menetes sedari tadi bercampur dengan air hujan sekarang. Entah kemana kaki kurus itu melangkah, dia tak peduli dengan keadaan di sekitar yang bisa saja membahayakannya.


Ucapan Yuda tadi terngiang-ngiang di benaknya. Intan tak menyangka Yuda menalaknya. Kini ia begitu sedih karena tak ada lagi tempat untuk bersandar. Langkah kakinya terseok-seok seketika saat rasa sakit di kepalanya kembali menjalar. Secara bersamaan pula pandangannya mulai buram.


Bruk!


Intan ambruk di tempat seketika. Dengan posisi terlentang, ia memandang langit-langit di atas sana. Dadanya terlihat naik dan turun, isakan tangis masih terdengar dari bibir munggilnya.


"Ibu, Ayah, bawalah aku ke sana," ucap Intan lirih sambil menutup mata dengan perlahan.


"Non Intan!!!"


Suara seseorang yang Intan amat kenali mendekatinya. Sebelum menutup mata sepenuhnya, ia melihat Bik Inem terlihat panik memandanginya.


"Non! Bangun!!" teriak Bik Inem lagi. Wanita paruh baya itu terlihat gelisah, ketika Intan tak bergerak sedikitpun.


*


*


*


Di sebuah rumah sederhana kayu, terlihat seorang wanita bertubuh kurus tengah berbaring beralaskan tikar. Wajahnya nampak pucat pasi. Intan masih belum juga siuman setelah tadi di bawa Bik Inem dan anaknya ke rumah.


"Ada apa denganmu, Non Intan?" Sedari tadi Bik Inem duduk bersila di samping Intan. Dia sangat mengkhawatirkan mantan majikannya tersebut. Entah mengapa ia merasa ada yang tidak beres. Terlebih lagi kondisi Intan amat menggenaskan ketika ia temukan.

__ADS_1


Suara pintu terbuka terdengar seketika, lantas Bik Inem menoleh, melihat putri kandungnya membawa baskom berisi air hangat.


"Letakkan saja di situ," titah Bik Inem sambil menunjuk.


Sang putri mengangguk patuh, kemudian meletakan wadah tersebut di lantai. Setelah itu ia ikut duduk di samping Bik Inem. Memandangi wajah Intan yang semakin terlihat memucat.


"Eungh..." Intan melenguh tiba-tiba, membuat Bik Inem dan putrinya saling melemparkan pandangan satu sama lain.


Intan meringis sejenak kala sakit dikepalanya masih terasa. Dengan perlahan ia membuka mata, lalu mengedarkan pandangan. Melihat Bik Inem dan putrinya tersenyum tipis.


"Bik Inem.." Intan hendak bangkit duduk.


"Non, berbaringlah dulu, jangan duduk!" sergah Bik Inem cepat.


Intan mengurungkan niatnya kemudian merebahkan lagi kepalanya di bantal.


"Bibik tadi lihat Non pingsan di jalan, sewaktu bibik balik dari rumah keluarga di desa sebelah. Sebenarnya non kenapa bisa hujan-hujanan di luar? Ini kan agak jauh rumahnya dari rumah Den Yuda," cecar Bik Inem beruntun.


Mendengar nama Yuda di sebut, meleleh lagi air mata Intan. Kejadian beberapa jam lalu bagaikan mimpi, saat Yuda secara gamblang menalaknya.


Bik Inem kalang kabut, melihat Intan malah menangis. "Aduh, Non kenapa? Cerita sama bibik."


Intan tak langsung menyahut. Sedang memandang langit-langit kamar sejenak, masih mencoba menerima kenyataan yang telah terjadi jikalau dirinya sekarang seorang janda.


"Bu, sudahlah, tunggu Mbak Intan tenang, lebih baik kita suruh Mbak Intan makan dan beristirahat," kata putri Bik Inem.


Bik Inem menghela nafas berat lalu mengiyakan perkataan anaknya.


"Kalau begitu, Non makan ya, ini ada bubur buatan anak bibik, setelah itu minum lah obat," Bik Inem menunjuk nampan besar di sisi kanan berisikan semangkuk bubur yang masih mengepul, segelas air hangat, dan sebutir obat paracetamol.

__ADS_1


Intan mengangguk pelan.


Selepas kepergian Bik Inem dan putrinya. Intan tak langsung menyantap bubur. Dia bergeming di tempat. Suara gemercik air hujan masih terdengar di telinganya. Intan menghapus matanya yang masih basah kemudian menarik nafas panjang, berusaha menetralisir perasaannya yang kalut saat ini.


*


*


Setengah jam pun berlalu, Bik Inem kembali ke dalam kamar, ingin melihat keadaan Intan.


"Non," panggil Bik Inem.


Intan menoleh kemudian meletakkan mangkok tersebut ke atas nampan.


Bik Inem menghampiri lalu menyambar obat di nampan, dan duduk di samping Intan. "Minumlah obatnya juga, Non," ucapnya sembari menyodorkan obat kepada Intan.


"Non, maaf kalau Bibik terlalu ikut campur, mengapa Non di luar tadi hujan-hujanan, apa ada masalah di rumah?" tanyanya setelah melihat Intan selesai meneguk obat.


Intan menarik nafas dalam kemudian menundukkan wajah. "Bik, Mas Yuda sudah menalakku."


"Apa?" Bik Inem melebarkan mata seketika. "Bagaimana mungkin, Non, bukankah..." Gurat tidak percaya tergambar jelas di wajah Bik Inem. Dia sangat tahu jika Yuda amat mencintai istrinya tapi mengapa pria itu malah menalak Intan.


"Ini salahku Bik, Mas Yuda tidak lagi mencintaiku, dia lebih mempercayai keluarganya daripada diriku. Tadi ketika aku sakit kepala, aku tak sengaja hampir melukai anak Mas Yuda, namun Mbak Wulan malah menuduhku, mengatakan kalau aku mau menyakiti Amirah dan berakhir aku cek cok dengan Mbak Wulan. Mas Yuda malah membela Mbak Wulan, Bik, daripad diriku..."


Suara Intan terdengar bergetar, membuat Bik Inem reflek memeluknya. Cukup lama keduanya saling mendekap satu sama lain. Terlihat pundak Intan bergetar kuat, menahan sesak yang menjalar di relung hatinya.


"Semoga saja ada kebahagian untuk Non Intan, sekarang tinggallah di rumah bibik ya," ucap Bik Inem sambil mengurai pelukkan.


"Amin, tidak Bik, aku tidak mau merepotkan bibik, aku mau pergi ke kota, Bik," ujar Intan dengan menatap Bik Inem yang nampak terdiam sekarang.

__ADS_1


__ADS_2